Loading...
Loading...

Senin, 11 Maret 2019

loading...

Ada 900 Juta Lebih Pemilih, Inilah 10 Fakta Menarik Pemilu....

    Senin, Maret 11, 2019   No comments
iklan

Loading...


Ada 900 Juta Lebih Pemilih, Inilah 10 Fakta Menarik Pemilu India
SriwijayaAktual.com - Tak hanya Indonesia yang menggelar pesta demokrasi besar-besaran, pemilihan umum (pemilu) di India rupanya juga akan diadakan mulai bulan April mendatang. 

Dilansir dari BBC, komisi pemilu setempat mengumumkan jajak pendapat untuk memilih 'Lok Sabha' atau Majelis Rendah Parlemen akan diadakan dari 11 April hingga 19 Mei 2019. Sementara itu, penghitungan suaranya akan dilaksanakan tanggal 23 Mei 2019.

Dengan 900 juta pemilih yang memenuhi syarat, pemilu India ini rupanya akan menjadi yang terbesar di dunia. Tak hanya itu, pesta demokrasi terbesar di dunia ini menyimpan sejumlah fakta menarik.

Dilansir dari BBC, inilah 10 fakta menarik pemilu di India.

1. Pesta demokrasi yang luar biasa besar
Diperkirakan lebih dari 900 juta orang di atas usia 18 tahun akan ikut memberikan suara di 1 juta TPS (Tempat Pemungutan Suara) di seluruh India. Bahkan, jumlah pemilih ini lebih besar dibandingkan jumlah seluruh masyarakat Eropa dan Australia. Majalah Economist pun pernah mengibaratkan pesta demokrasi ini seperti gajah pengangkut kayu yang akan memulai perjalanan besarnya.

2. Durasinya sangat panjang
Berbeda dengan Indonesia yang hanya berlangsung 1 hari saja, pemilu di India akan diadakan tanggal 11 April, 18 April, 23 April, 29 April, 6 Mei, 12 Mei, dan 19 Mei. Pemilu di sejumlah negara bagian memang harus dibagi menjadi beberapa tahap.

Pasalnya, butuh persiapan matang untuk mengamankan TPS. Polisi daerah juga harus menjadi peserta pemilu, jadi tugas keamanan diserahkan pada pasukan federal. Mereka harus dibebastugaskan lalu disebar ke seluruh negeri.

3. Menghabiskan banyak dana
Menurut Pusat Penelitian Media di India, diperkirakan partai dan kandidat menghabiskan sekitar USD 5 miliar (Rp71,4 triliun) pada pemilu 2014 silam. Tentu jumlah ini akan berlipat ganda pada tahun ini. Sumber dana ini masih ditutup-tutupi meski pada akhirnya mereka harus melaporkan jumlah pendapatannya.

Pada tahun 2018 lalu, Perdana Menteri India Narendra Modi mengesahkan perjanjian pemilu sehingga para pebisnis dan individu bisa menyumbang tanpa harus mengungkap identitas mereka.

4. Suara perempuan menentukan kemenangan
Jumlah perempuan yang mengikuti pemilu tahun ini sangat besar. Otomatis, suara mereka turut menjadi kunci kemenangan. Jumlah ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah pemilu di India. Tak heran partai-partai politik menjanjikan berbagai program yang berpihak pada perempuan, misalnya pinjaman pendidikan, gratis tabung gas, dan gratis sepeda untuk remaja putri.

5. Berpusat pada Narendra Modi
Kemenangan pria 68 tahun ini sebagai perdana menteri di tahun 2014 memang menjadi sejarah tersendiri. Pasalnya, kemenangan itu menjadi kemenangan pertama kali partai yang mengusungnya, Bharatiya Janata Party (BJP), sejak tahun 1984. Bahkan, partai itu menang telak dalam pemilu 2014 lalu.

Tentu bukan hal yang mudah untuk mempertahankan kemenangan ini. Para analis memperkirakan Narendra Modi menjadi target utama dalam pemilu bulan April mendatang. Oposisi diperkirakan akan melengserkan pemimpin pemerintahan yang dicintai sekaligus dibenci ini.

6. Isu ekonomi jadi fokus utama
Di bawah pemerintahan Modi, pusat ekonomi terbesar ketiga di Asia ini tampaknya mengalami kemunduran. Sektor pertanian stagnan, para petani terbelit utang, ekspor menurun, jumlah pengangguran meningkat, dan sejumlah bank pemerintah terjebak masalah kredit macet. Parahnya lagi, inflasi tak terhentikan.

Meski begitu, Modi mengatakan reformasi ekonomi masih terus berjalan. Jadi, pemilu mendatang akan menjadi pembuktian apakah rakyat masih mau memberinya kesempatan kedua.

7. Strategi persaingan populis
Untuk menutupi kekurangan negara, pemerintah membagikan uang tunai langsung ke warga miskin. Langkah ini pun menimbulkan strategi persaingan populis atau menyasar langsung ke warga.

Pemerintah sudah mengumumkan transfer tunai langsung ke petani dan keringanan pinjaman pertanian. Tak hanya itu, dijanjikan pula kuota pekerjaan bagi kaum miskin di kalangan kasta tinggi dan agama-agama minoritas. Sementara itu, oposisi menghujani para pemilih dengan 'hadiah gratis' mulai dari TV sampai laptop. Meski begitu, masih belum jelas apakah hadiah gratis itu mampu merebut suara.

8. Nasionalisme berlebih mengganggu kedamaian negara
Nasionalisme Modi dan partai politik mayoritas rupanya telah memecah belah negara yang sebagian besar warganya beragama Hindu itu.

Politisasi Hindu rupanya telah menguatkan kelompok sayap kanan radikal untuk menghukum mati warga Muslim yang diduga menyelundupkan sapi. Pasalnya, hewan itu dianggap suci bagi kaum Hindu. Sapi pun jadi sasaran perdebatan. Mereka yang mengkritisi Hindu radikal pun dicap sebagai antinasionalisme. Perbedaan pendapat ini pun memecah belah masyarakat.

Sementara itu, banyak yang mengatakan 170 juta Muslim di India menjadi minoritas yang tak terlihat. BJP sama sekali tidak punya anggota parlemen Muslim di majelis rendah. Partai itu memang punya 7 kandidat di tahun 2014, sayangnya mereka semua kalah.
Narendra Modi menjadi sasaran utama untuk meraih suara oleh partai pengusungnya sekaligus untuk dijatuhkan oleh oposisi | BBC

9. Serangan India ke Pakistan bisa memperkuat citra Modi
Ketegangan India dan Pakistan usai serangan bunuh diri mematikan di Kashmir di wilayah pemerintahan India tentu menguatkan rasa nasionalis di negara yang terkenal akan kain sarinya itu. Sang perdana menteri sendiri menegaskan tak akan ragu membalas jika tanah India diserang kelompok militan yang berbasis di Pakistan. Ternyata isu ini pun dijadikan salah satu bahan kampanye untuk memperkuat citra nasionalisme Modi.

10. Tokoh dalam partai menentukan kemenangan
Pada pemilu 2014 lalu, karisma Modi dan kemampuan partainya untuk menyatukan koalisi berhasil mengalahkan partai-partai regional yang kuat, seperti Samajwadi Party (SP) dan Bahujan Samaj Party (BSP).

Pada tahun ini, Mayawati yang mengetuai BSP menjadi ikon bagi jutaan kaum Paria, kasta terendah di India. Suara kaum Paria pun mendominasi seperlima dari Negara Bagian Uttar Pradesh, negara bagian yang sangat berpengaruh bagi kancah politik India. Terlebih lagi Mayawati kini telah bergandengan dengan Akhilesh Yadav dari SP yang dulu menjadi saingan beratnya. Koalisi mereka pun diharapkan bisa memenangkan lebih dari 50 kursi dan menghentikan dominasi BJP di pemerintahan India. [*]


"HEBOH! KLIK BACA JUGA DIBAWAH INI:
loading...

About Redaksi Sriwijaya Aktual

Sumber Informasi Realita Tajam dan Terpercaya.

loading...
Previous
Next Post
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :
Tidak ada komentar:
Write komentar

Langganan berita terbaru

Lengkapi form di bawah ini, dan dapatkan update berita terbaru dari kami.

Deliver via FeedBurner
Loading...