Loading...
Loading...

Kamis, 20 Desember 2018

loading...

Ada Apakah? Perusahaan Sandiaga Uno Dijual & Dibeli Luhut Binsar Panjaitan Jenderal Loyalis Total Jokowi

    Kamis, Desember 20, 2018   No comments
iklan

Loading...
foto/istimewa

JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Perusahan milik Sandiaga Uno, Cawapres nomor urut 02, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Batu Hitam Perkasa, Kamis (12/12/2018) lalu.
 
Pembeli saham tersebut adalah PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) dan PT Toba Bara Energi.
Perusahaan ini adalah milik Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, yang merupakan pendukung Presiden Jokowi.

Sebagai informasi Batu Hitam Perkasa merupakan pemegang 5% saham di PT Paiton Energy yang mengoperasikan dua unit pembangkit listrik komersial bertenaga batubara dengan kapasitas 615 megawatt (MW) di Probolinggo, Jawa Timur.

Perusahaan ini juga mengoperasikan satu unit pembangkit bertenaga batubara berkapasitas 815 MW dengan teknologi boiler bersistem supercritical.

Selain itu Batu Hitam Perkasa merupakan pemegang 5% saham di Minejesa Capital BV, perusahaan penerbitan obligasi global untuk kepentingan Paiton Energy. 

“Saratoga Investama Sedaya telah menjual seluruh kepemilikan sahamnya di Batu Hitam Perkasa sebesar 16,7% dengan nilai total setara US$ 9 juta,” kata Head of Legal and Corporate Secretarial Division Saratoga Investama melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu.

Ia mengklaim bahwa perusahaan milik pengusaha dan cawapres Sandiaga Uno ini melepas kepemilikan saham di Batu Hitam Perkasa dalam rangka menyelesaikan siklus investasi perusahaan.

Namun, ia tidak memberikan keterangan detail terkait siklus investasi tersebut.
Lalu bagaimana langkah selanjutnya dari Toba Bara Sejahtera dan Toba Energy setelah resmi mengambil alih saham Batu Hitam Perkasa dari Saratoga Investama Sedaya?

Direktur Toba Bara Sejahtera Pandu Patria Sjahrir menyebut, pihaknya akan mengubah fokus perusahaan dari perusahaan pertambangan batubara menjadi perusahaan energi yang terintegrasi atau integrated energy corporation.

Namun, ia belum mau memberikan keterangan lebih lanjut mengenai rencana tersebut, termasuk mengenai berapa belanja modal atau capital expenditure (capex) yang akan dianggarkan.
“Nanti akan kami infokan secara spesifik ke publik,” tegas dia.

Asal tahu saja, Paiton Energy yang didirikan pada tahun 1994 merupakan pemasok 6% kebutuhan energi listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Pemegang saham Paiton Energy yakni Mitsui (45,5%), Nebras Power (35,5%), JERA (14%) dan Batu Hitam Perkasa yang kini dialihkan ke Toba Bara Sejahtera dan Toba Bara Energy (5%).

Setelah beli saham Paiton Energy, Toba Bara Sejahtra (TOBA) akan ekspansi lagi
Usai mengakuisisi PT Paiton Energy, sekarang PT Toba Bara Sejahtra Tbk mengincar pembangkit listrik tenaga gas dan pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT).

“Jadi buat kita, untuk mengembangkan ataupun akuisisi, kita melihatnya yang non PLTU. Ada beberapa yang sedang kita lihat (gas dan EBT) tapi memang fokusnya ke pembangkit tenaga listrik,” kata Direktur Toba Bara Sejahtra Pandu Patria Sjahrir, pada Kontan.co.id, Rabu (19/12/2018).

Pandu bilang, kini Toba Bara sudah mendiskusikan rencana akuisisi pembangkit listrik ini.
Dalam mencari pembangkit listrik yang bakal diakuisisi, kata Pandu, pihaknya selalu mencari pembangkit yang memiliki kapasitas di atas 50 mw. “Maksimal kita sanggup di 200 mw,” imbuhnya.

Jika tak ada aral melintang, rencana akuisisi ini bakal realiasasikan pada tahun depan. Sebelumnya ia menyatakan emiten berkode saham TOBA ini akan mengubah fokus perusahaan dari pertambangan menjadi perusahaan energi yang terintegrasi.

Sebagai informasi, TOBA baru saja menyelesaikan transaksi akuisisi saham PT Batu Hitam Perkasa dari PT Saratoga Investama Sedaya (SRTG). 

PT Batu Hitam Perkasa merupakan pemegang 5% saham dari PT Paiton Energi yang mengoperasikan dua unit pembangkit listrik bertenaga batubara dengan kapasitas 615 MW di Probolinggo, Jawa Timur.
Selain itu, Paiton Energy juga mengoperasikan PLTU berkapasitas 815 MW.

Dengan akuisisi PT Paiton Energi, Sekretaris TOBA, Elizabeth Novi Sagita Aruan mengharapkan kinerja dari Paiton Energi dapat maksimal sehingga tujuan investasi TOBA tercapai. 

Untuk tahun depan, Novi menuturkan perusahaan masih fokus dalam bisnis energi khususnya di bidan kelistrikan maupun bisnis pertambangan.

Saat ini perusahaan juga memiliki proyek pembangkit listrik Sulbagut-1 dan Sulut-3 yang dikelola oleh anak usaha PT Gorontalo Listrik Perdana dan PT Minahasa Cahaya Lestari.
"Proyek Sulbagut-1 sedang tahap konstruksi dan untuk Sulut-3 dalam tahap penncapaian financial close,” ujarnya, Selasa (18/12).

Pada 2020 mendatang, Pandu memproyeksi bisnis kelistrikan ini bakal berkontibusi lebih banyak ketimbang pendapatan dari bisnis pertambangan.
“Pendapatan pada 2020 atau 2021 kontribusinya sama, bisnis kelistrikan bisa menyumbang lebih,” pungkasnya.

Toba Bara Sejahtra (TOBA) optimistis bisa produksi 6 juta ton
PT Toba Bara Sejahtra Tbk menargetkan produksi batubara 5 juta ton hingga 6 juta ton sepanjang 2018. Sampai September 2018, emiten berkode saham TOBA ini sudah berhasil memproduksi 3 juta ton batubara.

“Hingga akhir tahun produksi batubara kami sudah sesuai dengan target,” kata Sekretaris TOBA, Elizabeth Novi Sagita Aruan pada Kontan.co.id, Selasa (18/12).

Novi mengaku sampai sekarang TOBA sudah memenuhi ketentuan DMO 25%. Sementara sisanya dipasarkan ke luar negeri. 

Ia bilang, untuk produksi tahun depan tak jauh berbeda dengan tahun ini. “Kami belum ada rencana untuk menjual ke pasar baru, tahun depan target pasar kami masih tetap di ASEAN,” imbuhnya.
Penjualan batubara TOBA paling banyak masih ke Taiwan. Direktur Toba Bara Sejahtra Pandu Patria Sjahrir juga optimis TOBA bakal mencapai produksi 6 juta ton batubara pada tahun ini.

Dalam lini bisnis pertambangan, Pandu bilang kini TOBA tengah mempelajari lebih lanjut untuk hilirisasi batubara.
“Kita selalu mengikuti keinginan pemerintah untuk hilirisasi. Kalau untuk gasifikasi kita masih pelajari lebih lanjut karena gasifikasi untuk batubara berkalori rendah,” ungkapnya, Rabu (19/12).

Sehingga, Pandu menambahkan TOBA masih mengkaji lebih lanjut untuk hilirisasi batubara. Sebagai informasi batubara milik TOBA memiliki kalori 5200 hingga 5700 kkal/kg.
Sayangnya, ia belum dapat menyampaikan berapa belanja modal yang dialokasikan untuk tahun depan. (tm/***)

Lihat Juga Video dibawah ini;



"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :
Tidak ada komentar:
Write komentar

Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...