Rabu, 05 Oktober 2016

Indonesia Diposisi Peringkat ke-71 Dalam Keamanan Pangan

    Rabu, Oktober 05, 2016   No comments

Padi (Istimewa)
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Permasalahan ketahanan pangan masih menjadi hal yang perlu banyak dibenahi, pasalnya Indonesia masih menempati peringkat ke-71 dari 113 negara pada 2016 dalam indeks keamanan pangan.

Dalam indeks yang disusun oleh The Economist, negara tetangga Indonesia, Singapura menempati peringkat ketiga, Malaysia berada di peringkat ke-35, Thailand di peringkat ke-51, diikuti Vietnam yang menempati peringkat ke-57.
Menurut Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung, inflasi harga pangan berkontribusi sebesar 73 persen kontribusi  dari kemiskinan penduduk.

“Tren dari tahun ke tahun, harga kebutuhan lain cenderung stagnan tapi harga pangan cenderung naik tiap tahun. Sedangkan semakin naik harga pangan semakin banyak orang miskin,” kata Juda, Forum Dialog Nasional Pembangunan Berkelanjutan pada hari Jumat (23/9/2016) sore, dikutip dari rimanews.com.

Dia menyebutkan bahwa inflasi tahun ini diperkirakan di kisaran 3,11 persen, namun inflasi dari harga pangan secara year to date tahun ini mencapai 7,18 persen.
“Bahkan harga cabai di Ambon mencapai 388,17 persen inflasinya,” kata Juda.

Juda lebih lanjut menjelaskan bahwa harga pangan di Indonesia lebih mahal daripada harga rata-rata internasional. Tetapi, tingginya harga tersebut tidak dinikmati oleh petani yang cenderung berada dalam garis kemiskinan. 

Dia mengakui bahwa rantai distribusi yang panjang menyebabkan kenaikan harga pangan di Indonesia. Contohnya, menurut Juda, harga gabah yang di tingkat petani mencapai Rp 4.480 per kilogram menjadi Rp 13.108 di tingkat eceran.

Untuk itu, Bank Indonesia tengah mengembangkan program bernama Pusat Informasi Harga Pangan Strategis atau PIHPS sebagai upaya pengendalian harga.
“Kedepannya kita akan membentuk informasi harga pangan ritel, namun ini masih digodok,” kata Juda.

Selain itu, Bank Indonesia juga bekerja sama dengan Bank Pembangunan Asia atau ADB mengembangkan sistem pengendalian harga dengan teknologi informasi, sehingga dapat memutus rantai distribusi yang panjang.

“Dengan sistem ini, misalnya nelayan dapat langsung menemukan market nya dan para konsumen langsung dapat memesan ke nelayan, jadi end to end, jadi harga dapat ditekan,” katanya. (*).

loading...
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner