Loading...

Minggu, 15 Januari 2017

loading...

SUBHANALLAH ... Tidak Punya Dua Tangan, Mbah Rebo Ngontel Sepeda

    Minggu, Januari 15, 2017   No comments

Loading...

Mbah Rebo sedang ngontel sepedanya
PONOROGO-JATIM, SriwijayaAktual.com - Kata siapa orang disabilitas tidak bisa hidup normal? Mbah Rebo (80), warga jalan Glagah, RT 003/RW 003, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur (Jatim), membuktikannya.

Kala itu, Minggu (15/1/2017) siang, mbah Rebo bercelana kolor hitam berbaju batik berwarna cokelat panjang dan kepala ditutupi peci hitam mengendarai sepeda kayuh di jalan Desa Sukorejo, Ponorogo.

Cara mengendarai sepeda kayuh Mbah Rebo yang terlihat renta ini berbeda dari kebanyakan orang. Mbah Rebo tidak menggunakan tangan untuk memegang setang untuk mengendalikan sepeda kayuh itu.

Mbah Rebo hanya menggandalkan bahu untuk mengendalikan laju sepedanya dengan kaki terus mengayuh pedal sepeda yang juga sudah berusia renta. Kemudian, dia pun memarkir sepeda kayuhnya di pinggir bangunan dan segera masuk ke salah satu warung kopi di Desa Sukorejo.

Awak media  mencoba menyapanya dan mengajak bersalaman, Rebo atau Mbah Rebo hanya menundukkan kepala dan berkata bahwa dirinya tidak bisa bersalaman karena tidak memiliki tangan. "Saya tidak memiliki tangan mbak. Jadi menyapanya hanya menunduk saja," katanya membuka perbincangan.

Pun saat ingin meminum, Mbah Rebo juga mengandalkan kakinya. Dia mengaku awalnya memang banyak yang menganggap dirinya tidak sopan. Namun, lanjut dia, akhirnya orang-orang tahu kekuranggannya.

“Amit yo mbak [permisi ya mas],” kata Mbah Rebo sambil mengangkat kakinya di meja dan menggerakan jari kakinya untuk memegang cangkir berisi kopi panas. 

Meski tidak memiliki tangan sejak lahir, namun, Mbah Rebo merupakan salah satu orang yang serba bisa di kampungnya. Mbah Rebo terkenal sebagai pekerja seni seperti ludruk dan ketoprak, pemanjat pohon kelapa yang andal, dan jago bela diri. Salah satu pekerjaan yang pernah digeluti Mbah Rebo adalah sebagai seorang pekerja akrobat.

Mbah Rebo bercerita sejak berusia belasan tahun atau setelah lulus dari Sekolah Rakyat, dia menghabiskan waktunya untuk bertani membantu orangtua. Beberapa tahun menjadi petani membuatnya bosan, karena menjadi petani minim tantangan.

"Saya bosan menjadi petani. Jadi pengen mencoba hal baru. Dia mengaku awalnya
 suka melihat pertunjukkan akrobat atau sirkus pun mulai belajar dan menimba ilmu dari orang yang pandai berakrobat," ceritanya.

Dari situ, dia mulai mempelajari ilmu berakrobat hingga direkrut oleh kelompok sirkus yang ada di Madiun dan Magetan. Karena kondisinya yang cacat itu, Mbah Rebo dalam pertunjukkan sirkus diberi tugas sebagai pengendara sepeda kayuh tanpa tangan. Selain itu, Mbar Rebo juga memperagakan penggunaan samurai yang diputar secara cepat di lehernya.

“Samurai panjang dan tajam saya taruh di leher dan secara cepat saya putar-putar,” ujar bapak yang memiliki lima anak itu.

Tidak hanya itu, dia juga pernah memerankan sebagai orang yang dilindas kendaraan bermotor seperti truk dan mobil. Pernah juga, dia memperagakan sebutir telur yang ditaruh di pundak dan menjaga tetap utuh serta tidak boleh jatuh.

“Saya dulu juga jago memanjat pohon kelapa dan mengelupas kelapa tanpa alat. Saya hanya menggunakan gigi dan mengelupas kelapa hingga pecah,” kata pria beristri dua ini.

Selama mengikuti tim akrobat itu, kata Mbah Rebo, diA tidak hanya tampil di daerah Madiun saja. Namun, dia pernah juga tampil di luar Jawa Timur, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan tampil di pulau Sumatera.

Saat itu, dalam satu kali tampil, dirinya bisa mendapatkan bayaran senilai Rp15.000. Bayaran tersebut biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan untuk makan dirinya saat bekerja.

Pekerjaannya sebagai akrobat dilakoninya hingga puluhan tahun. Terakhir kali, dia beraksi di tim akrobat yaitu pada tahun 2000-an di daerah Nganjuk. Itu menjadi kenangan termanis sebelum dirinya pensiun dari pekerjaanya itu karena faktor usia.

“Saya sekarang sudah tidak bisa melakukan akrobat itu lagi. Ilmunya sudah hilang,” kata kakek-kakek yang rambutnya sudah beruban ini.

Kini hidup Mbah Rebo sudah jauh dari hal-hal akrobat yang membahayakan itu. Kini Mbah Rebo menjalani hidup di rumah dan berkumpul bersama keluarga dan tetangga. (*)


Sumber, Beritajatim

loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...