Loading...

Rabu, 24 Agustus 2016

loading...

Mantap !!! ... 2.700 Petani Sawit Swadaya Sumsel Raih Sertifikat RSPO, Dapat Akses ke Pasar Internasional

    Rabu, Agustus 24, 2016   No comments

Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Fakhrurozi menyerahkan sertifikasi RSPO kepala Ketua Perhimpunan Petani Swadaya Sapta Tunggal Mandiri yang menaungi 2.700 petani di Novotel Palembang, Selasa (23/8).


PALEMBANG-SUMSEL, SriwijayaAktual.com - Sebanyak 2.700 petani kelapa sawit swadaya di Sumatera Selatan berhasil meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dengan total luasan lahan mencapai 5.500 hektar. Dengan sertifikasi ini, produk sawit yang dihasilkan para petani dapat menembus pasaran Eropa dan Amerika.

Para petani tersebut bergabung dalam tujuh koperasi tingkat desa, yang berada di tiga kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam Perhimpunan Petani Swadaya Sapta Tunggal Mandiri.
Ketua Perhimpunan Petani Swadaya Sapta Tunggal Mandiri Amien Rohmad mengatakan, pihanknya telah produksi sebanyak 92.000 metrik ton tandan buah segar (TBS) bersertifikat. Dengan sertifikasi ini, pihaknya merasakan perbedaan dalam mengelola kebun sawit setelah mengikuti proses sertifikasi RSPO.

Bukan hanya kesejahteraan yang dapat diraih, dirinya menjelaskan, dengan melaksanakan kegiatan berkebun yang telah disertifikasi, petani pun dapat menghemat penggunaan pupuk dan obat-obatan.
“Kami jadi petani yang terlatih untuk tidak mengelola kebun secara asal-asalan. Awalnya banyak keengganan dalam melaksanakannya. Petani masih melakukan metode lama yang beresiko dalam hal keamanan. Namun setelah dibiasakan, justru metode yang tersertifikasi ini menjadi kebiasanan yang lebih baik,” tuturnya saat acara penganugerahan sertifikasi RSPO binaan Wilmar Group Indonesia di Hotel Novotel Palembang, Selasa (23/8/2016).

Amien menerangkan dengan adanya penerapan standar RSPO dalam mengelola kebun, maka petani bisa melakukan penghematan biaya produksi. Sehingga, petani tersebut bisa menyisihkan uangnya yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Empat dari tujuh koperasi yang tergabung dalam perhimpunan tersebut sebelumnya merupakan petani plasma binaan PT Tania Selatan milik grup Wilmar. Nantinya, penjualan produk sawit bersertifikat dari Sapta Tunggal Mandiri akan dilakukan melalui salah satu model rantai pasok RSPO, yakni mass balance.

Dia mengemukakan, perolehan sertifikat RSPO itu juga menunjukkan bahwa pengelolaan perkebunan sawit yang berkelanjutan bisa dilakukan petani swadaya.
Komisaris Wilmar Grup MP Tumanggor mengatakan, pencapaian perolehan sertifikat RSPO di Sumatra Selatan tersebut merupakan kelompok petani sawit swadaya terbesar di dunia.

“Untuk dapatkan sertifikat ini tidaklah mudah. Semua ada standarnya, bahkan untuk mengambil buah sawit saja harus berkacamata. Wilmar sangat konsen terhadap pencapaian petani ini agar sawit kita bisa diterima pasar Eropa dan imbas akhirnya adalah kemakmuran petani sawitnya sendiri,” katanya.

Menurutnya, upaya untuk mendukung petani sawit mandiri dan memastikan kesadaran para petani sawit terhadap industri kelapa sawit yang berkelanjutan merupakan tantangan tersendiri. Tumanggor menilai, peran petani menjadi sangat penting untuk industri minyak kelapa sawit karena petani berkontribusi sekitar 40 persen dari total produksi minyak sawit dunia.

“Dengan sertifikasi ini, adanyan black campaign yang terjadi dengan kelapa sawit dibantah dengan aksi para petani sendiri. Petani membuktikan bahwa mereka tidak membakar lahan mereka sendiri. Kalau mereka membakar lahan, tentu sertifiasi RSPO ini tidak akan mereka dapatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Fakhrurozi mengatakan, Koperasi Sapta Tunggal Mandiri membuktikan bukan hanya perusahaan perkebunan saja yang bisa mendapatkan prinsip dan kriteria RSPO.

“Ini berarti perkebunan petani swadaya telah mengikuti dari sisi legalitas, teknis budidaya, sisi sosial ekonomi dan lingkungan yang baik dan sesuai standar. Raihan ini bisa menjadi pemicu petani lain untuk meraih RSPO. Ini penting untuk kedepannya bagi seluruh petani,” jelasnya.

Selama ini, ujarnya, banyak kampanye hitam tentang sawit yang merusak lingkungah dan lainnya. Petani pun banyak disalahkan akibat kebakaran hutan dan lahan yang tidak beralasan. Diberikannya sertifikat ini, tuturnya, dengan sendirinya menampik isu dan pencitraan buruk tersebut.

Dirinya menuturkan, Provinsi Sumsel memiliki luas wilayah 8,7 juta hektar dengan 8,1 juta penduduk.  Dari jumlah tersebut, 39,16 persen atau 3,4 juta hektar merupakan lahan perkebunan. seluas 2,6 juta hektar yang telah dimanfaatkan menjadi kebun.

Dari 2,6 juta hektar tersebut, seluas 1,9 juta hektar merupakan kebun rakyat, hampir 70 persen dari keseluruhannya. Saat ini lahan perkebunan sawit di Sumsel telah mencapai satu juta hektar. sebanyak 55 persen dikelola perusahaan, 45 persen dikelola swadaya oleh petani, baik yang bermitra maupun mandiri.

Luasan 450.000 hektar itu menghidupi sekitar 225.000 kepala keluarga (KK). Apabila satu KK itu empat anggota keluarga, sudah satu juta masyarakat lebih yang hidup mengusahakan langsung dari kelapa sawit. Belum lagi SDM yang ada di pabrik perusahaan dan di sektor transportasi lainnya.

“Pembangunan perkebunan telah menuntaskan kemiskinan dan pembangunan. Meningkatkan produksi bahan baku penyerapan tenaga kerja dan meningkatan devisa melalui ekspor. Pengembangkan terus ditingkatkan, ditambah dan mantapkan sesuai tuntutan kebutuhan yang berubah dinamis,” jelasnya.

Sementara itu Sustainability Manager Wilmar Indonesia Alfat Agus Salim mengatakan, pihaknya memang concern mengembangkan sertifikasi untuk kebun sawit masyarakat. “Kami sudah melakukan pembinaan sertifikasi RSPO bukan cuma di Sumsel saja. Melainkan Jambi, Sumatra Utara, Riau dan Bengkulu juga,” ujarnya.

Dia menambahkan perusahaan juga telah menargetkan bisa menggaet lagi 3.000 petani sawit swadaya di Sumsel untuk menjadi binaan Wilmar dalam peraihan sertifikasi itu. “Targetnya ada 3.000 petani lagi dengan luasan lahan 6.000 hektar di Sumsel yang akan kami bina sampai tahun depan,” katanya.

Wilmar sendiri mengklaim pencapaian 2.700 petani di Sumsel menjadikan para petani itu menjadi kelompok petani swadaya terbesar di dunia yang mendapat sertifikat berkelanjutan RSPO.

Sementara itu Smallholder Programme Manager RSPO, Julia Majail, mengatakan para petani swadaya dapat meningkatkan produktivitas, keuntungan dan mendapatkan akses ke pasar internasional setelah mendapat sertifikat RSPO.
“Selain itu pada saat yang bersamaan juga petani bisa melindungi lingkungan melalui penerapan praktik perkebunan yang baik,” katanya.

Hingga kini, RSPO telah membantu 113.673 petani untuk mendapat sertifikat dan memfasilitasi kemitraan antara petani kecil, LSM dan sektor swasta. Adapun total lahan petani sawit yang telah mendapat sertifikasi RSPO seluas 263.371 hektar. (#idz/BP).
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
loading...