Loading...

Minggu, 30 Juli 2017

loading...

“BANG TOYIB”, Masih Mewarnai Kasus Perceraian di Purbalingga

    Minggu, Juli 30, 2017   No comments

Loading...



PURBALINGGA-JATENG, SriwijayaAktual.com – Kasus ditinggal istri atau suami yang dikenal bang Toyib masih banyak a mewarnai kasus-kasus perceraian di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Panitera Pengganti Kantor Pengadilan Agama Purbalingga, Nur Aflah mengatakan di bulan Juli ada 90 kasus perceraian akibat ditinggal suami atau isteri.
                
“Setelah lebaran kasus perceraian “bang Toyib” dari 13 kasus naik menjadi kurang lebih 90 kasus,” kata Nur Aflah, Jum’at (28/7/2017), dikutip dari beritajateng.net.
                
Sebanyak 90 persen rata-rata perceraian di Purbalingga menurut Nur Aflah, disebabkan karena faktor ekonomi yakni isteri atau suami mencari nafkah diluar Purbalingga. Selain itu juga banyaknya buruh pabrik wanita, dan suami yang tidak bekerja sering memicu adanya perselisihan di keluarga yang berakibat pada perceraian.
              
 “Di Purbalingga banyak buruh perempuan sedangkan laki-lakinya menjadi penerbang, penerbangan disini bukan penerbangan pesawat udara namun menjadi penerbang burung merpati, sehingga isteri kemudian menjadi jengah yang berakibat pada gugatan perceraian,” katanya
                  
Gugatan perceraian di Purbalingga lebih banyak oleh pihak perempuan daripada gugatan cerai oleh pihak laki-laki, perbandingannya 10:1. Hal tersebut harusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, masyarakat, perusahaan dan para ulama.
                
“Upaya pencegahan maraknya perceraian harus dilakukan oleh semua pihak, Pemda bisa melakukan instruksi kepada perusahaan-perusahaan yang ada dengan melakukan sosialisasi tentang memelihara perkawinan agar langgeng,” katanya.
                   
Pihak perusahaan bisa melakukan acara tauziah mungkin sebulan sekali, agar keimanan karyawan tetap terjaga. Atau bisa dengan memutar CD sosialisasi tentang pernikahan di jam-jam kerja, sehingga karyawan bisa tetap kerja.
                 
Selain kasus perceraian di Purbalingga juga marak adanya kasus pernikahan dini, sampai Juli ada 60 kasus dispensasi nikah. Dispensasi ini dilakukan dikarenakan salah satunya umur mempelai belum memenuhi syarat. Sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang pernikahan disebut batas usia minimal untuk perempuan 16 tahun dan usia bagi laki-laki 19 tahun.
              
 “Kasus dispensasi nikah banyak disebabkan karena hamil duluan, dikarenakan kemajuan teknologi informasi yang ada.Adanya Smartphone canggih, remaja lebih cenderung melakukan hal-hal negatif, seperti pornografi. Kemudian sifat remaja yang selalu ingin hal-hal baru sehingga mudah terjerumus dengan pergaulan bebas,” Tandasnya (*)
 
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...