Loading...

Selasa, 21 Maret 2017

loading...

di Kota ini, Rumah Warga yang Didapati Jentik Nyamuk Bakal Kena Denda 60 Juta maupun ancaman Penjara

    Selasa, Maret 21, 2017   No comments

Loading...
Ilustrasi

SEMARANG-JATENG, SriwijayaAktual.com – Rumah milik warga Kota Semarang apabila terbukti ditemukan jentik nyamuk virus Demam Berdarah Dengue (DBD), bisa terancam penjara maksimal 3 bulan dan denda Rp 60 juta.

Pemberlakuan sanksi tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 5 tahun 2010 tentang pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue.

Perda tersebut saat ini telah diberlakukan dan disosialisasikan oleh Pemkot Semarang melibatkan pihak kecamatan dan kelurahan kepada warga di 177 kelurahan di Kota Semarang.

“Ada petugas dari Dinas Kesehatan Kota Semarang melibatkan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) dan Dawis (Dasa Wisma) yang mengecek rutin door to door di setiap rumah warga. Kalau terbukti ditemukan jentik, bisa terancam sanksi penjara maksimal 3 bulan dan denda Rp 60 juta,” kata warga Kelurahan Wates Ngaliyan, Aini Damayanti, Senin (20/3/2017), dikutp beritajateng.net.

Dia mengaku mendukung program pemerintah dalam mengatasi ganasnya penyebaran virus DBD di Kota Semarang. Namun demikian, ia mengaku kaget karena ternyata sanksinya sangat berat. “Saya baru tahu, setelah disampaikan oleh petugas Dinas Kesehatan bersama Bu RT,” katanya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono membenarkan saat ini Perda tersebut diberlakukan. “Sudah diberlakukan. Tapi sebenarnya, sanksi Perda DBD tersebut sebagai upaya terakhir. Perda itu hanya instrumen untuk penguatan sadar lingkungan bebas jentik,” kata Endro.

Dijelaskannya, gerakan pemberantasan sarang nyamuk efektif kalau dilakukan secara serentak dan berkesinambungan. Tentunya dengan diprakarsai oleh camat atau lurah. “Sanksinya denda Rp 60 juta dan atau kurungan penjara maksimal 3 bulan,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, sanksi tersebut diberlakukan jika saat inspeksi pertama tim pemantau menemukan jentik di rumah warga. Pertama kali didahului dengan teguran. Inspeksi kedua jika ditemukan jentik di lokasi yang sama, diberikan penempelan stiker. “Baru inspeksi ketiga bila ditemukan jentik, maka diberlakukan tahap penindakan,” katanya.

Persoalannya, apakah penerapan Perda tersebut mudah, kemudian harus menjerat sekian ratus bahkan ribuan rumah warga yang rumahnya didapati jentik? Endro mengakui hal itu tidak mudah. “Tetapi ini sebagai upaya pengendalian bahwa masyarakat sebaiknya waspada,” imbuh Endro yang juga mantan Camat Semarang Tengah itu.

Dikatakannya, jentik nyamuk DBD berpotensi tumbuh bukan hanya di bak mandi, tapi juga di tandon air, genangan air di atap genteng, daun-daun, batang pohon, hingga di bak belakang kulkas. “Sehingga penyebarannya sangat cepat. Apalagi seperti sekarang musim pancaroba,” ujarnya.

Namun demikian, kata dia, Dinas Kesehatan Kota Semarang baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan RI karena mampu menurunkan angka DBD secara drastis. “Tetapi harus diingat DBD bisa muncul kapan saja, dalam waktu relatif cepat. Jadi, mulailah menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing. Karena ini bukan hanya tugas pememerintah saja,” katanya.

Selain itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono mengatakan, kebijakan sanksi denda maupun ancaman penjara maksimal 3 bulan itu merupakan gerakan berantas jentik nyamuk untuk menghindari demam berdarah di Kota Semarang.

“Mengingat dulu, kasus DBD di Kota Semarang  peringakat tiga, namun tahun 2016 turun jauh menjadi peringkat 29 dari 35 daerah,” kata Widoyono.

Sanksi tersebut, kata dia, hanya diberlakukan bagi pemilik rumah yang ditemukan jentik nyamuk berulang kali. Menurut dia, ini merupakan kebijakan tingkat lokal keluarahan dan kecamatan. “Sanksi berat sebenarnya tidak ada. Namun kebijakan yang ada itu juga berdasarkan kesepakatan masyarakat untuk memberantas jentik nyamuk DBD,” katanya.

Lebih lanjut, kata dia, Pemkot Semarang mendapat pengharagaan dari Kementerian Kesehatan RI karena mampu menurunkan angka kasus DBD selama 2016. Tahun ini, hingga Maret 2017, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat ada sebanyak 415 warga terkena virus DBD yang tersebar di 16 kecamatan. (*)
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...