Loading...

Jumat, 16 Maret 2018

loading...

Nyak Sandang Masih Menyimpan Surat Utang Pemerintah Era Presiden Ir.Soekarno Kepadanya Hingga Kini

    Jumat, Maret 16, 2018   No comments

Loading...
Nyak Sandang

ACEH JAYA-ACEH, SriwijayaAktual.com – Pesawat terbang pertama yang dimiliki oleh pemerintah bernama Dakota RI-001. Burung besi itu merupakan hasil sumbangan masyarakat Aceh. Salah satunya adalah keluarga Nyak Sandang. Saat dikunjungi di kediamannya di Gampong Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, diketahui tentunya usia Nyak Sandang sudah tak lagi muda. . Namun pria kelahiran Mukhan, 4 Februari 1927 itu masih mengingat jelas peristiwa yang terjadi di tahun 1950 silam. Bahkan, ia masih menyimpan surat utang pemerintah kepadanya hingga kini.
Melansir reportase JawaPos.com, Rabu (14/03/2018), Nyak Sandang bercerita bahwa saat itu masyarakat Aceh—khususnya warga Lamno, Aceh Jaya—sangat antusias untuk menyumbang pembelian pesawat. Seruan untuk menyumbang datang dari seorang ulama bernama Abu Sabang alias Muhammad Idrus yang sangat disegani lagi dihormati.
Sebelumnya, pertemuan antara Abu Sabang beserta ulama lain dan Gubernur Aceh Daud Beureueh dengan Presiden RI pertama Soekarno baru dilaksanakan. Pertemuan itu berlangsung di Banda Aceh.
Selain bermusyarawah, mereka juga sekaligus mendengarkan keinginan Soekarno terhadap rakyat Aceh. Keinginan itu tak lain adalah agar Indonesia mempunyai burung besinya sendiri.
“Apa yang disampaikan Ayah Daud (melalui ulama) kepada rakyat ketika itu merupakan pesan dari Bung Karno. Permintaan Bung Karno. Makanya ketika itu Ayah Daud mengumpulkan semua ulama yang ada di Lamno,” demikian diungkapkan Nyak Sandang yang merupakan putra almarhum Tgk Ibrahim itu.
Gayung bersambut, masyarakat pun merespons seruan dari Gubernur Aceh melalui ulama. Mereka beramai-ramai menyumbangkan hartanya dengan tanpa pamrih dan penuh suka cita. Salah satunya tak lain adalah keluarga Nyak Sandang.
Demi membantu pemerintah, orang tua Nyak Sandang rela menjual tanah yang ditanami 40 pohon kelapa. Waktu itu, lahan tersebut laku terjual dengan harga Rp 100 ribu. Uang itu pun lantas diserahkan kepada perwakilan pemerintah.
“Apa boleh buat, saya jual karena perlu uang dan sudah cinta dengan negara. Makanya direlakan. Bukan saya yang memberikan uangnya. Tapi ayah saya. Ketika itu, uang sumbangan diserah kepada seorang Wedana Kewedanaan (Bupati) Aceh Jaya. Setelah disetor ke Calang, baru mendapat kuitansi,” imbuh Nyak Sandang.
Ada puluhan dari total 80 kepala keluarga (KK) di Desa Gampong Mukhan yang memberikan sumbangan. Pada masa itu warga masih kesulitan ekonomi, sehingga tak semuanya dari mereka dapat membantu pembelian pesawat untuk NKRI tercinta.
Tanda Bukti Obligasi
“Ketika itu orang-orang ramai ikut menyumbang untuk membeli pesawat. Saat itu warga di desa kami tidak terlalu ramai. Walaupun ketika itu sumbangan dianggap sebagai obligasi, tapi tidak semuanya orang menyumbang. Karena warga miskin,” imbuhnya kemudian.
Masyarakat yang telah menyumbang lantas mempunyai tanda bukti berupa obligasi. Ini berarti, pemerintah Indonesia berutang dan akan menggantinya dalam jangka 40 tahun.
“Sejak awal menyumbang, saya ikhlas. Dijanjikan akan diganti dan dikembalikan. Negara yang berutang kepada kami,” tukas Nyak Sandang.

Usai uang sumbangan terkumpul seluruhnya di Kewedanaan Aceh Jaya, uang tersebut pun diserahkan kepada Soekarno untuk kemudian dibelikan pesawat.
Setelah mengetahui Indonesia memiliki pesawat, Nyak Sandang sangat senang. Ia bersyukur karena bisa memberikan sesuatu yang berharga dan membantu Indonesia. Nyak Sandang juga sempat melihat langsung pesawat yang membawa Soekarno menjelajahi Indonesia lewat udara.
“Saya pernah lihat pesawatnya. Ketika itu pesawat terbang menuju Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Kami semua ketika itu sangat gembira. Kami menunjuk-nunjuknya. Kami sekampung melampaikan tangan dan berkata, itu pesawat yang kami bantu beli. Itu punya kami. Sudah terbang (pesawat) kami,” cetusnya sambil mengembangkan senyum.
Ban pesawat Dakota RI-001 sudah mencium sejumlah landasan udara di Indonesia. Akan tetapi, Nyak Sandang belum pernah melihat RI-001 dari jarak dekat. Apalagi menyentuh langsung badan pesawat.
Kendati demikian, hal itu tak lantas membuatnya lupa pada bukti obligasi yang pernah diterimanya karena sudah ikut menyumbang dana pembelian pesawat. Bukti berupa secarik kertas itu disimpannya—dijaga baik-baik. Sampai sekarang, pihak pemerintah tak kunjung mengganti sumbangan pembelian pesawat tersebut.
“Alasan saya menyimpannya karena ayah saya berpesan, saya harus menjaganya. Itu sebagai tanda kami berjasa kepada pemerintah dan Indonesia. Sehingga pemerintah nantinya juga melihat (jasa) kami,” pungkasnya.
Mengutip laman Wikipedia.org, Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut yang merupakan pesawat ke-2 milik Republik Indonesia. Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang diberi nama Seulawah ini dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.
Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam. [*]
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...