Loading...

Minggu, 23 Oktober 2016

loading...

SUBHANALLAH !!! ... Kakek Pedagang Opak Ini “Beli” Rumah Setiap Bulan

    Minggu, Oktober 23, 2016   No comments

Loading...
Kakek Eko Penjual Opak
SriwijayaAktual.com – Putus sekolah dan tidak punya cita-cita yang jelas, menjadi bagian dari sebagaian masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Eko (70 Tahun).

Bergelut dengan kemiskinan orang tuanya, Eko kecil harus hengkang dari Sekolah Rakyat (SR) saat dirinya baru duduk di kelas 3. Sebagai buruh tani, pendapatan orang tua Eko hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan perut, dengan standar minimal tentu saja.

“Orang tua saya gak bisa biayai saya. Saya sekolah biaya sendiri, cari rumput buat biaya sekolah, beli buku ama beli baju. Dulu kan gak ada seragam kayak sekarang,” kata Eko.

Gagal melanjutkan sekolah di kampung halamannya di Kuningan Jawa Barat, tak ada gelayut cita-cita tinggi dalam kehidupan Eko.
“Yang penting mah saya sehat. Kalau cita-cita mah saya gak muluk-muluk. Dulu ga pernah ada cita-cita, orang-orang ngerti aja kagak,” ucapnya dengan logat Sunda yang kental.

Menginjak remaja, Eko memilih merantau, berharap dapat memutus garis kemiskinan warisan orang tuanya. Bagi Eko, merantau adalah jalan satu-satunya bagi orang yang sudah kebingungan dalam mencari peghasilan di kampung sendiri. Eko, memilih Jakarta sebagai tujuan untuk mencari pekerjaan sebagai kuli bangunan.
Pria yang kepalanya bermahkota uban ini masih ingat jika Jakarta pada tahun 1959 belum memiliki terminal bus. “Masih kampung di sini juga,” ucapnya.

Terekam dalam ingatannya pada tahun 1965 dia ikut menjadi tukang yang membangun gedung MPR/DPR di Senayan. Sampai di sini, kehidupan Eko belum berubah. Penghasilannya hanya cukup untuk bertahan hidup dan sedikit membantu keluarganya.

Nasib tak kunjung membaik menjadi kuli bangunan, Eko beralih profesi menjadi pedagang gorengan. Profesi barunya ini hanya sempat dijalani beberapa tahun sebelum akhirnya benar-benar gulung tikar.

Eko beralih dagang  buah di pasar tradisional Kebayoran pada akhir 1970an. Peruntungan tak membaik, dia pindah ke selatan Ibu Kota, tepatnya di Cirendeu sejak tahun 1981. Delapan tahun kemudian, usaha dagang buah Eko benar-benar bangkrut.

Tak ada pilihan lain bagi Eko kecuali kembali membanting tulang untuk mendapatkan penghasilan. Eko menekuni profesi lamanya dengan menjadi kuli bangunan.
Profesi ini dijalaninya selama belasan tahun. Tubuh Eko makin menua. Raganya tak mau lagi kompromi dengan pekerjaan berat. Eko menderita penyakit hernia akibat pekerjaan yang terlampau berat.

Honor menjadi kuli bangunan tak cukup untuk membiayai dua kali operasi yang harus dilakukannya. Terpaksa, Eko berutang.
“Saya punya utang 23 juta karena sakit macem-macem. Operasi udah dua kali, penyakit turun berok, kena hernia kalau bahasa dokter mah. Saya mah apa aja udah pernah dikerjain di Jakarta” cerita Eko sambil menyeruput kopi yang dia bawa dari rumah.

Setelah dua kali operasi, Eko dilarang bekerja oleh sang istri. Bahkan, sang istri menyatakan sanggup menanggung nafkah keluarga asalkan dirinya sehat. Akan tetapi, Eko tak tega jika istrinya harus banting tulang sendirian, sedangkan dirinya hanya diam di rumah.
“Masa iya laki-laki gak kerja, hanya di rumah nonton tv,” ujar Eko sembari tersenyum.

Saat pulang kampung pada 2013, Eko menemukan ide untuk mencari nafkah yang tidak membutuhkan tenaga terlampau berat, yakni berdagang opak khas Kuningan.
“Mau dagang yang lain modal gak ada. Punya utang 23 juta, punya duit nyicil-nyicil utang. Punya 500 ribu bayarin,” ucapnya.

Dengan modal 100 ribu rupiah, Eko membeli opak mentah di kampungnya dan dibawa ke Jakarta. Eko tak bisa menggoreng sendiri karena matanya kurang awas. Jika menggoreng, dia mengaku sering gosong.
Pekerjaan lalu dibagi: sang istri menggoreng dan eko yang menjajakan dagangan menggunakan sepeda mini tua yang tak lagi sedap untuk dipandang.

Jika stok opaknya sudah menipis, Eko memesan opak melalui adiknya yang ada di Kuningan lewat telepon. “Kalau beli opak sekwintal, dari kuningan. Di sini gak ada yang bikin beginian,” ujarnya.

Pertama kali menjual opak, Eko mangkal di sekolah-sekolah. Namun, opak bukan jajanan favorit anak-anak sekarang. Eko pun pindah ke tepi Ciputat Raya, tak jauh dari kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sejak enam bulan lalu, Eko mulai mangkal dari siang hingga jam enam atau tujuh malam.
“Sampai sedapetnya aja, kalau jam enam habis ya syukur, kadang jam tujuh, patokan mah jam tujuh,” katanya.

Sekitar 8 jamberjualan, pendapatan rata-rata Eko seratus ribu rupiah. “Kalau ada yang beli mah suka dapat 100 ribu, kadang-kadang. Saya gak mikirin untung yang penting dapat duit gitu aja. Ya kadang-kadang bisa lebih 100 ribu, kadang-kadang kurang,” ucapnya sambil melayani pembeli.

Ketika ditanya, dia tak bisa mengukur berapa keuntungan yang diperoleh dari pendapatan Rp100 tersebut setelah dipotong modal.
“Kadang ujan gak berenti-berenti, orang jarang yang beli, dapet duit sedikit juga pulang. Tapi alhamdulillah tiap harinya ada yang beli,” ujarnya menceritakan kesulitan berdagang opak.

Soal harga dan rasa, selama ini Eko tak pernah terima komplain dari para pembelinya. “Orang pada kenal, tau harganya murah. Kalau yang udah pernah nyobain gak ada yang kapok. Kejangkau harganya tiga bungkus 5 ribu. Kalau satu bungkus 2 ribu,” kata Eko sambil kembali menyeruput kopi buatan istrinya yang ditempatkan di botol bekas air minum kemasan.
“Kata orang-orang (pembeli), ‘ini ga rugi?’ Kalau saya yang penting dapat duit, mau untung dikit atau banyak gak peduli,” ujarnya.


“Membeli” rumah tiap bulan
Sudah puluhan tahun bekerja, Eko belum memiliki properti apa-apa. Demikian pula puluhan tahun perjalanan rumah tangganya, Eko dan istri tidak dikaruniai seorang anak pun.

Menjalani hidup hanya berdua, Eko mengontrak rumah petak sederhana seharga Rp500 per bulan di RT.01/10 Kelurahan Cirendeu.
“Kita kan orang kaya, tiap bulan beli rumah; beda dengan orang-orang yang beli rumah seharga 2 miliar, tapi sekali doang seumur hidup. Tapi alhamdulillah kontrakan gak pernah nunggak,” ucap Eko sambil tertawa.

Terbilang tidak mampu secara ekonomi, Eko dan istri mendapat jatah raskin, tetapi Eko jarang membelinya. Lidah dan perut tuanya tak tahan dengan keras dan apeknya beras murah program pemerintah tersebut.

“Kalau raskin mah suka ada, tapi saya jarang beli. Saya udah begini (sakit-sakitan), makan ga begitu banyak, yang penting pulen nasinya. Kalau raskin kan agak apek, keras gitu. Kalau yang beli raskin yang keluarganya banyak, kan saya cuma berdua,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak, Eko dan istri ikut arisan seminggu Rp300 ribu. Uang cicilan arisan dikumpulkan dari hasil jualan opak dan honor istrinya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
“Kalau ga ikut arisan saya susah. Saya gak pernah nyimpen, cuma ikut arisan satu minggu 300 ribu. Entar kalau dapat arisan buat nyicil utang. Tinggal 6 juta lagi,” ujarnya. (*)


Sumber, rimanews
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...