Loading...

Sabtu, 28 April 2018

loading...

"DEPOK, KOTA YANG MEMBUNUH IDENTITASNYA"

    Sabtu, April 28, 2018   No comments

Loading...
Salah satu sudut wajah Kota Depok di usia 19 tahun pada 27 April 2018. (Foto: Grandyos Zafna)

DEPOK-JABAR, SriwijayaAktual.com - Jati diri kota Depok sangat mudah ditelusuri di sepanjang jalan protokol kota itu. Sayangnya situs yang menjadi penanda jati diri itu keberadaannya dimutilasi, diisolasi, dan dibiarkan terbengkalai hingga beberapa diantaranya lenyap.

Mencari keberadaan situs ini tak sulit, jika kita memasuki Kota Depok dari Lenteng Agung, Jakarta Selatan, kita akan disambut dengan kampung bernama Pondok Cina di Jalan Margonda. Walau bernama Pondok Cina, tak ada pecinan di daerah ini. Nama Pondok Cina diambil dari sebuah rumah milik orang cina yang dulu menjadi bangunan paling tinggi di daerah itu.

Rumah ini menjadi bagian penting ketika Cornelis Chastelein membangun pertanian di atas tanah terletak antara Batavia dengan Buitenzorg pada 1696, yang berjarak 5 kilometer dari rumah Pondok Cina. Chasteleien membatasi kedatangan orang-orang Cina untuk berdagang di tanahnya hingga matahari terbenam.

Pada sore hari mereka kembali lagi ke Batavia. Kampung Bojong, nama kampung tempat rumah Pondok Cina, berdiri menjadi persinggahan sekaligus hunian sementara. Buku Berkembang Dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an karya Tri Wahyuning M. Irsyam, menuliskan orang Cina diterima tuan tanah dan mendirikan pemondokan di wilayah itu. 

Rumah Pondok Cina sendiri dibeli oleh Lauw Tek Tjiong, kemudian diwariskan kepada anaknya Lauw Cheng Shiang. Foto yang terpampang dalam foto Tri menunjukkan bentuk rumah itu secara utuh. Bangunan teras dan ruang depan dibentuk dengan gaya eropa. Bagian tengah ke belakang gaya itu dipertahankan dengan menggunakan atap genteng.

Namun kondisi rumah yang menjadi pintu masuk Depok ini kini dalam kondisi mengenaskan. Kemegahan rumah Pondok Cina diimpit oleh The Margo Hotel dan Mall Margo City. Bangunan yang dipertahankan-pun hanya teras dan ruang depan saja, bahkan sempat dimanfaatkan menjadi kafe.

Dari Pondok Cina kita melaju ke selatan lagi, kemudian berbelok menuju ke Jalan Raya Bogor. Lahan luas milik Radio Republik Indonesia (RRI) di Kecamatan Cimanggis menyimpan sebuah rumah besar milik janda Gubernur Jenderal VOC, Adrianna Johanna Bake.

Rumah itu merupakan bangunan ikonik karya arsitektur Indies pertama, David J. Smith, yang diyakini dibangun pada 1771-1775. Ia memadukan kemegahan gaya arsitektur Louis XV dengan gaya tropis yang memiliki atap menjorok dan lebar. Selain itu ornamen heraldik dari pahatan kayu menunjukkan bentuk bunga sebagai lambang keluarga. 

Tak hanya itu keberadaan rumah ini merupakan pembuka sisi Depok yang masih berbentuk belantara di antara kampung Betawi. Rumah ini menjadi persinggahan para orang Belanda yang hendak pergi ke Buitenzorg dari Batavia atau sebaliknya.

Kuasa Johanna meliputi tanah berhektar-hektar di sekitar rumah itu. Perkembangan ekonomi membuatnya membangun Pasar Cimanggis (sekarang Pasar Pal) yang berjarak sekitar satu kilometer.

Namun berharap keindahan atas bangunan ini akan menuai kekecewaan. Hampir separuh atap rumah ini hancur karena tak dipelihara. Belukar menutup seluruh rumah hingga ke dalam ruangan. Padahal pada 2013 lalu, rumah ini masih dalam kondisi utuh dan bersih.

Setelah mengecap rubuhnya situs di pinggir jalan raya penghubung Batavia Buitenzorg, kita berjalan terus ke selatan menuju jantung tumbuhnya Depok sebagai daerah kosmopolitan pada masa kolonial, ke area milik Cornelis Chastelein di kawasan Depok Lama. Sederet rumah di sepanjang Jalan Pemuda merupakan tanah bekas milik Chasteleien. 
Hotel The Margo berdiri di lahan bekas bangunan bersejarah, Pondok Cina. Foto: Grandyos Zafna

Ia menggarap tanahnya hingga memiliki sekitar 150 budak. Tri Wahyuning menuliskan Chasteleien mengembangkan tanahnya dengan sangat baik. Ia memperlakukan budak dengan hubungan bapak-anak.

Ketika meninggal pada 28 Juni 1714, Chasteleien membagi tanahnya ke para budaknya. Perintah wasiat ini tak terlaksana dengan mulus sehingga tanah itu berkembang menjadi pemukiman eropa.

Beberapa bangunan masih dapat dipertahankan bentuknya namun jumlah menyusut. Sejarawan JJ Rizal menganggap pelestarian cagar budaya tak dapat melindungi sekitar 50 rumah peninggalan Belanda di daerah itu. Jual beli dibiarkan begitu saja hingga si pemilik menghancurkan bangunan tanpa perlindungan cagar budaya.

"Sejarah itu menunjukkan identitas suatu daerah, dan identitas itu sudah dibunuh di Depok dengan membiarkan rumah bersejarah tak terlindungi," keluhnya.

Pembunuhan melalui absennya kebijakan ini hanya salah satunya. Rizal menyebutkan penentuan hari ulang tahun Depok pada 27 April-pun didasarkan pada saat kota Depok lepas dari Kabupaten Bogor. Keputusan ini mengesampingkan fakta sejarah Depok memiliki akar sejarah sejak zaman kolonial.

"Ini kan gila, peninggalan sejarah dibiarkan hancur dan jejak sejarah sebagai kota kosmopolitan dihilangkan begitu saja dari ingatan. Ini pembunuhan identitas kota itu sendiri," tegasnya. (detik/ayo/jat)
"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...