Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan Melalui Diskusi Foto: Mendalami Hubungan antara Lahan dan Masyarakat
Loading...

Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan Melalui Diskusi Foto: Mendalami Hubungan antara Lahan dan Masyarakat

Monday, July 29, 2019, Monday, July 29, 2019
loading...
Loading...

Fotografer-fotografer Palembang memotret cerita masyarakat seputar lahan, serta peran Kebijakan Satu Peta dalam merencanakan pengelolaan lahan di Sumatera Selatan. Kisah-kisah tersebut diangkat dalam Diskusi Foto “#IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan” yang diselenggarakan pada Minggu, 28 Juli 2019 di Dermaga Convention Center Kota Palembang.

PALEMBANG-SUMSEL, SriwijayaAktual.com  – Di Pulau Salah Namo di tengah Sungai Musi, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sejumlah warga terpaksa membongkar dan membangun kembali rumah rakit mereka karena lahan rumah mereka tergerus akibat tidak adanya tanaman bakau atau penangkal lain yang menahan arus sungai, proses yang disebut abrasi. “Warga pertama berpindah ke pulau ini pada tahun 1970 untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan bisa bercocok tanam padi dan menjadi nelayan. Bila abrasi terus dibiarkan, warga yang bermukim di sana dapat kehilangan rumah bahkan harus merelakan lahan pertaniannya,” tutur Jati, 26, fotografer yang menangkap kisah warga di pulau tersebut. Cerita warga Pulau Salah Namo merupakan salah satu contoh dampak perencanaan dan pelaksanaan tata ruang yang diangkat dalam acara #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Palembang.

Acara diskusi #IniTanahKita, yang diselenggarakan oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia, kolektif pelatih fotografi Arkademy, dan BEM KM Universitas Sriwijaya, mempersembahkan esai-esai foto hasil lokakarya oleh sepuluh fotografer yang menyorot arti lahan bagi masyarakat dan dampak pengelolaan lahan dalam kehidupan sehari-hari di Palembang dan sekitarnya. Tidak adanya satu acuan peta sebagai landasan kebijakan menyebabkan beragam konflik agraria, tumpang tindih kepemilikan lahan, korupsi di sektor lahan, dan kerusakan lingkungan yang memperparah krisis iklim. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi tentang peran Kebijakan Satu Peta dalam menangani beragam isu yang diangkat, dan menghadirkan Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Dra. Lien Rosalina dan Penanggung Jawab Program Sumatera Selatan WRI Indonesia Chandra Irawadi Wijaya, serta para mentor fotografi dari Arkademy.

Dampak isu lahan dirasakan secara langsung oleh petani kecil, warga sekitar, dan masyarakat adat, dan melibatkan seluruh pihak, dari pemerintah sampai pelaku usaha. Isu-isu lahan dan lingkungan yang diangkat dalam sesi ini pun beragam, di antaranya potret rumah susun di Palembang, Hutan Punti Kayu sebagai satu-satunya hutan kota di Palembang, Situs Bukit Siguntang peninggalan kerajaan Sriwijaya yang semakin terbengkalai, konflik pemanfaatan lahan di Pasar Cinde, serta alih fungsi rawa gambut di wilayah perkotaan.

Konflik lahan marak terjadi tanpa adanya acuan kebijakan lahan yang jelas, seperti dilihat dalam esai foto karya Novriansyah Wardhana, 39. “Pasar Cinde adalah bagian dari cagar budaya dan identitas kota Palembang. Mengubahnya menjadi mal tentu melanggar UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Berbagai kepentingan pun berkonflik dalam proses pembangunan mal ini, mulai dari pemerintah kota, pemerintah provinsi, hingga pedagang Pasar Cinde,” jelas Novriansyah.

Pengelolaan lahan juga berdampak langsung pada krisis iklim yang tengah kita alami yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, diantaranya akibat hutan dan lahan gambut yang dialihfungsikan. Parliza Hendrawan, 41, yang berprofesi sebagai jurnalis, memotret alih fungsi lahan gambut dan rawa di perkotaan menjadi jalan tol, gedung, perumahan dan perkantoran. “Khawatirnya, Palembang yang dulunya dikenal sebagai daerah air dan rawa tinggal cerita. Padahal rawa memiliki fungsi yang penting untuk keseimbangan ekosistem. Apabila semakin banyak lahan gambut dan rawa dialihfungsikan, fungsi rawa sebagai daerah resapan air semakin berkurang.”

Narasi foto oleh Nurfikri, 43, juga mengangkat pentingnya perlindungan hutan untuk memitigasi krisis iklim, dan perlunya partisipasi aktif berbagai pihak termasuk warga dalam upaya konservasi lahan dan alam. “Sebagai satu-satunya hutan kota di Palembang yang kini dijadikan sebagai tempat wisata alam, Hutan Punti Kayu, menyimpan banyak keanekaragaman hayati dan memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan iklim kota melalui kemampuannya dalam menyerap emisi gas CO2 dan juga menghasilkan oksigen,” terang Nurfikri. “Namun sayangnya, kini keadaan Punti Kayu tampak memprihatinkan, sehingga diperlukan kesadaran warga Palembang untuk dapat merawat dan melestarikannya.”

Narasi-narasi foto ini memperlihatkan bahwa pengelolaan lahan bukan hanya isu kebijakan namun berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. “Medium fotografi dapat menceritakan isu-isu tersebut sehingga lebih dekat ke kita semua,” ungkap Kurniadi Widodo, salah satu mentor lokakarya Arkademy. “Karya-karya foto ini mengangkat pentingnya memperbaiki sistem pengelolaan lahan di Indonesia, mengingat dampak sosial-ekonominya terhadap komunitas-komunitas lokal, serta dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan dan krisis iklim.”

Diskusi foto lalu membahas Kebijakan Satu Peta (Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2016) sebagai salah satu program pemerintah untuk mengatasi masalah lahan ini. Menurut Menko Perekonomian, Darmin Nasution, Kebijakan Satu Peta merupakan salah satu kebijakan utama pemerintah yang diharapkan menjadi dasar untuk seluruh perencanaan pembangunan di Indonesia.

“Pemerintah Indonesia tengah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan akar permasalahan konflik lahan. Kebijakan Satu Peta bertujuan untuk menghasilkan Informasi Geospasial Tematik yang terintegrasi yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai acuan utama untuk menyusun perencanaan pemanfaatan ruang dan lahan secara berkelanjutan,” papar Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Dra. Lien Rosalina, M.M., salah satu pembicara dalam sesi diskusi.

“Proses sinkronisasi di pulau Sumatera kini sudah selesai. Tahap selanjutnya adalah penetapan Peta Indikasi Tumpang Tindih, yang kemudian menuju kepada penyusunan rekomendasi penyelesaian tumpang tindih,” ujar Dra. Lien. "Selain resolusi konflik tumpang tindih perizinan antar sektor, Kebijakan Satu Peta juga berfungsi untuk memperbaiki tata kelola perizinan sektoral dan mencegah korupsi.”

Penanggung Jawab Program Sumatera Selatan WRI Indonesia Chandra Irawadi Wijaya menambahkan, “WRI Indonesia percaya bahwa kebijakan tata kelola lahan yang lebih adil dan lestari harus inklusif dalam melindungi hak-hak semua pemangku kepentingan. Kebijakan Satu Peta dapat menjadi landasan untuk perencanaan dan pelaksanaan tata ruang demi melindungi hutan dan lahan gambut, yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah sangat besar, guna melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim yang merusak. Untuk itu, diperlukan partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat, dan kami akan terus mendukung pemerintah pusat dan daerah, serta mitra-mitra pembangunan untuk mencari solusi berkelanjutan untuk mengatasi isu lahan dan krisis iklim kedepannya.”

Pemuda pun memiliki peran dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya isu lahan dan lingkungan, menurut Supiyandi, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya. "Peranan aktif pemuda dapat dilakukan dengan mengkampanyekan isu lahan dan lingkungan kepada masyarakat melalui berbagai media yang yang dapat diakses, mengembangkan sikap keteladanan di bidang lingkungan, menjadi agen untuk meningkatkan kapasitas dan keberdayaan warga, juga dengan ikut mengawasi proses pembangunan oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta, baik dari segi AMDAL, izin lingkungan, serta implementasinya, sehingga dampak lingkungan yang ditimbulkan dapat dicegah atau diminimalisir”. [red/ril)

Foto karya Ruli Amrullah Diskusi Foto #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Dermaga Convention Center (Photo: Ruli Amrullah)

Foto karya Adella Indah Nurjanah ditampilkan pada acara Diskusi Foto #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Dermaga Convention Center (Photo: Adella Indah Nurjanah)

Foto karya Rika Yulianti Diskusi Foto #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Dermaga Convention Center (Photo: Rika Yulianti)

Diskusi Foto #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Dermaga Convention Center (Photo: WRI Indonesia)

Foto karya Parliza Hendrawan Diskusi Foto #IniTanahKita: Memotret Isu Lahan di Sumatera Selatan pada hari Minggu, 28 Juli 2019, di Dermaga Convention Center (Photo: Parliza Hendrawan)


TerPopuler

close
loading...