Loading...

Sabtu, 28 April 2018

loading...

BIN: Takmir Masjid Harus Bisa Menjadi Benteng dari Paham Radikalisme

    Sabtu, April 28, 2018   No comments

Loading...
Kepala BIN Budi Gunawan bersilaturahmi dengan Ulama dan Takmir Masjid Se Jawa Tengah di Masjid Agung, Semarang, Jawa Tengah (MAJT), Sabtu, 24 April 2018. ( Foto: istimewa )
  • Masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk fisik maupun fungsi dan perannya. 
  • Saat ini muncul kekhawatiran banyak masjid disinyalir menjadi tempat pengajaran dan penyebaran paham radikal yang menjadi bibit-bibit munculnya terorisme.

SEMARANG-JATENG, SriwijayaAktual.com - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan menegaskan, takmir masjid atau pengurus masjid harus menjadi garda terdepan dalam membentengi tempat ibadah dari paham radikal maupun politik praktis. Ini agar masjid tidak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian, terutama menjelang tahun-tahun politik seperti saat ini.

"Perlu kiranya dipikirkan untuk melakukan pelatihan peningkatan kapasitas dalam rangka mendorong dan meningkatkan kemampuan takmir masjid mewujudkan masjid sebagai media penyebaran Islam yang rahmatan lil 'alamin dan pemersatu bangsa," kata Kepala BIN pada acara silaturahim dengan Takmir Masjid Se-Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Sabtu (28/4/2018).

Dalam sambutannya, mantan waka Polri ini menjelaskan, masjid telah mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk fisik maupun fungsi dan perannya.
"Alhamdulillah, dimana ada komunitas muslim di situ ada masjid," kata purnawirawan jenderal bintang empat Polri ini.

Di masa Nabi Muhammad Rasulullah, lanjut dia, masjid memiliki multifungsi, selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat menimba ilmu (tholabul ilmi), tempat bermasyarakat, dan tempat syi'ar dakwah Islam sehingga Islam bisa mencapai titik kejayaan dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

"Kita bersyukur sekarang ini suasana dakwah dan penyebaran Islam di Tanah Air tumbuh dengan pesat. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran keagamaan dan pembinaan akhlaq di kalangan masyarakat telah membaik," kata Budi yang juga sebagai Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) ini.

Namun, saat ini muncul kekhawatiran banyak masjid disinyalir menjadi tempat pengajaran dan penyebaran paham radikal yang menjadi bibit-bibit munculnya terorisme. 

Bahkan, lanjut dia, ceramah-ceramah agama di masjid-masjid saat ini banyak berisi ateri yang mengajak orang untuk "berperang" melawan orang yang berbeda keyakinan dan agama, serta menggiring para jemaah untuk melakukan kekerasan atas nama agama.

"Banyak generasi muda yang punya semangat keagamaan tinggi, tetapi tidak cermat dan kritis memilah dan memilih sumber referensi akhirnya ikut bergabung demi imajinasi indah yang menyesatkan," kata Budi.

Kelompok intoleran Di samping itu, kata dia, bersamaan dengan aktivitas ritual yang dapat dikembangkan di masjid, kelompok intoleran juga telah melakukan sejumlah aksi yang justru merugikan umat Islam.

"Banyak pengalaman menunjukkan, misalnya, kondisi di Timur Tengah yang hancur pascag elombang Arab Springs. Fenomena ini terjadi bermula dari khotbah intoleran dan radikal yang dikembangkan di masjid," ujarnya.

Khotbah para pengikut intoleran dan radikal berbeda dengan ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW yang lebih ditekankan pada penegasan implementasi taqwa dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sedangkan kelompok intoleran menekankan pada tema politik dan hasutan-hasutan yang merusak citra pemimpin dan citra umat Islam yang ingin mengajarkan Islam rahmatan lil alamiin.

"Pada titik inilah, masjid perlu tetap dikelola sesuai fungsinya, sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan, pengajaran dan pembangunan karakter positif serta harus menjadi peredam gerakan radikalisme, bukan justru menjadi pusat pengajaran paham radikalisme maupun intoleran yang dapat memecah-belah bangsa sehingga mengancam keselamatan dan keutuhan NKRI. Masjid harus menjadi pilar ketahanan umat (society resilience) dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan," papar Budi.
Ia pun menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya terkait peran positif yang telah-sedang-akan selalu diberikan oleh para ulama/kiai dan para takmir masjid, dalam merawat prinsip-prinsip kebersamaan dan kerukunan kebangsaan di Indonesia.

"Saya berharap takmir masjid dapat menggali dan menginventarisasi potensi-potensi yang ada untuk kepentingan umat, baik dari sisi advokasi, pemberdayaan dan sebagainya sehingga kerahmatan masjid dapat dirasakan oleh masyarakat," katanya. (antara) 

"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...