Loading...

Jumat, 21 April 2017

loading...

Astagfirullah Hal Adzim, Kasihan Adek Bocah SD ini Disidang Jadi Terdakwa, "Orang Tua Bercucuran Air Mata, Sopir Mobil Penambrak Malah Melenggang"

    Jumat, April 21, 2017   No comments

Loading...
Ayu Widiyaningsih, bocah SD yang menjadi terdakwa karena kasus kecelakaan lalu lintas, di PN Jember (JPG)

JEMBER-JATIM, SriwijayaAktual.com - Anak Kelas 6 SD bernama Ayu Widiyaningsih (AW), menjadi terdakwa atas karena kasus kecelakaan lalu lintas, Kamis (20/4/2017)  harus kembali ke Pengadilan Negeri (PN) Jember, Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Dia kembali menjalani proses diversi. Yakni, pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Tidak ada persiapan apa pun yang dilakukan Anak Kelas 6 SD N Kemuningsari Lor itu. Bahkan, dia tetap masuk sekolah Rabu kemarin (19/4/2017).

Hal berbeda dirasakan Monadi, ayahanda Ayu. Saat didatangi wartawan di rumah pinjaman yang dihuninya, pria ini berulang-ulang kali meneteskan air mata mengingat peristiwa yang menimpa anaknya tersebut. Apalagi saat berbulan-bulan merawat luka kecelakaan anaknya pulang-pergi ke rumah sakit.
”Saya hitung utang saya 20 jutaan,” katanya Monadi.

Dana puluhan juta rupiah itu dia pinjam untuk perawatan medis Ayu. Ayah korban mengaku tidak tahu bagaimana cara membayar kalung dan gelang emas milik saudaranya yang digunakan untuk pengobatan anaknya tersebut. Monadi mengatakan tidak mungkin dia meminta bantuan kepada sopir Yaris yang terlibat kecelakaan dengan anaknya.
”Tapi, dulu pernah diberi utangan,” ujarnya.

Soal utang yang Monadi tidak lagi memikirkanya terlalu dalam. Yang membuat dia waswas selama ini, adalah anak bungsunya itu terancam menjadi terpidana.

”Saya akan minta kepada hakim untuk menukar hukuman anak saya agar supaya hukumanya di bebankan kepada saya, biar saya yang di penjara. menukar hukuman ke hakim supaya saya yang dipenjara menggantikan Ayu,” katanya, sambil meneteskan air mata.

Menurut Monadi, anaknya masih bisa diharapkan meraih cita-cita.
 Sementara itu, dia merasa sudah cukup menjadi buruh lepas penjaga kebun di samping kantor kepala desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti.

”Saya miskin. Tapi, saya tidak ingin anak saya juga miskin. Akan semakin miskin dia jika sampai dipenjara,” ujarnya, dikutip jawa pos.

Sementara itu, Jumariyah, ibunda Ayu, menyatakan akan ikut mengantar anaknya ke pengadilan. Dia memilih libur berjualan gorengan. Dia berharap, kasus yang menjerat anaknya bisa tuntas hari ini.
Dengan begitu, Ayu bisa kembali berfokus belajar menyiapkan ujian akhir sekolah. Apalagi, Ayu sudah kelas VI.

”Sebenarnya tidak tega ikut ngantar Ayu. Tapi, saya akan mencoba supaya pak hakim tidak menghukum dia,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Baidowi -ayahanda Windi, sapaan karib Yenni Amelia yang juga mengalami kecelakaan pada waktu yang sama, menyesali langkahnya memerkarakan kasus kecelakaan itu.
Sebab, upayanya itu malah mengakibatkan Ayu menjadi tersangka.

Dia yang kemarin ditemui di rumah orang tua Ayu menegaskan bahwa keluarganya tidak mempunyai niat membawa Ayu sampai ke pengadilan seperti saat ini. Dia mengatakan, laporan yang diperkarakan itu ditujukan untuk pengemudi mobil Yaris.

Sebelumnya Ayu dan temannya ini mengalami kecelakaan dengan mobil Yaris di Jalan Tisnogambar, Kecamatan Bangsalsari, pada 12 September 2016.

Ayu malah harus menjadi terdakwa, sedangkan Windi, sapaan akrab Yenni Amelia, menjadi korban. Padahal, saat kecelakaan, keduanya sedang berboncengan. Satu motor. Ayu di depan, Windi diboncengkan.

Keduanya ternyata sahabat karib, baik di rumah maupun di sekolah. Mereka satu kelas di SDN Kemuningsari Lor 1, Kecamatan Panti. Di sekolah maupun di rumah, mereka selalu berdua.

Keakraban dan kedekatan mereka kemarin juga tampak di Pengadilan Negeri Jember. Saat menunggu mediasi kasus, keduanya seolah tak mau pisah.

Nah, kasus itu mencuat karena orang tua Windi bermaksud memperkarakan pengendara mobil Yaris yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.

Menurut keterangan Ahmad Baidowi, ayah Windi, saat itu Ayu dan Windi bertabrakan dengan mobil Yaris di Tisnogambar, Bangsalsari.

Peristiwa tersebut terjadi saat Idul Adha 2016. “Anak saya dari arah barat dan mobil Yaris dari Jember ke arah Lumajang,” ujarnya.

Kemarin, Senin (18/4/2017), hari pertama kasus itu masuk ke proses pengadilan. Agendanya masih memasuki tahap diversi, pengalihan penyelesaian perkara anak dari peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Namun, jika proses itu menemukan jalan buntu, dua bocah yang masih berusia 11 tahun tersebut akan menghadapi persidangan.

Kasihan ! Bocah SD Jadi Terdakwa, Sopir Yaris Malah Melenggang
Penasehat hukum kedua bocah SD, AW  dan  Windi sapaan akrab dari Yenni Amelia (YA) yang tersandung kasus di Pengadilan Negeri Jember, Freddy Andreas Caesar angkat suara. Dia mengaku heran dengan tindakan polisi hanya menetapkan tersangka pada kliennya.

Padahal, data hasil penyelidikan yang dia miliki, sopir mobil Yaris ternyata juga melanggar Undang-Undang Lalu Lintas karena tidak memiliki SIM.

“Kok yang dikasuskan oleh polisi hanya AW. Kalau klien saya dianggap bersalah tidak memiliki SIM karena belum cukup umur, kenapa sopir Yaris yang sama-sama tidak punya SIM hanya jadi saksi ,” kata Fredd, dikutip dari laman jpnn.

Dia merasa kasus ini tidak adil jika terdakwanya hanya AW.  Apalagi, menurutnya, beberapa saksi memberikan keterangan pengendara Yaris saat itu juga melanggar marka. Dia mengemudi terlalu ke kanan melewati garis marka. Padahal, saat itu AW sedang berada di arah berlawanan.

Ayu Harus Dibebaskan Dari Jerat Pidana.
Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan kondisi Ayu Widiyaningsih, bocah SD yang menjadi terdakwa karena kasus kecelakaan lalu lintas di Jalan Tisnogambar, Kecamatan Bangalsari pada 12 September silam.

Imbasnya, Ayu yang masih 11 tahun harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur.
Menurut Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh, Ayu harus dibebaskan dari jerat pidana.
Sebab, Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur anak di bawah 12 tahun tidak bisa diproses hukum pidana.

“Batas minimal usia pertanggungjawaban hukum adalah 12 tahun,” kata Asrorun, Kamis (20/4/2017), dikutip jpnn. 

Menurut Asrorun, penegak hukum harus punya sensitivitas tentang perlindungan anak. “Apalagi, anak justru menjadi korban,” ucapnya. (DBS) 

loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...