Loading...

Sabtu, 05 Agustus 2017

loading...

"UKT Ku Sayang, UKT ku Malang"

    Sabtu, Agustus 05, 2017   No comments

Loading...


Oleh : M.Fajriansyah (Mahasiswa Unsri)
Assalamualaikum Warrohmatulahi Wabarrokatuh, Salam Sejahtera Untuk Kita Semua.

OPINI, SriwijayaAktual.com - Waktu libur kuliah akhirnya hampir selesai. Kegatan perkuliahan di kampusku segera dimulai. Sebentar lagi akan  berjumpa kembali dengan kehidupan kampus yang penuh warna.

Aku adalah Mahasiswa biasa, sama seperti mahasiswa lainnya. Menjalani kehidupan kampus hari demi hari. mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau dibilang apatis (Masa bodoh/Terserah), aku adalah mahasiswa apatis. Karena waktu ku banyak kuhabiskan dengan kesibukan sendiri. Bermain laptop membaca komik, menonton Anime.

Mengenai keadaan kampus. Aku tidak  terlalu peduli. Mau orang aksi perbaikan jalan ketika aku masih menjadi Mahasiswa baru, menurunkan Jokowi dari puncak pimpinan Negara Republik Indonesia, sampai dengan isu agama. Aku tidak peduli.

Terdengar sayup-sayup ditelingaku orang berkumpul untuk aksi menurunkan harga cabai. Aku juga tidak peduli. Karena aku tidak terlalu suka pedas. Aku juga tidak tahu mengenai aksi-aksi yang dilakukan kawan-kawanku sesama Mahasiswa yang berada di luar pulau sumatera.

Aku tidak tahu kalau mereka sedang berjibaku untuk menurunkan UKT, aku juga tidak tahu kalau sekarang Pendidkan sedang Di komersialkan oleh Pemerintah.

Aku juga tidak tahu apa itu PTN BH yang katanya Liberalisasi di Dunia Pendidikan. Katanya Kampusku Universitas Sriwijaya Sebentar lagi akan menyandang Status PTN BH dengan Di dukung Akreditasi A yang baru di dapat. Aku juga tidak peduli tentang itu.

Namun ketika kemarin (3/8/2017)  aku kembali ke kampus Unsri  tercinta. Ternyata ada aksi besar-besaran yang berlangsung cheos ricuh. Katanya sih Aksi Peduli UKT. Katanya  salah satu tuntutannya yaitu Menurunkan UKT sebanyak 50% untuk mahasiswa  Semester 9.

Sepertinya aksi nya ramai sekali. Katanya ada sekitar 1000 atau 2000 Mahasiswa yang turun ke jalan. Semuanya memakai Almamater kuning dan masker. Sebagai mahasiswa yang apatis aku bingung kenapa mereka ramai-ramai melakukan aksi, yang katanya aksi damai di depan rektorat? Muncul berbagai macam pertanyaan dibenakku. 

Memangnya UKT itu Apa sih? Karena yang aku tau selama ini Cuma uang kuliah seperti SPP. Mungkin biar lebih keren disebut UKT. Aku mulai mencari tahu apa sih UKT, ternyata UKT itu singkatan dari UANG KULIAH TUNGGAL. Dan ternyata UKT itu adalah sebagian dari BKT. 

BKT itu apa? Ternyata BKT itu adalah keseluruhan biaya operasional yang terkait langsung dengan proses pembelajaran Mahasiswa per semester pada program studi di PTN. 

Ternyata UKT ditetapkan dengan memperhatikan BKT. Itu yang saya baca di Permensistekdikti: Nomor 39 tahun 2016 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada PTN di lingkungan Kemenristek DIKTI.

Saya selaku Mahasiswa yang Apatis juga bingung ketika membaca aturan mengenai UKT yang di gaung-gaungkan oleh kawan-kawan mahasiswa yang menurut saya adalah para aktivis kampus. Bahkan saya mendapat edaran bahwa Rektor Di kampus saya akan dicopot. Saya bertambah bingung disini. Saya baca lagi berulang-ulang peraturan itu.
"Akhirnya  saya menemukan sebuah fakta pada pasal 6 yang berbunyi:

1. Pemimpin PTN dapat melakukan penetapan ulang pemberlakuan UKT terhadap Mahasiswa apabila terdapat:

a. Ketidaksesuaian kemampuan ekonomi mahasiswa yang diajukan oleh mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya.

b. Pemmutakhiran data kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa atau pihak lain yang membiayainya.

2. Ketentuan Lebih lanjut mengenai penetapan ulang pemberlakuan UKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Pemimpin PTN.

Kalau saya melihat pada pasal 6 ini. Tentu opini saya langsung menuju kepada Rektor selaku Pemimpin PTN. Bahwa beliau adalah orang yang bertanggung jawab terhadap UKT atau Penurunan UKT yang di ajukan melalui Mekanisme pada ayat (1).
"Tetapi ketika saya membaca pasal 11 yang berbunyi:

1. PTN menyampaikan laporan realisasi penerimaan UKT untuk masing-masing kelompok setiap semester kepada menteri melalui Sektretaris Jendral kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

2. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem Monitoring dan Evaluasi (SiMonev).

3. Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh mentri sebagai dasar dalam melakukan pengawasan dan pengendalian Tarif UKT.

Serta pasal 13 yang berbunyi : pada saat peraturan menteri ini mulai berlaku, peraturan Menteri Riset , teknologi, dan Pendidikan Tinggi nomor 22 tahun 2015 tentang BKT dan UKT pada PTN di lingkungan kementrian Riset, teknologi, dan pendidikan tinggi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 14 yang berbunyi: peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal di undangkan.

Kemudian opini saya yang sebelumnya terasa seperti sedang digiring untuk membenci rektor berubah 180 derajat. Karena disini Saya melihat rector tidak sepenuhnya bertanggung jawab. Saya sebagai mahasiswa yang apatis juga berpikir. 

Apabila rektor bertanggung jawab sepenuhnya, dan kemudian rektor digantikan atau dicopot, lantas apakah masalah mengenai UKT yang digaung-gaungkan teman-teman saya yang bisa disebut aktivis kampus bisa terselesaikan?. Saya mahasiswa apatis tidak berpikir seperti itu. 

Saya sebagai Mahasiswa yang apatis berusaha  lebih melihat kepada Akar Masalah. Dimana akar Masalahnya? Entah saya yang terlalu dalam berpikir atau teman-teman saya yang disebut sebagai aktivis kampus yang terlalu dangkal berpikir?. 

Menurut saya akar masalah ini adalah Pemerintah Pusat atau bisa juga disebut Kemenristek DIKTI. Kenapa bisa begitu? Saya sebagai Mahasiswa Apatis bertanya kepada para aktivis. 
Siapa yang punya kebijakan mengganti Sistem SPP menjadi Sistem UKT?  Kenapa harus UKT yang Diturunkan? Kenapa bukan UKT yang di tanggalkan? 

Apakah Mahasiswa Aktivis seperti kalian sudah kehabisan akal, dan hanya mampu mendesak sistem yang hanya terhadap orang yang  menjalankan kebijakan? Apakah kalian tidak mempu mencabut kebijakan? Atau bahkan mengganti sang pembuat kebijakan?.

Mari rekan-rekan mahasiswa, kita  mengedepankan nalar intlektual dan etika dalam menyampaikan apirasi, dan tepat  pada tempatnya, serta kepada  rekan-rekan mahasiswa yang dinon-aktifkan untuk melakukan mediasi dengan pihak rektorat sebagai upaya penyelesaian masalah.  

Berharap Pemerintah Pusat dapat mengevaluasi kebijakan UKT,  mengingat kejadian-kejadian dibeberapa kampus yang ada di Indonesia khususnya dikampus Unsri yang disebabkan masih banyaknya permasalahan dalam kebijakan UKT ini.

Karena saya adalah mahasiswa biasa bahkan Mahasiswa Apatis. hanya  lewat tulisan saya menyampaikan aspirasi saya. Bukan hanya aktivis saja  kan yang boleh bersuara?
Semoga Bermanfaat, Terima Kasih.

Salam hangat dari Mahasiswa APATIS yang mudah digiring Opininya.
Wassalamualaikum warrohmatulahi wabarrokatuh. (Rel)


loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...