Loading...

Kamis, 22 September 2016

loading...

Ini ....Penyebab Banjir Bandang di Garut

    Kamis, September 22, 2016   No comments

Loading...
Banjir Bandang di Garut (Ist)
JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menilai banjir bandang yang menyapu beberapa daerah di Garut dipicu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang kritis.

Kawasan Sungai Cimanuk ditetapkan sebagai DAS kritis sejak 1980-an. " Sungai Cimanuk sudah cukup lama semenjak sebagai DAS kritis," ucap Sutopo, di kantor BNPB pusat, Jakarta Timur, Rabu (21/09/2016).

Sutopo mengatakan kerusakan tersebut diakibatkan beberapa faktor. Di antaranya banyaknya lahan pertanian yang dibangun tanpa memperhatikan aspek konservasi tanah dan air, pemukiman penduduk yang meningkat serta sedimentasi sungai.

"Sedimentasi lapang (sediment yield), di DAS Sungai Cimanuk per tahunnya mencapai 6.350 ton per kilometer persegi," kata dia.

Dengan kondisi seperti itu, dalam setahun sebanyak 12,7 juta meter kubik sedimen terdeposisi ke Laut Jawa. Kondisi itu jauh lebih parah daripada sedimentasi Sungai Gangga, India.
"60 kali lebih buruk ketimbang Sungai Gangga," ucap dia.

Berdasarkan data yang diperoleh Sutopo, luas lahan pertanian di sekitar aliran Sungai Cimanuk mencapai 18 persen dan lahan untuk tambak 4 persen. Adapun lahan untuk perkebunan mencapai angka 31 persen.

Sedangkan lahan untuk pemukiman warga tercatat mencapai 5 persen. Meski begitu, kepadatan penduduk itu terus meningkat dalam beberapa tahun.
"Pada 1995, penduduk di DAS Sungai Cimanuk tercatat 3,8 juta jiwa. Pada tahun ini, diperkirakan 5 juta jiwa," ujar dia.

Bukti kerusakan DAS Sungai Cimanuk juga tercatat dalam disertasi mengenai sungai-sungai di Pulau Jawa yang dia buat. Dengan parameter hidrologi Koefisien Rezim Sungai (KRS), Sungai Cimanuk menempati posisi terburuk

KRS dihitung dengan memperbandingkan debit maksimum dengan debit minimum air sungai. Untuk kategorisasinya, KRS diukur menggunakan tiga skala.
"Suatu DAS dikatakan baik jika KRS-nya kurang dari 40, kategori sedang 40-80, dan buruk lebih dari 80," ujar dia menjelaskan.


Berdasarkan perhitungan KRS, Sungai Cimanuk mendapat nilai 713. Nilai tersebut lebih tinggi dibanding Sungai Bengawan Solo (nilai 541), Sungai Brantas (nilai 205), Sungai Ciujung (nilai 189,5), Sungai Serayu (nilai 165), Sungai Cisadane (nilai 143), Sungai Citandui (nilai 111) dan Sungai Citarum (nilai 92). (*)
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...