Senin, 23 Oktober 2017

Hemmm...'Laki-Laki & Perempuan Wajib Telanjang Bulat Malukat di Pasiraman Kasuma Dewi'

    Senin, Oktober 23, 2017   No comments

TELANJANG: Malukat di Pasiraman Kasuma Dewi, Banjar Tegal, Bebalang, Bangli, laki perempuan harus telanjang bulat. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BANGLI-BALI, SriwijayaAktual.com   - Sebuah pasiraman atau tempat malukat pada umumnya  hanya dipergunakan  nunas tirtha, di samping untuk memenuhi kebutuhan air untuk rumah tangga. Saat malukat juga diperkenankan memakai pakaian adat, seperti kamben dan penutup tubuh lainnya. Namun, semua itu tak berlaku di  Pura Pasiraman Kasuma Dewi. Bila ingin malukat,laki perempuan harus telanjang bulat alias tak boleh ada sehelai benang pun melekat di badan.

Pura Pasiraman Kasuma Dewi di Banjar Tegal, Bebalang, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali,  tawarkan pesona lain, sekaligus tantangan bagi para pamedek atau mereka yang datang untuk melaksanakan sembahyang dan ritual khusus.

Baik pamedek perempuan maupun laki-laki yang hendak malukat harus telanjang bulat di pancuran yang tanpa ada sekat.

Hal tersebut diungkapkan  pemangku Pura Pasiraman Kasuma Dewi, Gusti Mangku Gede saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Tegal, Bebalang, Bangli, akhir pekan, kemarin, seperti yang dilansir, Senin [23/10/2017] . Bagaimana, ingin kesana?

Jika ingin mengunjungi pasiraman tersebut tidaklah sulit. Arahkan saja perjalanan  menuju arah Kota Bangli, menuju lapangan Kapten Mudita Bangli. Setelah sampai, kemudian belok ke kanan cari Lembaga Permasyaraktan (LP) Bangli. Di sebelah selatan LP terdapat gerbang besar di timur jalan, tertera nama Banjar Tegal, Bebalang, Bangli. Nah, di sana masuk ke timur hingga sampai di depan Balai Banjar Tegal, kemudian lurus lagi ke timur sekitar satu kilometer, maka akan sampai di depan Pura Pasiraman Kasuma Dewi . Namun harus berhati – hati, sebab jalan menuju ke lokasi  cukup terjal dan licin, apalagi  jalannya  sedikit rusak dan  berkrikil.

Muasal Pasiraman Kasuma Dewi, Gusti Mangku Gede memaparkan, konon ada seorang raja pada zaman penjajahan kerajaan mencari Raja Tamanbali yang tinggal di Desa Tambahan Bangli yang berada  sebelah timur Banjar Tegal, dibatasi bukit dan sungai.

Karena  Raja Tamanbali diincar oleh musuh, maka warga yang bernama Pasek Dawan langsung menyembunyikan Raja Tamanbali di bawah bukit tersebut. Sehingga tidak dapat lihat oleh musuh yang juga penjajah. Raja diajak masuk ke sebuah goa yang ada  klebutan (sumber mata air).  Dari kisah inilah akhirnya tempat tersebut hingga  saat ini menjadi sebuah pasiraman yang dinamai Kasuma Dewi, lengkap dengan pura yang terdapat di atas pasiraman tersebut.

Ditanya terkait tidak boleh menggunakan kain dan harus telanjang bulat, Gusti Mangku Gede mengaku belum mengetahui secara pasti asal mula aturan tersebut. Namun dirinya mengatakan warga sekitar tidak berani  melanggar aturan yang  telah berjalan dari leluhur . Sebab, pernah ada warga setempat,  seorang anak SD mandi  menggunakan pakaian. Apa yang terjadi? Sumber mata air tersebut menjadi kering seketika. Peristiwa tersebut dinilai warga sebagai kabrebehan (masalah), maka dibuatlah suatu upacara agar sumber mata air kembali mengeluarkan air.  Upacara dilaksanakan bertujuan untuk mohon pengampunan (guru piduka) di pasiraman tersebut. Dan, airnya pun kembali mengalir deras hingga kini. Sehingga sampai sekarang ada aturan adat, bahwa siapa pun  yang malukat menggunakan pakaian, mencari air sedang cuntaka, dan menaruh pakaian di areal pancuran, akan dikenakan sanksi adat. Yaitu berupa menghaturkan banten guru piduka, dan didenda  sejumlah uang yang akan digunakan  membuat upakara.

Lantaran aturan adat seperti itu, Gusti Mangku Gede menegaskan kalau malukat harus telanjang bulat. “Sampai depan pasiraman boleh menggunakan kain, namun saat akan malukat di pancuran harus dilepas. Di sini biasa malukat secara sama - sama, baik pria maupun wanita. "Kalau yang wanita menutup bagian vitalnya  dengan tangan, dan jongkok di bawah pancuran. Sedangkan bagi yang pria boleh berdiri atau  jongkok,” terang kakek dua cucu tersebut.

Ia mengatakan tidak pernah ada yang melakukan perbuatan  asusila ketika berlangsung proses malukat . Dikarenakan saat masuk ke areal pasiraman, secara otomatis hanya fokus untuk malukat saja. Dalam pasiraman ada tiga buah pancuran. Terdiri atas dua buah pancuran pasiraman yang dipercayai agar awet muda, dan yang satu lagi adalah pancuran dianggap bisa memperlancar mendapat  keturunan.  Bahkan, dapat menyembuhkan penyakit kencing batu , yaitu pada pancuran yang terletak paling selatan.

Bila ingin malukat, lanjutnya,  cukup  membawa satu pajati dan canang sepuluh buah. Prosesi yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, yaitu melaksanakan persembahyangan di jeroan Pura Pasiraman Kasuma Dewi. Dengan mengharturkan pajati untuk  mohon doa restu di sana. Selesai sembahyang, kemudian menuju ke tempat pasiraman berupa pancuran yang ada di bawah pura tersebut. Tentunya langsung  melakukan panglukatan, dengan mengahturkan canang saja pada setiap pancuran.

Selesai  malukat, maka dianjurkan untuk sembahyang lagi ke pura, sebagai ucapkan terima kasih, dikarenakan sudah diberikan keselamatan salama proses malukat berlangsung. Terlebih juga permohonan yang diinginkan diberikan jalan terbaik dan terkabulkan.

Gusti Mangku Gede mengaku  pernah mengalami kejadian aneh secara niskala,  dihampiri oleh orang  berpostur sangat  tinggi, sepadan  dengan tiang listrik. Sosok aneh itu menghampirinya   saat ngayah di Pura Pasiraman Kasuma Dewi . “Mungkin itu adalah rarencengan dari sasuhunan yang ada di pohon pule dan taep tersebut, yang berada di atas pasiraman dan pura. Penampakannya  bertujuan untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu upakara yang kurang saat pujawali berlangsung. Saat itu saya seperti kededepan (setengah sadar),”  jelas  ayah dua anak tersebut.

Gusti Mangku Gede juga mengatakan, selain tempat malukat, secara rutin digunakan untuk melaksanakan ngabejiang ketika pujawali. Baik dari Banjar Tegal sendiri atau banjar yang ada di lingkungan Kelurahan Bebalang. Tetapi tempat yang digunakan  mlasti bukan di pasiraman, melainkan pada jeroan beji, yakni  pada sumber klebutan air, dimana  Pasiraman Kasuma Dewi itu berasal.

Bahkan ia pun mengakui, setiap piodalan berlangsung di banjar setempat  cukup mlasti di sana saja. Selain itu, juga jadi tempat untuk mencari tirtha wangsuhpada Ida Bhatara (air yang disucikan).

Hal tersebut ia ungkapkan, dikarenakan semua pratima, prasati, bahkan tapakan sasuhunan berupa barong dan rangda, bahan dasar berupa kayu mereka nunas (minta) di sana. Yaitu bersumber dari pohon kayu  taep dan pule, yang ada di atas pasiraman tersebut.  

"Karena itu, semua sasuhunan di sana harus mlasti ke  Beji Pasiraman Kasuma Dewi. Bahkan, ada sebuah kayu yang ditunas, dan dijadikan sebuah topeng. Maka tirtha panglukatan topeng tersebut juga harus berasal dari sana. " Ini   sebagai rasa bersyukur dan berterimakasih, karena  topeng tersebut bersumber dari kayu taep dan pule," urainya. (bx/rin/ade/yes/JPR)


loading...
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner