Loading...

Sabtu, 12 November 2016

loading...

Mengintip Manula Miskin Dari Sisi Lain

    Sabtu, November 12, 2016   No comments

Loading...
Masa Tua Menyedihkan
(Istimewa)
SriwijayaAktual.com – Tidak sulit kita temui di sekitar kita beberapa orang tua di penghujung ajalnya atau Manusia Usia Lanjut (Manula) masih berkutat dengan kemiskinan. Ada yang menjadi gelandangan, ada yang menjual abu gosok atau sandal dari ban bekas; jika tak punya malu, mereka memanfaatkan kelemahan fisik sebagai dalil untuk mengemis.

Bagi para aktivis, fenomena ini akan dianggap sebagai kegagalan negara mengemban amanah memelihara fakir-miskin. Di mata pegiat antikorupsi, merajalelanya orang berusia lanjut yang melarat karena pembiaran praktik korupsi sehingga meyebabkan kemiskinan menjadi terstruktur. Para filantropis akan memandang bahwa mereka harus berpeluh demi rupiah karena kita kurang peduli dan kasih kepada mereka.  

Bagi sebagian orang, manula yang masih harus bekerja keras dijadikan model bahwa kerja keras harus sampai akhir hayat. “Jangan kalah dengan kakek-kakek, dong,” kata mereka. Kakek tua renta yang berjualan kerupuk pun banjir pujian.

Semua cara pandang di atas mengandung kebenaran. Orang memang akan menilai sesuatu berdasar pada penglihatan yang dimiliki. “Karena Anda tak melihat Laila dengan mataku,” kata Qais si Majnun kepada raja yang menghina kecantikan Laila, dalam roman legendaris Laila Majnun.

Sekarang, mari kita melihat dengan mata yang lain. Dari sisi personal, bernasib malang di usia senja adalah kegagalan memanfaatkan masa muda, terutama karena tidak memiliki menejemen finansial yang memadai. Dalam konteks Indonesia, mungkin akan dinilai keterlaluan menyalahkan kemiskinan orang lanjut usia. Akan tetapi, hal ini perlu dikemukakan supaya orang sadar sejak dini bahwa masa tua/pensiun harus disiapkan sejak dini.

Sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa masa tua tidak membutuhkan uang karena akan ditanggung atau menumpang pada anak. Pandangan ini harus diakhiri karena menggantungkan nasib kepada siapa pun hanya akan membuat diri tidak berharga. Seorang kakek atau nenek tidak akan berharga di mata cucu jika tidak pernah memberikan permen atau hadiah.

Jika sejak muda tahu bahwa diri tidak akan mendapatkan jaminan keamanan sosial dari pemerintah seperti pegawai negeri atau dana pensiun dari perusahaan tempat bekerja, satu-satunya cara yang harus dilakukan adalah menabung sejak dini.

Orang-orang tua yang kemelaratannya menguras air mata orang lain pasti hidup tanpa mempunyai perencanaan, terutama dengan cara menabung. “Jangankan menabung, makan aja susah,” ujaran yang mudah kita temui. Orang mengatakan demikian hanya karena menganggap menabung adalah uang sisa.

Hidup harus realistis: tidak pernah menabur benih, tak usah berharap memanen. Kesejahteraan bukan datang tiba-tiba seperti dongeng Aladdin, dan dongeng-dongeng sejenis yang sangat digemari masyarakat.  


Jika ingin selamat dari penderitaan masa tua, mari segera menabung. Jika tidak akrab dengan sistem perbankan, tabung 10% dari pendapatan kita di bawah tumpukan pakaian kotor atau di celengan. Berapa pun jumlah penghasilan, kita pasti bisa hidup dengan 90% pendapatan.  Yang membuat tidak cukup adalah gaya hidup kita: merokok, makan terlalu mewah (untuk ukuran orang dengan penghasilan rendah), konsumsi pulsa terlalu banyak, dan pengeluaran sekunder lain.

Hasil tabungan yang terkumpul dapat dijadikan modal usaha, investasi, membeli properti, emas, tanah atau hal lain lain yang sekiranya dapat membuat kita naik kelas secara ekonomi. Menyiapkan masa tua tanpa perencanaan sangat beresiko terjerumus dalam lembah kemelaratan, yang merupakan salah satu siksaan paling pedih di alam fana ini.

Coba kita lihat kaum melarat di jalanan: beribadah tak sempat, dianggap sampah oleh masyarakat, menjadi buruan petugas ketertiban, dan menjadi aib bagi pembangunan.  
Mengandalkan pemerintah dan lembaga sosial tidak akan pernah menjadi pilihan yang tepat. Tuhan sudah membekali kita piranti yang dengannya kita dapat hidup mulia di dunia hingga masa ketika tiada lagi bumi. (*)


Sumber, rimanews 

"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...