Loading...

Rabu, 20 Juli 2016

loading...

Ada Apakah Gerangan Hingga Seorang Antropolog Indonesia, Angkat Bicara Tentang Kawasan BKB & Museum SMB Saat Ini? ...

    Rabu, Juli 20, 2016   No comments

Bkb
Pelataran BKB (Net)
PALEMBANG, SriwijayaAktual.com - Penutupan kawasan Banteng Kuto Besak (BKB) oleh Pemerintah Kota Palembang dari pedagang kaki lima (PKL) dan kendaraan umum mendapatkan komentar dari antropolog Frieda Amran. Dia menginginkan agar kawasan BKB dan Museum SMB  tidak diutak-atik.
Frieda Amran adalah salah seorang antropolog Indonesia yang memiliki perhatian besar pada kebudayaan Sumatera, khususnya wilayah Sumbagsel (Sumsel, Jambi, Bengkulu, Lampung). Alumnus Fakultas Sastra UI ini  lebih dari 30 tahun tinggal di Negeri Belanda. Jauh dari Tanah Air justru membuat analisis Frieda lebih obyektif dan jernih. Termasuk pandangannya tentang budaya  Sumsel.
“Gagasannya bagus. Di Eropa memang daerah-daerah kota tua biasanya bebas kendaraan. Ini untuk memudahkan orang berjalan kaki menikmati obyek-obyek cagar budaya dan juga untuk mengurangi pengaruh polusi kimiawi dari kendaraan pada bangunan cagar budaya itu sendiri,” kata Frieda, Selasa (19/7/2016).
Akan tetapi dia mempertanyakan bahkan agak kurang menyetujui dibebaskannya daerah itu dari pedagang. Soal Pemko Palembang yang akan membuat taman dan pembangunan Tugu Belido di pelataran BKB, menurutnya, ide pembuatan taman memang bagus, tetapi di mana dan seperti apa?
“Kawasan BKB dan Museum SMB sebaiknya tidak diutak-atik karena keduanya merupakan situs bangunan cagar budaya. Artinya, bukan hanya bangunannya saja yang dilindungi, tetapi juga kawasan di sekitarnya. Bukan hanya dibebaskan dari kendaraan saja, tetapi dibiarkan apa adanya tanpa perubahan, tanpa tambahan, atau pengurangan,” katanya.
Dikatakatan Frieda, yang diperlukan hanya perawatan untuk mengonservasi bangunan-bangunan itu. Dalam konteks ini, taman, walaupun bagus tapi mengubah kawasan dan lingkungan cagar budaya.
Hal kedua, pembangunan Tugu Belido. “Wah, tugu apa lagi itu? Tugu itu tidak pernah ada dan seharusnya tidak dibangun di sekitar kawasan cagar budaya. Lebih baik, biarkan pedagang berjualan menggunakan ikan Belido dan siapkan brosur mengenai Ikan Belido, buku masak dengan Ikan Belido dan di Pasar 16 disediakan pedagang Ikan Belido tapi jangan membangun Tugu Belido. Kalaupun tugu seperti itu mau dibangun, bangun lah di tempat lain, misalnya di dekat lapangan terbang supaya orang tahu bahwa dirinya memasuki kawasan Ikan Belida,” katanya.
Lagi pula, bila memang kawasan itu untuk wisata, tentunya para wisatawan akan ingin makan dan minum sambil menikmati sepoi Musi.
“Yang justru sangat bertentangan dengan pelestarian kawasan BKB dan museum sebagai situs cagar budaya dan obyek wisata Palembang sebagai kota pusaka adalah bangunan Ampera Convention Center, di depan museum. Dahulu kala, Sultan Palembang membangun keraton di tepian Musi, Residen Belanda membangun rumah dinas di tepian Musi dan benteng didirikan di tepian Musi karena tempat itu memberikan pemandangan lepas ke sungai, ke arah hulu maupun ke arah hilir,” katanya.
Didirikannya bangunan Ampera Convention Center justeru menyalahi pemikiran dan penataan wilayah itu karena bangunan itu menutupi pemandangan terbuka ke Jembatan Ampera (yang merupakan cagar budaya) dan Sungai Musi.  (*)

Source, Beritapagi
loading...

About Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
loading...