Minggu, 02 Oktober 2016

Asal Mula ... Batik Tulis Giriloyo, Dari Sejak Pembangunan Makam Raja-Raja, Hingga Saat Ini Masih Ada Pembatik Tertua di Giriloyo

    Minggu, Oktober 02, 2016   No comments

Gapura Masuk Makam Raja-Raja Mataram Di Imogiri (Ist)
BANTUL-DIY YOGYAKARTA, SriwijayaAktual.com - Sebagai  warisan budaya, batik sudah akrab dengan masyarakat Giriloyo sejak abad 17. Melalui batik, lebih dari 600 orang menggantungkan hidupnya.

Menurut pemaparan Nur Ahmadi, Ketua II Paguyuban Batik Giriloyo, cikal bakal membatik bermula dari pembangunan makam raja di Imogiri. Kala itu Kerajaan Mataram tengah membangun makam, sulitnya transportasi membuat orang-orang dari Kerajaan Mataram harus menginap di pemukiman warga Giriloyo.

Karena sering menginap, interaksi yang terjalinpun semakin akrab. “Orang-orang itu yang kemudian mengajari nenek moyang kami cara membatik,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (29/9/2016) di Show Room Batik Tulis Giriloyo.

Pada tahun 1981 berdirilah sebuah kelompok batik yang kini merupakan kelompok tertua yaitu kelompok Batik Bimasakti. Adanya kelompok Batik Bimasakti ternyata belum cukup untuk menampung pembatik dari dua dusun di sekitarnya, yaitu Dusun Cengkehan dan Dusun Karang Kulon.

“Mayoritas penduduk di tiga dusun ini adalah pembatik, tidak heran setelah itu muncul kelompok-kelompok untuk mewadahi para pembatik,” paparnya. Kampung Batik Tulis Giriloyo kini sudah memiliki 12 kelompok yang mampu mewadahi seluruh pembatik yang ada di Giriloyo dan sekitarnya.

Dalam perjalanannya Kampung Batik Giriloyo juga mengalami pasang surut. “Setelah sempat jaya, pada tahun 2006 kami collapse karena gempa,” terangnya. Kemudian pada 27 Mei 2007 mereka membuat gerakan kebangkitan batik dengan membuat slendang terpanjang yaitu 1.200 meter. Disini merupakan titik balik usaha batik Giriloyo. Pada hari yang besamaan bedirilah Paguyuban Batik Giriloyo ini.

Sampai dengan saat ini Paguyuban Batik Giriloyo berhasil meingkatkan pendapatan pembatik. Tak hanya melalui penjualan batik, paguyuban ini juga memberdayakan masyarakat pada program paket belajar membatik bagi pegunjung. “Dalam satu tahun lebih dari 15.000 orang datang kemari untuk belajar membatik, biaya untuk sekali belajar adalah Rp.25.000 hingga Rp.50.000 jika dikalikan sudah banyak keuntungan yang didapat dari paket belajar membatik ini,” katanya sambil tersenyum.

Mbah Darisman Alias Mbah Darwis (87 Tahun) Sedang  Membatik
Di dusun ini juga terdapat salah satu pembatik tertua. Namanya adalah Mbah Darisman  (87Tahun) yang akrab dipanggil Mbah Darwis. Mbah Darwis, wanita lanjut usia  sudah membatik jauh sebelum Indonesia merdeka dan  sejak remaja sudah gemar membatik enggan untuk meninggalkan kegiatan ini. Ia mengaku bahwa ia tidak akan berhenti membatik. “Saya akan tetap membatik sepanjang hidup saya,” uangkapnya.

Karya-karya Mbah Darwis ternyata juga di pasarkan di Show Room Paguyuban Batik Tulis Griloyo yang dikelola oleh Nur Ahmadi. “Disini juga jualan batik karya simbah-simbah, meski tidak sehalus karya pembatik lain yang lebih muda tetapi batik-batik hasil karya mbah Daris masih layak jual. Ini juga bisa dijadikan alternatif bagi pengunjung yang mau membeli batik tulis tapi harganya tidak terlalu mahal,” paparnya.

Jika batik-batik tulis yang lain dijual antar Rp.500.000 hingga Rp.1.000.000, batik hasil karya orang-orang lanjut usia ini dijual Rp.250.000. “Showroom ini milik bersama, jadi karya siapapun bisa masuk sini, termasuk punya mbah Daris.” Pungkasnya. (*)


Source, KRjogja
loading...
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner