SOLO-JATENG, SriwijayaAktual.com  - Bahaya banjir sewaktu-waktu bisa datang karena Solo termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang kondisinya tergolong kritis. Kenyataan ini mendorong Mohtar Yunianto SSi MSi untuk merancang alat deteksi pengukur ketinggian air. Setiap terjadi kenaikan permukaan air, alat yang diberi nama SMaRT FEWS memberikan laporan melalui Short Message Service (SMS) maupun di website.
 
Mohtar telah 4-5 tahun lalu menemukan alat deteksi banjir. Sementara ini ia telah memasang di 10 titik untuk memantau ketinggian air baik di kawasan Bengawan Solo, Ponorogo maupun Pati. Ia terus berupaya untuk menyempurnakan laporan tentang ketinggian air. Selain melaporkan dalam bentuk angka juga gambar.

Staf pengajar Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret  (UNS) Solo ini optimis melalui SMaRT FEWS korban bencana akibat banjir bisa ditekan. Bagaimana untuk banjir bandang seperti di Garut Jawa Barat, Mohtar menjawab juga bisa diatasi. Tentu saja perlu dilakukan integrasi sejumlah alat deteksi. Selain deteksi banjir yakni deteksi longsor dan curah hujan.

Karena banjir bandang salah satunya disebabkan tingginya curah hujan. Sementara sebelum terjadinya longsor, biasanya ada tanda-tanda yang terlihat. "Jadi bencana banjir atau banjir bandang serta longsor bisa dideteksi melalui alat. Dengan adanya peringatan dini dari alat itu kita bisa mengantisipasi untuk menekan adanya korban jiwa."

Alat deteksi banjir temuannya dirancang menggunakan tenaga surya. Jadi dalam kondisi apapun alat itu bisa berfungsi karena setiap hari mendapat suplay daya dari sinar Matahari. Sebenarnya selama ini pihak pengelola sungai sudah memasang alarm banjir. Namun ketika kondisi air naik alarm tidak berfungsi. Keluhan para penjaga pintu dan warga ditangkap Mohtar dan dibuatlah SMart FEWS yang laporannya langsung ditangan mereka.


Atas riset deteksi tentang ketinggian air, Mohtar Yunianto SSi MSi mendapatkan penghargaan dari UNS yang diserahkan Ketua LPPM Prof Drs Sulistyo Saputro PhD dalam Lokakarya nasional Strategi Pemasaran Produk Hasil Riset dalam menghadapi pasar bebas Asean di Hotel Dana Solo, Selasa (27/9/2016). Ada tiga peneliti yang mendapatkan penghargaan, selain Mohtar adalah Drs Iwan Yahya MSi (riset menekan kebisingan) dan Ahmad Marzuki MSi PhD (Sensor bobot kendaraan berjalan). (Red/krjogja)