Loading...

Sabtu, 10 Juni 2017

loading...

Danau Sebesar Provinsi Jawa Tengah Ini Kini Meranggas Menjadi Padang Pasir Tandus Gersang

    Sabtu, Juni 10, 2017   No comments

Loading...
LAUT Aral atau Danau Aral mengering dan menyisakan kapal nelayan.

SriwijayaAktual.comSiapa bakal menyangka, danau terbesar di dunia ini dengan tinggi ombak bisa mencapai 7 meter, kini mengering, gersang, seperti padang pasir, tak berair lagi. 

Danau terbesar dengan ombak 7 meter tersebut bernama Laut Aral atau Danau Aral, terletak di di Asia Tengah, diapit dua negara bekas Uni Soviet, Uzbekistan dan Kazakastan. 

Lalu, apa pnyebabnya, sehingga Laut Aral mengering seperti itu? Hingga beberapa dekade silam, Laut Aral masih tercatat sebagai danau terbesar keempat di dunia.

Namun sejak 1960-an, dilansir dari dw.com, kawasan itu meranggas dan perlahan berubah menjadi gurun. Kematian danau luasnya mencapai dua kali lipat Provinsi Jawa Tengah itu dianggap sebagai bencana lingkungan paling parah dalam sejarah manusia.

Namun kini, perlahan-lahan, Laut Aral bangkit dari kematiannya. Air mulai membasahi sebagian kawasan dan ikan kembali meramaikan ekosistem lokal.

Bibir pantai tadinya berada 100 kilometer dari kota pelabuhan Aral, kini hanya berjarak 20-25 kilometer bergantung pada kondisi cuaca. Sejumlah desa nelayan juga kembali bermunculan di sekitar danau.

Kembalinya air dan ikan ke Laut Aral turut memicu kebangkitan industri perikanan lokal. Populasi ikan mengalami lonjakan pesat terutama sejak kadar garam pada air mulai jauh berkurang.

Situasi tersebut juga meringankan beban perekonomian. Kini, Kota Aral dipenuhi pabrik pengolahan ikan. Sebagian kecil penduduk juga mulai berdagang perlengkapan perikanan seperti suku cadang mesin perahu.

Kejahatan Lingkungan Era Sovyet
Kisahnya berbeda pada beberapa dekade silam. Saat itu, laju penyusutan Laut Aral mencapai level tertinggi. Danau raksasa itu hancur oleh program perekonomian Uni Sovyet sejak 1940-an yang mengalihkan air dari dua sungai penopang Laut Aral untuk keperluan industri kapas dan irigasi pertanian.


Hasilnya sejak 1960-an, permukaan Laut Aral menyusut tiga meter setiap tahun. Situasinya mulai berubah sejak runtuhnya Uni Soviet. Dengan bantuan Bank Dunia, pemerintah Kazakhstan membangun bendungan Kokaral untuk memisahkan kawasan selatan yang meranggas dengan bagian utara masih diairi Sungai Syr Darya.

Hasilnya, dalam dua tahun permukaan air meningkat sebanyak empat meter dan Kokaral dianggap sebagai keajaiban dunia. Namun begitu, Laut Aral belum sepenuhnya pulih. Industri perikanan lokal yang muncul saat ini masih tergolong kecil dibandingkan beberapa dekade silam.

"Aral belum jadi laut sungguhan," kata Sagnai Zhurimbetov, seorang nelayan lokal. "Laut yang lama punya ombak setinggi hingga tujuh meter," tuturnya.

Celakanya, kebangkitan Laut Aral dikhawatirkan hanya bakal menjadi fenomena sesaat. Pasalnya sistem irigasi dibangun Uni Soviet di dua sungai, Syr Darya dan Amu Darya, berfungsi sedemikian efektif, sehingga hingga kini pun masih menghambat pemulihan air danau. Terlebih pemerintah Uzbekistan berniat melakukan eksplorasi minyak bumi di sejumlah kawasan bekas dasar danau. (***)

loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...