Loading...

Rabu, 29 Agustus 2018

loading...

Pollycarpus Terdakwa Kasus Pembunuhan Munir Aktivis HAM, BEBAS MURNI sekarang, Bagaimana Tanggapan Aktivis di Kota Palembang?

    Rabu, Agustus 29, 2018   No comments

Loading...
Ilustrasi

PALEMBANG-SUMSEL, SriwijayaAktual.com - Terkait bebas murni (29/8/2018) Pollycarpus Budihari Prijanto yang merupakan Pilot Garuda terdakwa  Kasus Pembunuhan Alm.Munir Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), apa tanggapan dari para aktivis mahasiswa di Kota Palembang, Provinsi Sumsel?  


Berikut dibawah ini beberapa komentar atau tanggapan dari para aktivis mahasiswa di Kota Palembang saat Sriwijaya Aktual konfirmasi, Rabu (29/8/2018);  

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Palembang, Ferdinan,  mengatakan menyayangkan Munir aktivis HAM  yang dibunuh hingga saat ini tidak pernah ditemukan otak atau sutradara pelakunya. Namun juga positif tinking atau Berbaik sangka saja atas  munculnya  isu alasan Munir ingin membawa misi khusus  HAM ke indonesia agar bebasnya hak berpendapat, hak hidup dan hak-hak lainya  terhadap setiap warga negara indonesia."Ujarnya. 

"Namun percaya dengan menyerahkan proses hukum Negara Indonesia dalam upaya menegakkan keadilan bagi rakyat Indonesia dan untuk  kedaulatan Negara Indonesia, bukan untuk Negara Asing."Katanya.

"Selain itu, berharap kedepan Penegakan hukum di indonesia harus ditegakan seadil-adilnya pada kasus hukum di semua hal permasalahan. Karena hukum adalah panglima tertinggi untuk warga dan Negara Indonesia."Tandasnya Ferdinan. 

Sementara itu, Presiden Mahasiswa (Presma) UIN RF Palembang, Imam Santoso, mengatakan mengakui banyak sekali lika-liku proses hukum kasus  pembunuhan Munir aktivis HAM dengan terdakwa   Pollycarpus Budihari Prijanto tahun 2004 yang hingga saat ini  masih mengisahkan misteri. 

"Proses  keputusan hukum pun  berubah-ubah setiap tahunnya dan saat Pollycarpus Budihari Prijanto  mengajukan banding dan justru  ditahan atas dasar pemalsuan surat bukan atas kasus pembunuhan munir aktivis HAM."Ujarnya.  

Menurutnya, sungguh ironis juga jika melihat penegakan hukum di Indonesia untuk para aktivis  seperti Wiji Thukul sampai saat ini juga tidak ada yang tau keberadannnya."Katanya  

Mungkin  masyarakat Indonesia saat ini berharap dan berpesan supaya  aparat penegak hukum menindaklanjuti kasus Munir, Wiji Thukul dan seluruh aktivis 98 yang diculik hingga dibunuh. Sehingga terbongkar siapa dalang atau sutradara tragedi hilangnya nyawa para aktivis."Tandasnya Imam.   

Selain itu, saat di konfirmasi Sriwijaya Aktual Formatur Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam  Sumatera Bagian Selatan (Badko HMI Sumbagsel),  Bambang Irawan yang lebih akrab disapa Jibon, mengatakan sangat disesalkan pelaku lapangan yang kita tahu dari putusan pengadilan bahwa ada keterlibatan Pollycarpus Budihari Prijanto,  bahkan setelah dia diadili ditahan dipenjara dan sekarang bebas itu tidak membuka sedikit celah dengan fakta kematian Munir.  Padahal jika  kita cermati banyak keterlibatan beberapa orang seperti mantan Deputi Badan Intelijen Negara (BIN) Muchdi Pr, Indra Setiawan dan Chairul Aini."Ujarnya. 

Melihat kasus ini, menurutnya Jibon terkesan  tidak dikembangkan sungguh-sungguh oleh pihak yang berwajib.
"Dari awal kasus ini dikembangkan atau di proses sepertinya sudah ada kejanggalan. Muchdi PR yang di duga sebagai otak dari pembunuhan Munir malahan di bebaskan begitu saja. Seharusnya pihak berwajib mengembangkan betul kasus ini. Karena ini kasus pembunuhan berencana."Tuturnya Jibon. 

Meyakini saat itu diduga  ada keterlibatan BIN, namun sepertinya pihak yang  berwajib tidak mengungkap hal yang menjadi isu selama ini. "Dengan bebasnya Pollycarpus Budihari Prijanto  menimbulkan pertanyaan apakah  Instansi penegak hukum di Negeri ini masih belum adil dan menjalankan amanat UUD 1945?."Gamangnya. 

"Dalam putusan MA diterangkan bahwa Pollycarpus Budihari Prijanto membunuh Munir dengan alasan menegakan NKRI dan munir kerap sekali melontarkan kritik keras terhadap pemerintah, sehingga diduga akan menjadi penghalang roda  pemerintahan Negara Indonesia.

Muchdi PR  menggerakkan Pollycarpus Budihari Prijanto untuk membunuh Munir dengan motif balas dendam. Muchdi PR dimungkinkan telah sakit hati akibat pengungkapan kasus pembunuhan  Munir yang mengakibatkan Muchdi PR  dicopot dari jabatan Danjen Kopassus, "Hal  ini keterangan Jaksa ditahun 2008 krn polisi sempat menahan Muchdi PR."Tuturnya Jibon.  

Lanjutnya Jibon, mungkin sampai di titik itu perkaranya terang, faktanya juga ada. Oleh sebab itu,  Presiden Joko Widodo mempunyai  kesempatan atau peluang  untuk menuntaskan dan mengungkap  kasus Munir. Ada apa dan mengapa motif pembunuhan Munir aktivis HAM?. 

Secara pribadi,  kurang puas atau  gamang  nerima kebebasan Pollycarpus Budihari Prijanto.  Karena kasus itu belum terang benderang dan sekaligus  mencerahkan rakyat Indonesia. "Terlepas dampak positif dan negatif adanya UU HAM diberlakukan di Negara Indonesia."Tandasnya Jibon. 

Sebagai informasi untuk diketahui, bahwa pada Hari ini Rabu 29 Agustus 2018, Pollycarpus Budihari Priyanto resmi bebas dari Lapas Kelas 1 Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.  Pollycarpus Budihari Priyanto bebas setelah divonis hukuman penjara selama 14 tahun. 

Berikut lika-liku proses hukum Pollycarpus Budihari Priyanto: 

1) 18 Maret 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto  ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan Munir.

2) 9 Agustus 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto  menjalani sidang perdana kasus pembunuhan Munir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ketua majelis hakim Cicut Sutiyarso. Sedangkan hakim anggotanya adalah Sugito, Liliek Mulyadi, Agus Subroto dan Ridwan Mansyur. Sementara jaksa penuntut umum adalah Edi Saputra, Suroto, dan Gianto.

3) 1 Desember 2005, Jaksa Penuntut Umum menuntut Pollycarpus Budihari Priyanto  dengan hukuman seumur hidup.

4) 12 Desember 2005, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhi hukuman 14 tahun penjara kepada Pollycarpus Budihari Priyanto. Dia dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir dengan cara memasukkan racun arsenik ke dalam mie goreng yang disantap Munir saat penerbangan menuju Singapura.

5) 27 Maret 2006, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengukuhkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tetap menghukum PPollycarpus Budihari Priyanto 14 tahun penjara.

6) 3 Oktober 2006, MA mengeluarkan keputusan kasasi yang menyatakan Pollycarpus Budihari Priyanto tidak terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Munir. Hanya terbukti bersalah menggunakan surat dokumen palsu untuk perjalanan. Polly lantas hanya divonis 2 tahun penjara.

7) 3 November 2006, Pollycarpus Budihari Priyanto  dieksekusi dengan dijebloskan ke LP Cipinang.

8) 25 Desember 2006, Pollycarpus Budihari Priyanto  bebas dari LP Cipinang setelah mendapat remisi susulan 2 bulan dan remisi khusus satu bulan.

9) 26 Juli 2007, Kejagung mendaftarkan permohonan PK ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

10) 25 Januari 2007, MA mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan kejaksaan terkait pembunuhan aktivis HAM Munir. Pollycarpus Budihari Priyanto  divonis 20 tahun penjara. Ia menyatakan akan mengajukan PK atas putusan PK tersebut.

11) 28 November 2014, Pollycarpus Budihari Priyanto  dinyatakan bebas bersyarat berdasarkan Surat Keputusan (SK) PB yang ditetapkan Menteri Hukum dan HAM RI sejak 13 November 2014. Mantan pilot Garuda tersebut sudah menjalani masa penahanan selama lebih delapan tahun.

12) 29 Agustus 2018, Pollycarpus Budihari Priyanto  bebas murni. Dia bebas murni setelah mengakhiri masa bimbingan pembebasan bersyarat. (Red). 



"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...