Loading...

Sabtu, 15 April 2017

loading...

Lima Makam Keramat di Yogyakarta

    Sabtu, April 15, 2017   No comments

Komplek Makam Imogiri
Komplek Makam Imogiri. (Foto : Dok)

DIY-YOGYAKARTA, SriwijayaAktual.com - MENGHORMATI leluhur menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Walau telah lama meninggalkan alam dunia, namun masyarakat meyakini arwah orang yang telah meninggal tetap berada di bumi ini hingga nanti akhirnya bernar-benar menghadap Sang Pencipta.

Masyarakat juga meyakini suatu makam akan memiliki kekuatan gaib sesuai dengan jasad yang dikebumikan di dalamnya. Tak heran jika kemudian banyak kuburan dikeramatkan warga hingga mereka berbondong-bondong untuk melakukan ziarah di tempat itu. Berikut beberapa makam di DIY yang dianggap keramat oleh masyarakat.

Makam Pajimatan Girirejo Imogiri
Makam Pajimatan Girirejo Imogiri

Makam ini terletak di gugusan Pegunungan Seribu yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Di tempat ini bersemayam raja-raja Kraton Yogyakarta dari Sultan Hamengkubuwono (HB) I hingga raja terakhir yakni Sultan HB IX.

Pemakaman Imogiri dibangun Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo pada tahun 1632. Tak hanya para raja saja, seluruh garis keturunan Kraton Yogyakarta juga akan dikebumikan di pemakam ini jika mangkat kelak.

Tempat ini sering didatangi peziarah, baik dari kerabat kraton maupun warga. Setiap hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Sura dalam penanggalan Jawa di komplek ini digelar prosesi ritual Nguras Enceh atau gentong. Air kurasan gentong kemudian diperebutkan warga dan diyakini akan memberikan berkah.

Astana Giri Gondo
Astana Giri Gondo

Pesarean ini merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi Adipati Pakualaman beserta kerabatnya. Bertempat di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo komplek Astana Giri Gondo berdiri di atas perbukitan Menoreh.

Pemakaman ini dibangun Paku Alam V pada tahun 1900. Di pemakaman ini dimakamkan Paku Alam V sampai dengan Paku Alam IX, sedangkan Adipati Paku Alam sebelum masih dimakamkan di Pasarean Hastana Kitha Ageng di Kotagede.

Makam Hastorenggo
Makam Hastorenggo

Komplek pemakaman ini berada di wilayah Kecamatan Kotagede, Yogyakarta. Bernama Makam Hastorenggo, di pesarean ini bersemayam jasad Danang Sutowijowo atau yang dikenal dengan nama Panembahan Senopati pendiri Kraton Yogyakarta.

Di tempat ini terdapat pohon beringin yang dikeramatkan. Konon pohon beringin ini ditanam langsung oleh tangan Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Di komplek ini juga terdapat tempat pemandian yang dipercaya membuat awet muda bagi siapapun yang membasuhkan air ke wajahnya.

Makam Wotgaleh
Makam Wotgaleh

Tempat ini disebut Makam Wotgelah yang terletak Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Di tempat ini bersemayam Pangeran Purubaya yang tak lain putera dari Panembahan Senopati.

Semasa hidup, Pangeran Purbaya dikenal sebagai sosok sakti mandraguna. Pangeran Purubaya juga dikenal dengan nama Joko Umbaran, karena semaca kecil ‘diumbar’ (ditelantarkan) ornag tuanya. Pangeran Purbaya meninggal pada Minggu Wage 1676 Masehi.

Ada hal gaib yang sering dijumpai di makam ini. Para penjaga makam acap menemukan bangkai burung maupun kelelawar di sekitar komplek pemakaman, konon dipercaya apapun yang melntas di atas makam akan jatuh menghujam bumi.

Kepercayaan ini pula yang kemudian membuat pesawat terbang tak berani melintas di atas komplek makam Wotgaleh. Walau letaknya berada di barat daya Bandara dan Pangkalan Udara Adisutjipto, namun para pilot memilih memutar haluan serta tak berani melintasi sekitar atas makam.

Makam Roro Mendut
Makam Roro Mendut

Makam keramat ini berada di Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Makam ini cukup dikenal oleh warga lantaran di sinilah tempat dimakamkannya jasad Roro Mendut dan Pronocitro, sebuah legenda cinta sejati yang pernah hidup di tanah Jawa layaknya cerita Romeo dan Juliet di Eropa.

Roro Mendut dikenal sebagai gadis cantik pada masanya yang dipaksa menikah dengan Tumenggung Kerajaan Mataram bernama Wiroguno. Namun Roro Mendut menolak tawaran itu karena ini telah memiliki kekasih bernama Pronocitro.

Wiroguno yang mengetahui hubungan mereka akhirnya mencari-cari Pronoctiro hendak dibunuh dan akhirnya ia menemukannya saat berduaan dengan Roro Mendut. Sang Tumenggung lalu mengarahkan kerisnya ke dada Pronocitro, namun Roro Mendut berkorban menjadi kekasihnya dengan memeluk pemuda itu.

Keris akhirnya menusuk punggung Roro Mendut dan tembus mengenai dada Pronocitro. Kedua sejoli ini tewas bersamaan dan langsung dimakamkan dalam satu liang di tempat tersebut.

Ada hal magis nan eksotik dari makam ini, tempat tersebut sering dijadikan lokasi ritual orang yang ingin mengalap berkah agar dagangannya laris manis. Konon dipercaya siapapun yang melakukan ritual di tempat ini harus melakukan hubungan badan di makam tersebut. Persetubuhan dimaknakan sebagai simbol penyatuan jiwa dan cinta antara dua insan manusia, seperti halnya cinta Roro Mendut dan Pronocitro. (KRjogja)
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
loading...