Loading...

Sabtu, 06 Agustus 2016

loading...

Reshuffle Jilid II, Antara Janji & Mimpi

    Sabtu, Agustus 06, 2016   No comments

Loading...


Oleh, Widodo SH, Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum  Mahasiswa Islam (LKBHMI) PB HMI, Departeman Kebijakan & Perundang-Undangan
SriwijayaAktual.com - Baru dua tahun berjalan roda pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sudah melakukan dua kali perombakan besar-besaran ditubuh pemerintahan pusat, hal ini memiliki begitu banyak pandangan baik pandangan negative juga pandangan yang positif, hal itu menjadi lumrah dikarnakan Indonesia merupakan Negara demokrasi yang memungkin semua orang memberikan tanggapan atas apa yang terjadi saat ini, setidaknya ada 13 menteri yang di reshuffle oleh kebijakan Presiden Jokowi jilid II, hal ini seperti memperlihatkan bahwa porsi kekuatan politik jokowi semakin kuat, dapat dilihat dari maneuver yang dilakukan dalam memenuhi hasrat para petinggi partai koalisi untuk menduduki tangkup kekuasaan dalam pemerintahan, dengan apik jokowi mampu mengakomodasi semua keperluan gerbong-gerbong yang ada dalam barisan pemerintah, seperti Asman Abnur yang dilantik menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi menggantikan Yuddy Chirsnandi.  jika dilihat dari segi politik Asman Abnur merupakan representasi dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang beberapa waktu lalu menyatakan dukungan politiknya kepada pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla, begitu juga dengan Airlangga Hartarto yang menjabat sebagai Menteri Penindustrian yang merupakan representasi dari Partai Golkar yang juga menyusul PAN merapatkan dukungan politiknya kepada cabinet Jokowi-Jusuf Kalla, terlebih lagi ketua umum GOLKAR Setya Novanto sudah memberikan sinyal kuat untuk maju sebagai wakil presiden mendampingi jokowi pada pemilu 2019 mendatang. 

Dari Reshuffle yang dilakukan selalu memberikan sebuah tanda Tanya besar bagi masyarakat apakah reshuffle yang dilakukan oleh presiden tersebut dikarnakan kinerja yang dilakukan para menteri yang direshuffle tidak atau belum maksimal ?? ataukah karna kepentingan politik presiden dalam mengakomodasi keperluan partai koalisi??. Karna jika ditelusuri setidaknya kepemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sudah melakukan Reshuffle sebanyak dua kali dalam waktu yang relative singkat,  hal ini mengambarkan ada berebagai macam stigma dalam kepemerintahan dalam kepemimpinan jokowi. 


Di satu sisi lain jokowi seperti melihatkan keteguhannya dalam kancah politik nasional, hal itu terlihat dari kepiawaiannya memfasilitasi semua kepentingan dalam satu ritme, sebagaimana yang terlihat dari menguatnya control otonom dalam pelaksanaan kekuasaat untuk mengangkat Kapolri, Panglima TNI dan lain sebagainya tanpa ada intervensi dari pihak luar. Sedangkan di sisi yang lain jokowi seperti diuji oleh otoritas kepemimpinan sebagai seorang presiden dalam dimensi kepartaian, dimana dalam struktur Negara jokowi adalah seorang presiden namun tidak demikian dalam struktur kepartaian. Walau bagaimanapun piawainya jokowi dalam kepemimpinannya terhadap fraksi-fraksi dan elite politik tidak dapat serta merta melepaskan image ketundukannya kepada elite partai yang menjadikan cap sebagai presiden boneka sulit untuk dilepaskan, dapat dilihat dua kali melakukan reshuffle jokowi seperti tidak memiliki daya dalam masalah ini.


Reshuffle yang dilakukan presiden jokowi juga memberikan sinyalemen tabrakan kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri yang sudah direshuffle, bukan tidak mungkin nantinya kebijakan menteri yang lama dan yang baru dilantik akan mengalami sebuah gesekan, karna tipikal kepemimpinan dalam menjalani sebuah jabatan tidak dapat dilihat dalam satu waktu begitu saja, melainkan dengan melalui proses yang secara structural berjalan dengan baik. Dari 13 menteri yang direshuffle diantaranya adalah Menteri Pendidikan dimana carut marut pendidikan di Indonesia saat ini bila dicermati salah satunya adalah karna peraturan pendidikan yang selalu berubah jika menteri pendidikannya berubah dan hal ini sudah tidak asing lagi siapapun yang menjadi menteri bukannya mempertahankan peraturan yang baik dari masa sebelumnya malah mengeluarkan peraturan baru, sedang Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi juga memiliki pe er yang sangat besar karna sumber kekuatan ekonomi bangsa ini berada pada kekuatan desa, jangan sampai desa menjadi lemah tidak memiliki daya karna sudah begitu banyak investor yang masuk kedalam desa-desa dan daerah tertinggal. 


Begitu juga dengan Archandra Tahar  diangkat menajdi Menteri ESDM yang mana merupakan ahli dalam pengeboran lepas pantai (offshore) dan sudah berselancar belasan tahun juga merupakan sosok dibalik negosiasi penarikan Blok Masela ketangan Indonesia dengan memutuskan eksplorasi harus dilakukan onshore bukan offshore. Yang jadi pertanyaan besar apakah menteri ESDM yang baru juga dapat menarik dan mengembalikan sumber daya energy dan sumber daya mineral yang sudah dikuasai pihak asing selama ini kedalam tangan bangsa Indonesia?? Sebuah jawaban yang berat yang harus dijawab dikarnakan sumber daya energy dan sumber daya mineral bangsa ini sudah tergadaikan dengan adanya politik balas budi, toh nyatanya balas budi yang dimaksud dalam dunia politik tersebut seperti kebablasan, tidak perlu jauh-jauh untuk melihat kemewahan PT Freeport yang sudah berpuluh tahun mengeruk harta kekayaan di Timur Indonesia, lihat saja yang ada didaerah-daerah terpencil namun memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar juga tidak terkoorinir dengan baik oleh pemerintah, dikarnakan permainan spekulasi pemodal lebih besar daripada kesamarataan dalam mewujudkan kesahteraan social, belum lagi pemerintah dalam hal ini seperti setengah hati membiarkan kelompok masyarakat yang melakukan ekplorasi secara manual, dan setengah hatinya lagi pemerintah membiarkan hal itu terjadi guna menguatkan pondasi-pondasi investor yang menampung hasil alam tersebut. Walaupun dalam peraturan pemerintah sudah mengeluarkan undang-undnag namun yang terjadi ditengah masyarakat adalah kebalikan dari undang-undnag itu sendiri dan bahkan bukan tidak mungkin pemerkosaan undang-undang tersebut dilakukan juga oleh sebagian kalangan pemerintah.

Dalam reshuffle  yang telah dilakukan Presiden Jokowi terlihat dapat mengakomodasi sebagaina dari aspirasi PDIP, meski masih terbatas dan belum bisa mewujudkan dream team di pemerintahan, namun reshuffle kali ini telah mengirimkan sinyal bagus secara politik, bahwa Presiden memiliki keberanian untuk membongkar pasang kabinetnya.  Presiden terlihat tidak tersandera oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada, sehingga pengangkatan menteri-menteri baru tidak disertai dengan akrobat dan manuver politik yang menimbulkan kegaduhan. Presiden juga terlihat memiliki otonomi dalam memutuskan beberapa nama untuk diganti atau dipertahankan. 

Reshuffle jilid II ini seperti memiliki banyak spekulasi dan tanda Tanya baik dikalangan pengamat dan juga masyarakat, setidaknya dari beberapa menteri yang diganti menunjukkan bahwa kancah perpolitikan Indonesia saat ini memasuki fase yang sangat sensitive dimana setiap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan dapat berpengaruh pada jalannya roda pemerintahan baik untuk saat ini ataupun untuk pemerintahan yang akan datang, apakah yang dihasilkan dari sebuah kebijakan dan keputusan itu nantinya baik untuk bangsa dan Negara juga masyarakat atau sebaliknya, nmaun paling tidak Presiden dalam hal ini dapat melihat dan menyadari bahwa masyarakat saat ini ibarat berlian yang baru diangkat dari  kedalaman tanah yang masih harus dibersihakn, hendaknya Presiden dan pemerintah saat ini dapat menjadi pengkilap atau pengerajin berlian tersebut sehingga dapat bertambah indah, mahal dan bermartabat masyarakat bangsa Indonesia yang besar ini. Insya Allah. (Adm). 

Baca Juga; ADD Antara Realita dan Prasangka
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...