Loading...

Senin, 15 Agustus 2016

loading...

Nilai Tukar Petani Tidak Sebanding Indeks Harga Yang Dibayar Petani, "Yang Miskin Semakin Miskin"

    Senin, Agustus 15, 2016   No comments

Loading...
Tatapan Kosong Dari Seorang Petani Padi  (Ilustrasi)
JAMBI, SriwijayaAktual.com  - Rendahnya pendapatan petani membuat kondisi ekonomi masyarakat desa semakin terpuruk. Hal ini dikeluhkan oleh Dulah, warga Batanghari yang berprofesi sebagai petani karet dan juga mengojek. Pekerjaan mengojek dilakoninya dua hari sekali, diselingi dengan rutinitasnya sebagai penyadap getah karet. 
“Sekarang ekonomi makin sulit, getah karet yang disadap harga jualnya rendah sekali. Ngojek pun sekarang mulai susah, karena masyarakat yang ramai bepergian ke pasar hanya pada hari minggu saja,” keluhnya.

Sulitnya mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya mendorong Dulah untuk menjual tanah kebun miliknya.
“Untuk mencukupi biaya pendidikan anak sekolah, mau tidak mau harus jual kebun. Ini jualnya pun susah, sudah ditawarin kemana-mana masih belum laku juga. Padahal sudah jual murah,” lanjutnya.

Kondisi semakin miskinnya masyarakat pedesaan dapat dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Nilai ini juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP,secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Jambi pada Juli 2016, menurut Kepala BPS Provinsi Jambi, Dadang Hardiwan NTP Provinsi Jambi turun sebesar 1,04 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu dari 99,18 menjadi 98,15. Artinya pendapatan yang diterima petani masih lebih rendah dari biaya produksi yang dikeluarkan.

Penurunan NTP pada Juli 2016 kata Dadang disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian turun sebesar 0,26 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,79 persen.

“Kenaikan NTP terjadi pada dua subsektor yaitu subsektor Hortikultura naik sebesar 1,12 persen dan subsektor Perikanan naik sebesar0,47 persen. Sedangkan penurunan indeks terjadi pada subsektor Tanaman Pangan yaitu sebesar 1,14 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,82 persen, dan subsektor Peternakan turun sebesar 0,64 prsen,” lanjutnya.

Pada bulan Juli 2016 pun terjadi perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) Perdesaan mencerminkan angka inflasi atau deflasi di wilayah perdesaan. “Pada Juli 2016, IHK di wilayah perdesaan Provinsi Jambi sebesar 125,52 atau terjadi inflasisebesar 0,99 persen,” ujar Dadang.

Waduh Kok Gak Netes-Netes Ini Getah Karet (Ilustrasi).
Jika dilihat menurut kelompok konsumsi rumah tangga, inflasi terjadi pada enam kelompok pengeluaranyaitu kelompok Bahan Makanan sebesar 1,97 persen; kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,28 persen. Kelompok Perumahan sebesar 0,12 persen; kelompok Sandang sebesar 0,49 persen; kelompok Kesehatan sebesar 0,40 persenserta kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga sebesar 0,28 persen. Sedangkan deflasi terjadi padakelompok Transportasi dan Komunikasi sebesar 0,11 persen.

Sedangkan penurunan NTUP (Nilai Tukar Usaha Pertanian) Provinsi Jambi dipengaruhi oleh turunnya NTUP yang cukup besar pada tiga subsektor. Penurunan NTUP pada tiga subsektor tersebut adalah pada subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,25 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,07 persen, dan subsektor Peternakan sebesar 0,09 persen. Sedangkan NTUP naik pada dua subsektor yaitu subsektor Hortikultura sebesar 1,64 persen dan subsektor Perikanan sebesar 1,19 persen.

“Pada Juli 2016,Nilai Tukar Petani di seluruh provinsi se-sumatera turun. Nilai Tukar Petani Provinsi
Jambi berada pada urutan kelima diantara sepuluh provinsi se-Sumatera. NTP tertinggi di Provinsi Lampung sebesar 104,25 sedangkan NTP terendah di Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 91,64,” bebernya.

Jika dilihat dari perubahan NTP pada Juli2016 terhadap bulan sebelumnya, penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bangka Belitungyaitu sebesar 1,67 persen. Nilai Tukar Usaha Pertanian Provinsi Jambi pada Juli2016 berada pada urutan ketujuh diantara sepuluh provinsi se-Sumatera. Untuk NTUP tertinggi di Provinsi Lampung yaitu sebesar 113,03 dan kenaikan NTUP tertinggi yaitu di Provinsi Kepulauan Riau yaitu sebesar 0,13 persen.(*).


Sumber, Jambi Independent
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...