Loading...

Sabtu, 10 September 2016

loading...

Guru Produktif di Jatim Untuk SMK Masih Kurang, La Terus Bagaimana Strategi Jitu Solusinya? Ya Ini ...

    Sabtu, September 10, 2016   No comments

Loading...
(Ilustrasi)
SURABAYA-JATIM, SriwijayaAktual.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Timur (Jatim). sambut gembira, mengenai kabar tentang akan adanya pendidikan untuk guru-guru adaptif menjadi guru produktif.
Pasalnya, pemerintah dianggap memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat SMK.

Ketua PGRI Jatim Ichwan Sumadi mengatakan, hampir semua kabupaten/kota di Indonesia alami kekurangan guru, dan kekurangannya merata yaitu ada di tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.
"Namun, sekolah kejuruan sendiri yang paling banyak kekurangan guru produktif. Kalau ini tidak dipenuhi, kita khawatir guru hanya mengajar teori tanpa praktik,” kata Ichwan, seperti dilansir oleh  Beritajatim, Jumat (9/9/2016).

Ia menambahkan, diketahui SMK saat ini lebih mengutamakan praktik dibanding teori. jika kekurangan guru produktif terus terjadi maka bisa menghambat. “Jadi harus dipenuhi guru produktif sesuai kebutuhan. Pemerintah harus bertanggung jawab memenuhi kekurangan guru ini. Kalau tidak segera dipenuhi maka akan hancur,” terang Ichwan.

Mengenai guru honorer, Ichwan mengusulkan agar pemerintah mengangkat para guru honorer dalam memenuhi kebutuhan guru produktif menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS). “Sebagai langkah lain selain pendidikan guru adaptif. Hendaknya pemerintah memikirkan itu, karena  tidak sedikit guru honorer yang masuk pada kelompok guru produktif,” tutur Ichwan.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Menengah Kejuruan dan Pendidikan Tinggi Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Hudiyono menyatakan, SMK di Jatim saat ini memiliki sekitar 3.400 paket keahlian. Dan ada sekitar 1.400 paket keahlian terakreditasi A. 

"Untuk peningkatan mutu di SMK didukung oleh sekitar 71 ribu guru produktif. Tapi jumlah ini masih kurang,” papar Hudiyono.

Saat ini, tambahnya. Untuk menutupi kekurangan guru produktif, banyak SMK yang menggunakan tenaga dari kalangan industri. Sehingga dapat membengkakkan biaya operasional sekolah. 
"Saya mendukung langkah dari pemerintah yang menggeser guru normatif menjadi guru produktif, karena itu sebuah langkah bagus. Apalagi kita masih kekurangan guru produktif untuk mengisi 3.400 paket keahlian,” urai Hudiyono.

Dalam waktu dekat, sebagai langkah yang secara tidak langsung membuat guru adaptif menjadi guru produktif, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim akan membuat peraturan tentang pendidikan sistem ganda dan teaching factory di SMK, untuk mengikat kalangan industri dengan SMK.

"Sehingga, guru-guru di SMK dapat menerima pengalaman langsung dari industri untuk diaplikasikan ke sekolah. Karena saat ini, tidak menutup kemungkinan SMK harus menjadi miniatur industri. Hal ini tentu tidak lepas dari kurikulumnya yang linier dan sinkron dengan industri. Termasuk trainer dari industri itu pengalamannya harus sampai ke guru SMK,” tandas Hudiyono. (*).
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...