Rabu, 05 Oktober 2016

"Membeli Kejantanan" Ditengah-Tengah Lemahnya Pengawasan

    Rabu, Oktober 05, 2016   No comments


JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Lapak-lapak kecil yang menjual obat kuat dan alat bantu seks menjadi pemandangan yang tak asing di tepi kiri atau kanan jalan-jalan di ibu kota dan sekitarnya. Salah satunya di jalan utama arah Lebak Bulus menuju Ciputat, Tangerang Selatan.

Mengintip geliat bisnis pendukung aktivitas seks ini, seperti dilansir rimanews.com (4/10/2016), sengaja  mampir dan beraksi layaiknya pembeli ke salah satu warung yang memasang spanduk cukup mencolok bertuliskan “Obat Kuat”.

Warung kecil berlokasi di pertigaan Rempoa ini hanya memiliki satu etalase yang ditutup dengan kertas kado, hanya kaca bagian atas saja yang ditampakkan untuk menampilkan sebagian produk afrodisiak, kejantanan, kondom, dan aneka alat bantu seks pria maupun wanita.
Di lapak tersebut, tersedia berbagai merk obat kuat yang kebanyakan adalah produk impor; dari Cina, Amerika, Thailand, hingga Jerman.

Norman (bukan nama sebenarnya), sang pemilik toko, mengaku menjual obat impor karena lebih banyak diburu oleh para pelanggan yang butuh penambah gairah bercinta.
"Kalau obat herbal/alami kurang peminatnya, apalagi kalo obat lokal," katanya.

Karena yang dijual produk impor, obat-obat itu pun tidak memiliki petunjuk dalam bahasa Indonesia. Kebanyakan keterangan dalam produk ditulis dalam bahasa Mandarin atau Inggris.

Namun, Norman tak mengaku kesulitan memberikan penjelasan kepada para pelanggan. Bukannya lancar berbahasa Mandarin atau Inggris, tapi perkiraan, pengalaman dan insting yang diandalkannya.
"Pakainya setengah atau satu jam sebelum bersenggama," ucapnya saat ditanya kapan mulai minum sejumlah pil kuat yang dijualnya.

Selain menjual obat kuat dan perangsang berupa tablet dan kapsul, Norman juga menawarkan obat oles. Tanpa menyebut merk, Norman menyebut harga dari macam-macam obat olesnya.

Untuk obat oles, dia menyebut cara memakainya 5 sampai 10 menit sebelum beraksi. Penjelasannya ini, menurutnya, berdasarkan asas kebiasaan. Dia sendiri mengaku belum pernah memakainya.
"Ada yang Rp30.000, ada yang Rp40.000. Hanya dioles saja makenya," Jelasnya.

Norman juga menjual obat kuat atau perangsang untuk wanita. Namun, perangsang wanita lebih sering diburu pembeli pria.

Terkait usia para pembeli, Norman mengatakan kebanyakan pria paruh baya, dan sesekali remaja. Pembeli didominasi pria.
"Kalau remaja belinya Magic Power doang kebanyakan, karena harganya murah palingan." Cetusnya.

 Pelanggan Norman kebanyakan masyarakat dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Hal itu dapat dilihat dari kemampuan daya beli mereka.
"Kebanyakan mereka beli eceran, jarang yang beli satu pak atau bungkusan. Satu tablet harganya tergantung jenis obatnya; ada yang Rp50 ribu, ada yang Rp40 ribu,” terangnya.

Jenis obat yang menjadi primadona pria yang menginginkan ketahanan di ranjang adalah pil biru atau Viagra.

Selain pil biru, salah satu yang juga sering dicari sama pembelinya, yaitu Maximum Powerful. Obat dari Amerika Serikat ini diklaim Norman sebagai obat alami. Namun, saat ditanya dari mana dia tahu, "Intinya itu ada bahan-bahan alaminya," jawabnya enteng.

Ditanya dosis yang tepat yang dianjurkan produk tersebut, rona muka Norman tampak ragu-ragu. "Gak ada efek sampingnya, gak bahaya juga, kan makenya pas mau bersenggama saja" tukasnya.

Tanpa pengawasan dan keraguan keamanan obat
Saat dimintai penjelasan terkait efek samping obat, Norman memastikan kalau obat-obat yang dijualnya aman.
"Aman kok! Aman. Semua obat yang saya jual aman," Katanya meyakinkan.

Norman meyakinkan hal tersebut berdasar pada pengalamannya selama puluhan tahun berdagang obat kuat. "Kalau yang sering atau yang pernah pakai mah langsung beli, gak banyak nanya," tukasnya memutus keraguan, terkait jaminan keamanan tersebut.

Akan tetapi, meskipun sudah puluhan tahun membuka kedai dan berjualan obat impor, Norman  ternyata belum mengantongi izin dari BPOM.
"Ga ada izin-izinan, jualan aja gini udah." Katanya.

Norman mengaku belum pernah dimintai data oleh petugas dinas kesehatan atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Aparat keamanan atau Satpol PP juga belum pernah sekali pun mendatanginya untuk memintai keterangan terkait produk yang dijualnya. (*).
loading...
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner