Loading...

Kamis, 18 Mei 2017

loading...

'Pertapa dan Pelacur'

    Kamis, Mei 18, 2017   No comments

'Renungan'

SriwijayaAktual.com - Pertapa dan pelacur - Seorang pertapa tinggal diasramnya dan di seberang jalan tepat berhadapan dengan asramnya ada rumah bordil di mana tinggal seorang pelacur. Setiap hari ketika pertapa akan melakukan meditasi, dia melihat para lelaki datang dan pergi dari dan ke rumah pelacur itu. Dia melihat pelacur itu sendiri menyambut dan mengantar tamu-tamunya. Setiap hari pertapa itu membayangkan dan merenungkan perbuatan memalukan yang berlangsung di kamar pelacur itu, dan hatinya dipenuhi oleh kebencian akan kebobrokan moral dari pelacur itu. 

Setiap hari pelacur itu melihat sang pertapa dalam praktek-praktek spiritualnya (sadhana). Dia berpikir betapa indahnya untuk menjadi demikian suci, untuk menggunakan waktu dalam doa dan meditasi. “Tapi” dia mengeluh, “nasibku memang menjadi pelacur. Ibuku dulu adalah seorang pelacur, dan putriku nanti juga akan menjadi pelacur. Demikianlah hukum negeri ini.” Pertapa dan pelacur itu mati pada hari yang sama dan berdiri di depan Sang Hyang Yama bersama-sama. Tanpa diduga sama sekali, pertapa itu dicela karena kesalahannya.
Ilustrasi
“Tapi”, dia memprotes, “hidupku adalah hidup yang suci. Aku telah menghabiskan hari-hariku untuk doa dan meditasi.”

“Ya,” kata Yama, “tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan suci itu, pikiran dan hatimu dipenuhi oleh penilaian jahat dan jiwanya dikotori oleh bayangan penuh nafsu.”

Pelacur itu dipuji karena kebajikannya. “Saya tidak mengerti,” katanya, “selama hidupku aku telah menjual tubuhku kepada setiap lelaki yang memberikan harga pantas.”

“Lingkungan hidupmu menempatkan kamu dalam sebuah rumah bordil. Kamu lahir di sana, dan di luar kekuatanmu untuk melakukan selain dari hal itu. Tapi sementara badanmu melakukan tindakan-tindakan hina, pikiran dan hatimu selalu suci dan senatiasa dipusatkan dalam kontemplasi dan kesucian dari doa dan meditasi pertapa ini.” 


Dua kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk tidak merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri. Chin- Ning Chu memberi nasehat : “Kebajikan”, katanya “bukanlah jubah yang engkau kenakan, atau gelar-gelar mulia yang engkau berikan kepada dirimu untuk dipamerkan kepada umum!”.
Renungan batin masing2 (source : facebook.com/***)  

loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
loading...