Selasa, 07 November 2017

Tok Tok Tok, Syah! ‘MK Putuskan Penghayat Kepercayaan Masuk Kolom Agama di KTP’

    Selasa, November 07, 2017   No comments



"Resmi! Para Penghayat Kepercayaan diakui dan bisa ditulis di kolom agama yang terdapat di KTP"

Foto: Ketua MK Arief Hidayat (Foto: Ari Saputra/detikcom)

JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Mahkamah Konstitusi (MK) memberikan angin segar kepada warga Penghayat Kepercayaan. Mulai saat ini, para Penghayat Kepercayaan diakui dan bisa ditulis di kolom agama yang terdapat di KTP.

"Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya," putus Ketua MK Arief Hidayat, di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (7/11/2017).

Arief berpendapat pasal 61 ayat 1 dan pasal 64 ayat 1 UU Administrasi bertentangan dengan UUD 1945. Pasal tersebut juga dianggap tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.
"Menyatakan kata 'agama' dalam Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) Undang-undang Nomor 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 24/2013 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 232 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5475) bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk 'kepercayaan'," ucap Arief."

Menurut Arief gugatan para pemohon yang terdiri dari para penganut penghayat kepercayaan memiliki landasan hukum.

"Bahwa berdasarkan alasan-alasan hukum sebagaimana diuraikan di atas, maka kata 'agama' sebagaimana dimuat dalam Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) UU Administrasi Kependudukan harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 sepanjang tidak dimaknai termasuk 'kepercayaan'," ucapnya.

Gugatan ini diajukan oleh Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba dkk. Gugatan ini dilakukan agar para penghayat kepercayaan bisa menulis kepercayaannya di kolom KTP."Tutupnya.  

*Apa Sich Penghayat Kepercayaan?
Masyarakat pada umumnya menganggap hanya ada enam agama di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan terakhir Konghucu. Padahal di luar itu sebenarnya ada banyak agama lokal –atau sering dikenal dengan istilah kepercayaan– yang telah berkembang jauh sebelum ‘agama-agama impor’ datang ke Indonesia.

Penghayat Kepercayaan sebenarnya adalah penganut agama lokal. Kami mempercayai ajaran leluhur kami yang sudah ada jauh sebelum agama-agama besar dari luar negeri itu datang. Istilah ‘agama’ sendiri adalah istilah yang berasal dari bahasa lokal, bukan bahasa dari luar.

Dalam data yang dicatat Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003, ada 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, dengan jumlah penganut mencapai 400 ribu jiwa lebih.

Sayangnya masih banyak terjadi diskriminasi terhadap agama-agama asli Nusantara ini. Tak satupun dari 245 kepercayaan tersebut boleh dicantumkan di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Masalah ini berawal saat Sidang MPR tahun 1978 yang memutuskan bahwa aliran kepercayaan tidak termasuk dalam agama. Ini tertuang dalam ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1978. Berdasarkan ketetapan MPR tersebut Departemen Agama mengeluarkan instruksi Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1978 mengenai kebijakan aliran-aliran kepercayaan. Dalam instruksi ini Departemen Agama tidak lagi mengurusi aliran kepercayaan.

Sejak saat itu berbagai perlakuan tak adil dialami oleh penganut aliran kepercayaan, baik dari negara maupun masyarakat. Ini terentang dari tidak diakuinya pernikahan penganut kepercayaan, ketiadaan hak mereka untuk mencantumkan identitas kepercayaannya di KTP sampai dipersulit saat pemakaman jenazah.

Walaupun mengalami berbagai diskriminasi, para penganut kepercayaan masih bertahan sampai sekarang. Mereka tetap berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Untuk mengetahui lebih jauh kondisi para penghayat kepercayaan dan berbagai diskriminasi yang mereka alami. [*] 
source detik.com 


loading...
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam Terpercaya.

Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner