Sabtu, 18 November 2017

Hilman Paper: "Jejak Hilman Mattauch di Parlemen dan Metro TV"

    Sabtu, November 18, 2017   No comments

Hilman Mattauch wartawan Metro TV yang mengalami kecelakaan bersama Setya Novanto.

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Hilangnya Setya Novanto kemarin menjadi perhatian publik. Rabu malam (16/11/2017), ketika para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi mendatangi kediamannya di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ia tiba-tiba hilang. Tak diketahui di mana keberadaan Novanto. Namun, keesokan harinya, Kamis malam kemarin (17/11/2017), ia dikabarkan mengalami kecelakaan ketika hendak bertolak ke Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat. 

Mobil yang ia tumpangi, Toyota Forturner B 1732 ZLO, menabrak tiang listrik di Permata Hijau, Jakarta Selatan. Sopirnya, berdasar keterangan Kepolisian, ialah Hilman Mattauch, yang sudah dikonfirmasi Metro TV sebagai kontributornya.

Namanya langsung menjadi sorotan karena menyopiri Fortuner yang celaka itu. Apalagi beberapa saat sebelum terjadi kecelakaan Hilman baru saja melakukan telewicara langsung dengan Ketua DPR dalam tayangan Prime Time Metro TV.

Don Bosco Salamun, Pemimpin Redaksi Metro TV, memberi klarifikasi terkait keberadaan Hilman bersama Novanto. Ia mengaku baru mengetahui Hilman bersama Novanto setelah insiden kecelakaan di Permata Hijau ramai diberitakan.

“Baru kita tahu belakangan,” ujar Don Bosco melalui pesan singkat kepada Tirto. “Metro TV tidak mentolelir dan akan menindak tegas jika ditemukan pelanggaran kode etik jurnalistik dan code of conduct Metro TV.”

Baca Juga: Mantan Ketua MK: Negara ini Seakan-akan Diakali Seorang Bernama Setya Novanto

Diberhentikan, Lalu Ditugaskan Lagi
Bukan kali ini saja Hilman memantik polemik di internal Metro TV. Pada Juni 2016 lalu, Hilman pernah diberhentikan Metro TV.

Dalam surat bernomor 597/Red Metro TV/VI/16 disebutkan terhitung sejak 16 Juni 2016 Hilman diberhentikan sebagai kontributor Metro TV. Surat itu ditandatangani oleh tiga orang yaitu Bane Raja Manalu (saat itu menjabat sebagai Kepala Desk Nasional), Budiyono (saat itu menjabat sebagai Manager News Room) dan Andi Setia Gunawan (saat itu menjabat sebagai Manager News Room).

Merujuk surat tersebut, ia diberhentikan karena dua alasan yaitu (1) “tidak menjalankan fungsi sebagai kontributor Metro TV yang harus menjunjung etika profesi” dan “bertindak laksana Liaison Officer bagi individu yang bermasalah secara hukum” serta (2) “menghalang-halangi wartawan lain, termasuk tim Metro TV, dalam peliputan di KPK”.

Dua nama yang pertama, Bane Raja Manalu dan Budiyono, menolak memberikan konfirmasi tentang tandatangan yang mereka bubuhkan dalam surat pemberhentian Hilman. Dihubungi Tirto, keduanya menolak memberi penjelasan dengan alasan sudah tidak lagi bekerja di Metro TV sehingga merasa tidak punya kapasitas untuk berkomentar tentang surat pada 2016 lalu itu. Sedangkan Andi Setia Gunawan, hingga naskah ini tayang, tidak merespons usaha komunikasi yang dilakukan Tirto melalui panggilan telepon dan pesan singkat.

Menariknya, beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 7 November 2016, muncul surat dari Metro TV yang ditujukan kepada Biro Pemberitaan Parlemen (Setjen DPR). Surat yang ditandatangani Charles Meikyansyah (tertulis dalam surat sebagai manajer/kepala peliputan Metro TV) menyebutkan bahwa Hilman Mattauch “adalah benar wartawan Metro TV yang ditujukan untuk meliput kegiatan di lingkungan parlemen”.

Kendati penugasan yang baru munculnya pada 7 November 2016, namun dari Juni (saat surat pemberhentian keluar) hingga November itu Hilman tetap rutin berada di lingkungan parlemen. Hal itu dibenarkan Romdony Setiawan, Koordinatoriat Wartawan Parlemen.
“Iya. [Selama Juni-November] masih melakukan peliputan,” kata Romdony.

 Baca Juga: Pengacara Setnov Akan Tuntut KPK ke Pengadilan HAM Internasional, Mahfud MD: HAHAHA....Ini Orang Tau Hukum Gak Sich!?

Informasi yang berhasil dihimpun Tirto menyebutkan Hilman diduga melakukan perlawanan saat diberhentikan pada Juni 2016 itu. Beberapa sumber menyebutkan, salah satu bentuk perlawanan Hilman adalah membeberkan siapa-siapa saja wartawan yang menerima gratifikasi. Dari sanalah sempat muncul istilah “Hilman Paper”.

Saat dihubungi, Pemimpin Redaksi Metro TV, Don Bosco Salamun, mengaku belum bisa berkomentar lebih jauh terkait surat pemberhentian yang pernah dikeluarkan Metro TV kepada Hilman. Ia mengatakan akan mengecek lebih dulu.
“Saya harus cek dokumen-dokumennya,” ujar Don Bosco melalui pesan singkat kepada Tirto.

Sedangkan terkait apa yang disebut sebagai “Hilman Paper”, Don Bosco menolak memberikan konfirmasi.
“FYI, saya baru masuk kembali ke Metro TV per 25 November 2016,” kata Don menjelaskan konteks mengapa ia enggan memberikan konfirmasi.

Pada November itu, Putra Nababan telah mengundurkan diri sebagai Pemimpin Redaksi Metro TV dan digantikan Don Bosco. Wakil Pemimpin Redaksi saat Hilman diberhentikan pada Juni 2016 dijabat Najwa Shihab. Namun pada bulan yang sama itu pula ia mengundurkan diri sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV. Pengunduran diri itu efektif berlaku pada Juli, bulan berikutnya.

Charles Meikyansah, orang yang menandatangani surat penugasan Metro TV untuk Hilman di parlemen pada 7 November 2016, membantah penugasan kembali Hilman karena apa yang disebut sebagai “Hilman Paper”.

Dihubungi melalui telepon, Charles menjawab: “Gak begitulah.”

Hanya itu yang dikatakan Charles. Ia meminta nomor kontak reporter Tirto dan berjanji akan menghubungi kembali untuk menjelaskan lebih lanjut. Namun hingga naskah ini tayang, usaha Tirto menghubungi kembali Charles tak bersambut.

Sedangkan Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV Abdul Kohar, yang mulai bekerja sejak Juni 2016, tidak menampik adanya surat pemberhentian Hilman. Hanya saja yang bersangkutan mengajukan banding.

“Ada beberapa keberatan dia [ajukan]. Akhirnya kita [ber]sidang. Dia kemudian diberi peringatan keras,” kata Kohar.

Dia menampik bahwa peringatan keras sebagai hasil banding merupakan penekanan bahwa Hilman terbukti melakukan kesalahan. Kohar menyebut salah satu dalil yang diajukan Hilman adalah tidak adanya surat teguran lebih dulu.

“[Soal peringatan keras] bukan soal terbukti atau tidak, tapi dia tidak tahu. Dia mengakui melakukan beberapa hal, tapi karena ketidaktahuan dia,” ujar Kohar.

Kohar menampik soal apa yang disebut Hilman Paper. “Itu, kan, internal, ya. Gak ada hubungannyalah. Bukan di situ. Hilman Paper itu juga gak jelas di mana, siapa. Itu, kan, dugaan-dugaan semua,” bantah Kohar yang sebelumnya bekerja di surat kabar Media Indonesia itu.

Tirto juga bertanya tentang pelanggaran berat apa yang melatari keluarnya surat pemberhentian kepada Hilman. Kohar menjawab ringkas: “Sama kayak [yang tercantum] di dalam surat pemberhentian [16 Juni 2017].”

Kohar kemudian menegaskan: “Surat pemberhentian yang sudah keluar dan beredar dianggap tidak berlaku lagi karena ada kesalahan: yang bersangkutan merasa tidak pernah dipanggil terlebih dahulu ihwal tindakannya, juga karena penandatangan [pemberhentian] bukan dari gathering.”

Baca Juga: Terungkap,Jangan Kaget!!!, Siapa Sebenarnya Sopir Setya Novanto saat Kecelakaan, Ternyata dia Adalah....

Sepak terjang Hilman
Karier Hilman sebagai jurnalis di Metro TV dimulai dengan ditempatkan meliput wilayah Jakarta Barat sekitar 2008. Ia kemudian pindah tugas di Senayan dan sejak itu meniti karier sebagai wartawan politik.

Bagi wartawan parlemen, nama Hilman tak asing. Ia saban hari berada di sekitar press room yang terletak di Gedung Nusantara I. Di berbagai kesempatan, Hilman juga kerap hadir bersama pimpinan DPR.

Hilman biasanya berada di ruang depan press room bersama wartawan dari media lain yang bertugas meliput aktivitas politik di parlemen. Pada 2014, ketika Setya Novanto menjabat Ketua DPR, Hilman terpilih menjadi koordinator wartawan parlemen.

Ia berhasil memenangkan pemilihan Koodinatoriat Wartawan Parlemen (DPR, DPD dan MPR) periode 2014-2016 setelah menumbangkan pesaingnya, Zul Sikumbang, dari kantor berita Antara. Hilman mendapat 67 suara sedangkan Zul hanya 41 suara.

Di era kepemimpinan Hilman ruangan wartawan di Senayan mulai dibenahi. Lima hari setelah dilantik menjadi Ketua DPR, pada 6 Oktober 2014, Novanto menyambangi ruang wartawan parlemen. Dalam kunjungan itu, Ketua Umum Partai Golkar ini berjanji bakal memperhatikan fasilitas Kordinatoriat Wartawan Parlemen.

“Fasilitas tentu akan diperhatikan agar wartawan bisa bekerja lebih cepat,” kata Setya Novanto seperti dikutip Suara Pembaruan. “Pers di DPR ini, kan, corong dewan ke masyarakat.”

Namun, ketika ruangan yang kini nyaman dengan pelbagai fasilitas itu selesai direnovasi, bukan Novanto yang meresmikan. Peresmiannya dilakukan oleh Ade Komarudin pada April 2016, kolega satu partai Setya Novanto di Golkar. Ade saat itu mengantikan posisi Novanto sebagai Ketua DPR. Novanto mundur dari jabatan ketua karena tersangkut kasus “Papa Minta Saham”.

Djaka Dwi Winarko, Kepala Biro Humas DPR, menuturkan Hilman memang dikenal para pimpinan di DPR sejak menjadi koordinatoriat wartawan palemen. Ia menuturkan kontributor Metro TV itu kembali mencalonkan diri menjadi Koordinatoriat Wartawan Parlemen pada pemilihan 2016.
“[Namun] dia kalah,” kata Djaka.

Pada pemilihan 2016 itu ia bersaing dengan Romdony Setiawan, wartawan Rakyat Merdeka. Romdony saat ini masih menjabat sebagai koordiatoriat hingga 2018, mengalahkan Hilman.

Kabar mengenai aktivitas para wartawan di parlemen, khususnya dalam kegiatan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, dibiayai anggaran negara memang ada benarnya.

Djaka menjelaskan pemilihaan Koodinatoriat Wartawan Parlemen digelar dengan menggunakan anggaran negara lewat Biro Pemberitaan DPR. Pemilihan itu didanai langsung anggaran gathering. Saban pemilihan, DPR juga menyediakan uang saku bagi wartawan yang ikut dalam pemilihan itu.
“Sama seperti kita (pegawai DPR) ada uang SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas),” tutur Djaka.

Hilman Dekat dengan Setya Novanto?
Menjabat sebagai koordinatoriat wartawan parlemen membuat pria asal Sumatera Selatan moncer sebagai wartawan politik. Ia kerap muncul bersama anggota juga pimpinan dewan saban ada kegiatan. Hal biasa ia hadir dengan tokoh-tokoh penting parlemen, baik Setya Novanto, Oesman Sapta, Ade Komarudin, Fahri Hamzah hingga Fadli Zon.

Reporter Tirto, Ahsan Ridhoi, beberapa kali menyaksikan Hilman menggunakan mobil Fortuner bernopol B 1732 ZLO. Salah satunya pada 7 Agustus 2017, Hilman mengendarai mobil tersebut saat konferensi pers kasus pidato Viktor Laiskodat di DPP Nasdem, Gondangdia, Jakarta Pusat.

Dalam beberapa kesempatan rapat-rapat di DPP Golkar, baik yang dihadiri Novanto atau tidak, Hilman juga kerap hadir dengan mengendarai mobil yang sama. Seperti pada saat deklarasi DPP Golkar untuk pasangan Ridwan Kamil-Daniel Mutaqien pada 9 November lalu, atau sehari sebelum Novanto ditetapkan sebagai tersangka untuk kali kedua.

Saat penetapan Novanto sebagai tersangka untuk kali kedua, 10 November lalu, Hilman pun berada di rumah Novanto. Mobil Fortuner yang menabrak tiang di Permata Hijau juga terlihat terparkir di rumah Novanto. Hilman saat itu bahkan berperan menghubungkan wartawan dengan Sekjen Golkar Idrus Marham yang berada di dalam rumah Novanto. Sebab hanya Hilman wartawan yang boleh masuk ke rumah Novanto.

Sedangkan reporter Tirto yang lain, Adrian Pratama Taher, mendokumentasikan kendaraan Fortuner yang sama dalam laporan dari Gedung KPK pada 14 Juli 2017. Dalam berita berjudul Setnov Irit Bicara Saat Penuhi Panggilan KPK Hari Ini, Taher menulis: “Setya terlihat tiba di Gedung KPK sekitar pukul 09.50 WIB. Dengan mengenakan batik cokelat, Setnov turun dari mobil Toyota Fortuner Hitam bernomor polisi B 1732 ZLO.”

Cukup jelas: Novanto bukan cuma sekali menaiki Fortuner B 1732 ZLO. Selain saat mengalami kecelakaan di Permata Hijau, Novanto jelas menaiki mobil yang sama saat mendatangi KPK pada 14 Juli 2017 (walau sepemantauan reporter Tirto saat itu bukan Hilman yang menyopiri).

Rumor kedekatan Hilman dengan Novanto menjadi perbincangan sejak merebaknya kabar kecelakaan di Permata Hijau. Tangkapan layar (screencapture) akun Twitter yang diduga milik Hilman yang memampangkan kesan kedekatannya dengan Novanto langsung menjadi viral di media sosial.

Tirto mencoba mengkonfirmasi berbagai isu yang beredar tentang dirinya, termasuk apakah akun Twitter tersebut miliknya atau bukan, kepada yang bersangkutan langsung. Namun hingga kini Hilman tak merespons. Berdasarkan keterangan waktu yang tampak dalam layanan pesan instan WhatsApp, nomor Hilman terakhir kali online pada 07.32 WIB (16 November 2017), beberapa jam sebelum insiden kecelakaan di Permata Hijau.

Baca Juga: Klarifikasi pihak MetroTV Terkait Keterlibatan Hilman Mattauch dalam Kecelakaan yang Menimpa Setya Novanto

Usaha meminta konfirmasi tentang akun Twitter yang diduga milik Hilman kepada istri Hilman pun tak membuahkan hasil. Kendati sempat mengangkat sambungan telepon dari Tirto, namun tidak ada satu pun pertanyaan yang dijawabnya. Dia membiarkan telepon tersambung selama beberapa menit, namun tak memberikan keterangan apa pun.

Kedekatan wartawan dengan politikus ini digarisbawahi Suwarjono, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ia mengatakan, sudah sepatutnya kerja jurnalis harus dipisahkan dari kepentingan individu. Apalagi, kata dia, dalam kasus Hilman, profesinya sebagai wartawan pun menjadi persoalan ketika diketahui ia semobil dengan buruan KPK, Setya Novanto.

“Apakah posisi dia sebagai wartawan atau bagian dari orang kepercayaan Setnov? Karena kalau sebagai orang kepercayaan, harusnya profesi dia sebagai wartawan dilepaskan karena ada konflik kepentingan,” kata Suwarjono kepada Tirto.

Ia mendorong Dewan Pers untuk mengambil tindakan jika ada wartawan yang terlibat politik praktis. (gubr.ak/dc)

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner