Loading...

Senin, 11 Februari 2019

loading...

Aduh!! Bengkulu Rawan Gempa Berpotensi Tsunami, ini Penyebabnya...

    Senin, Februari 11, 2019   No comments

Loading...
Tempat Wisata Pantai Panjang Bengkulu [net]



BENGKULU, SriwijayaAktual.com - Bengkulu merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia. Wilayah tersebut juga menjadi kawasan megathrust. Namun, apakah megathrust tersebut? 

Bengkulu merupakan suatu daerah dengan tatanan tektonik atau lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata, sesar naik. Sehingga provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia'' ini sering dilanda banyak gempa besar dengan kedalaman dangkal.

Dari catatan sejarah gempa, daerah ini di dominasi gempa dengan mekanisme sesar naik. Merujuk peta sumber dan bahaya gempa Indonesia tahun 2017, khusus Bengkulu setidaknya terdapat dua segmen subduksi, yakni megathrust Mentawai-Pagai dan megathrust Enggano, namanya.  

Dua segmen tersebut menjadi generator utama untuk gempa-gempa megathrust di wilayah Bengkulu. Di mana setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa maksimum yang berbeda. 

Pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, kekuatan maksimum gempa wilayah ini mencapai M=8.9. Sementara pada segmen Enggano kekuatan maksimum-nya sedikit lebih kecil, M=8.4. 

''Bengkulu sering di landa gempa karena terdapat dua segmen subduksi megathrust,'' kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, Minggu (10/2/2019). 

Sejarah Gempa Besar di Bengkulu
Bengkulu sempat di landa gempa berkekuatan dahsyat, yaitu, Minggu 4 Juni 2000 dengan kekuatan Mw=7,3. Kemudian, pada Rabu 12 September 2007 dengan kekuatan Mw=8,4. Dua gempa besar tersebut berlokasi relatif berdekatan. 

Dua gempa tersebut pada dasarnya dibangkitkan segmen megathrust yang berbeda. Di mana gempa pada Minggu 4 Juni 2000, disebabkan megathrust Enggano. Sementara, gempa pada Rabu 12 September 2007 dibangkitkan megathrust Mentawai-Pagai. 

Segmen Enggan, lanjutnya, sejak tahun 2000 hingga 2019 belum ada gempa besar melebihi M=7,0 yang terjadi pada segmen tersebut. Meskipun demikian, aktivitas segmen Enggano tetap tinggi. 

“Buktinya, adanya rekaman gempa-gempa kecil yang tercatat di BMKG Kepahiang. Sehingga segmen ini terus melepaskan energi sepanjang waktu dalam bentuk gempa-gempa kecil,” ujarnya. 

Sementara, pada segmen megathrust Mentawai-Pagai, sambung Sabar, selain gempa pada Rabu 12 September 2007, gempa besar terakhir terjadi pada Senin 25 Oktober 2010, dengan kekuatan Mw=7,7. Gempa ini diikuti gelombang tsunami dan menelan banyak korban jiwa. 

''Secara langsung gempa 2010, memang tidak berdampak pada daerah Bengkulu. Namun getaran gempa dirasakan cukup kuat di beberapa daerah seperti Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu,'' sampai Sabar. 

Berdasarkan catatan sejarah gempa di masa lalu, jelas Sabar, zona megathrust Mentawai-Pagai ini pernah mencatat sejarah kelam dengan terjadi gempa dahsyat pada tahun 1883, dengan kekuatam M=9,0. Dampaknya, tidak hanya sekitar wilayah Sumatera Barat, melainkan wilayah lain ikut terdampak. Seperti, Bengkulu. Dampak gempa tersebut menimbulkan gelombang tsunami di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. 

Sabar menyampaikan, akhir-akhir ini segmen Mentawai-Pagai kembali menunjukkan eksistensinya. Pada Sabtu 2 Februari 2019, terjadi gempa dengan kekuatan M=6,1 pada bagian paling utara segmen ini. Intensitas gempa maksimum mencapai IV-V MMI dirasakan di Mentawai. Intensitas IV-V MMI ini berpotensi mengakibatkan kerusakan pada perabot rumah tangga. Frekuansi gempa susulannya pun cukup tinggi, dalam tiga hari gempa susulan mencapai 116 kali. 

''Gempa itu dirasakan di beberapa tempat di Provinsi Bengkulu. Seperti Mukomuko, Kota Bengkulu bahkan hingga ke Kabupaten Kepahiang,'' sampai Sabar. 

Jadikan Evakuasi Mandiri sebagai Budaya
Sabar mengatakan, sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan zona seismik aktif, masyarakat Bengkulu musti selalu dan dituntut membudayakan siaga bencana. Sebab, secara alamiah baik segmen Mentawai maupun segmen Enggano terus melepas energi gempa baik dalam bentuk gempa kecil maupun gempa besar. 

''Sampai saat ini kita belum mampu memprediksi secara akurat, kapan dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi,'' tegas Sabar. 

Oleh karena itu, lanjut Sabar, seluruh lapisan masyarakat selayaknya harus menyiapkan diri untuk terus meningkatkan upaya mitigasi. Menguasai jalur evakuasi di sekitar lingkungan. Selian itu, masyarakat harus mengerti cara penyelamatan diri saat terjadi gempa kuat yang berdampak pada gelombang tsunami. 

Guncangan gempa kuat dan durasi yang cukup lama berkisar 20 detik sebagai peringatan dini dari alam. Beberapa kasus, jelas Sabar, ada gempa yang tidak dirasakan kuat, namun dengan durasi yang cukup lama sekira >60 detik dapat menjadi tanda gempa besar yang dapat memicu gelombang tsunami. Seperti, tsunami Mentawai 2010. 

Artinya, tambah Sabar, tanpa harus menunggu peringatan resmi dari pemerintah, masyarakat harus segera menjauhi pantai, saat terjadi gempa kuat dan durasi lama. Sebab, gelombang tsunami datang dalam waktu yang sangat singkat sebelum datangnya peringatan resmi dari pemerintah.
"Evakuasi mandiri harus menjadi budaya yang tertanam sejak dini,'' imbau Sabar. (rzy/okezone)

"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :
Tidak ada komentar:
Write komentar

Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...