Loading...

Kamis, 29 September 2016

loading...

Orasi Kebudayaan Menghayutkan 'Telinga Bathin', Warga Bukit Duri Yang Gagal Lawan Penggusuran

    Kamis, September 29, 2016   No comments

Loading...
Pembongkaran Bangunan Bukit Duri (Antara)
JAKARTA, SriwijayaAktual.comRatusan polisi, tentara dan anggota Satpol PP DKI dikerahkan untuk menggusur kawasan bantaran Kali Ciliwung, Bukit Duri, sedangkan warga menggelar aksi perlawanan melalui orasi kebudayaan. 

Orasi kebudayaan ini dilaksanakan di Jalan Bukit Duri Pangkalan, Jakarta Timur. Massa berasal dari warga RW 9,RW 10, RW 11, RW 12. Mereka berorasi sambil berdiri di pinggir jalan memajang spanduk bertuliskan "Aksi Damai Tanpa kekerasan: Ciliwungnya Kita, Bukit Duri Tumbal Pembangunan Jakarta". Tampak pita merah putih melekat di lengan kiri  laki-laki, perempuan, hingga anak-anak peserta aksi.

Terlihat pula spanduk lain bertuliskan 'Rakyat Bermartabat, Pemprov DKI Bermuslihat', 'Aksi Damai Tanpa Kekerasan', 'Ciliwung Nyawa Kita', dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, tim pemusik di atas motor bak roda tiga berspeker memandu massa ikut aktif bernyanyi dengan bergandengan tangan dengan lagu nasional.

Ratusan orang itu dipimpin Ketua Komunitas Ciliwung Merdeka sekaligus kuasa hukum warga Bukit Duri, Jakarta Selatan Sandyawan Sumardi. Pria yang dikenal dengan sapaan Romo Sandy terpantau terus berorasi menyemangati warga sambil sesekali memimpin warga menyanyikan yel-yel perjuangan. Ikut pula Sejarahwan JJ Rizal dan Jaya Suprana, budayawan sekaligus pendiri MURI dalam aksi penolakan.

Tak Ada Perlawanan Fisik
Tak jauh dari dari massa, dua ekskavator memasuki wilayah Bukit Duri dan mulai merobohkan rumah dan bangunan milik warga. Ratusan anggota Satpol PP bergerak maju membantu meratakan puing-puing yang tersisa.
Namun tak ada perlawanan fisik dari warga. Hanya teriakan Allahuakbar warga bergema mengiringi barisan Satpol PP dan alat berat masuk ke perkampungan untuk meluluh-lantahkan rumah mereka.


11 Rumah Tidak Ikut Dirobohkan
Camat Tebet Mahludin menjelaskan dalam penggusuran kali ini melibatkan 550 personel gabungan dari TNI, Polri, dan Satpol PP Jakarta Selatan. Namun, hanya jajaran Satpol PP yang diizinkan masuk ke wilayah Bukit Duri untuk melakukan penggusuran.

Keberadaan TNI dan Polri diklaim hanya berfungsi untuk mengantisipasi jika terjadi kericuhan massa. "Tim TNI dan Polri juga akan turun untuk jadi penengah," kata Camat, saat ditemui di lokasi, (28/9/2016) pagi tadi.

Mahludin memastikan rumah 11 warga yang berada di RW 10 tidak ikut digusur karena memiliki bukti sertifikat. Ke-11 rumah itu baru akan digusur setelah urusan ganti rugi lahan dengan Pemprov selesai dibayar.
"Penertiban tidak berlaku bagi warga yang memiliki sertifikat yang ada di RW 10, sebanyak 11 bidang karena bukti sertifikat telah diserahkan ke BPN Jakarta Selatan," tegas dia.

Dalam rapat teknis sebelumnya, Camat membeberkan ada 313 warga yang sudah menempati rumah susun Rusun di Rawa Bebek, Jakarta Timur. Masih ada 70 rusun yang belum diambil oleh warga. Tercatat ada 68 Kepala Keluarga (KK) menolak relokasi, dengan rician 52 di antaranya punya peta bidang dan 14 lainnya tidak punya peta bidang.


Pengalihan Arus
Selama proses penggusuran diberlakukan pengalihan arus lalu lintas. Pengalihan arus lalu lintas untuk saat ini, meliputi, Jalan Pangkalan, Bukit Duri Selatan dari arah Manggarai menuju Jatinegara ditutup dialihkan melalui jalan Bukit Duri Tanjakan, begitu juga sebaliknya.

Sementara dari arah Kampung Melayu atau Jatinegara yang akan ke Jalan Pangkalan Bukit Duri Selatan atau ke arah Manggarai ditutup dialihkan lurus menuju Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. (Red/Rimanews).
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...