Menakar Pertemuan Mega-Prabowo, Pertanda Koalisi Jokowi-Maruf Retak?
Loading...

Menakar Pertemuan Mega-Prabowo, Pertanda Koalisi Jokowi-Maruf Retak?

Thursday, July 25, 2019, Thursday, July 25, 2019
loading...
Loading...

KOLOM PEMBACA, SriwijayaAktual.com - Pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dihiasi senyum dan tawa. Pertemuan dua pimpinan partai besar ini juga banyak memunculkan spekulasi di publik.

Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen, peta pepolitikan langsung berubah.

"Peta politik berubah drastis bagaikan bola liar. Ini berdampak serius kepada soliditas koalisi pendukung Joko Widodo (Jokowi). Apakah ini pertanda adanya keretakan di kubu koalisi 01 pendukung Jokowi-Maruf?" kata Samuel dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (24/7/2019).

Bukan tanpa alasan, komposisi koalisi Jokowi-Maruf terkenal gemuk dan diisi parpol dengan perolehan suara banyak di Pemilu 2019.
"Perebutan kursi menteri ini emang keliatan cukup panas," lanjutnya.

Saat ini Partai Gerindra masih belum memberikan kepastian soal kesediannya masuk ke kabinet Jokowi. Namun pertemuan dua pimpinan ini bisa berbicara lain.

"Dengan adanya pertemuan Prabowo dan Megawati memberikan sinyal kuat terciptanya peta politik baru dalam mengisi kabinet Jokowi jilid dua ini," lanjut Samuel F Silaen yang juga meupakan Ketua Umum Generasi Muda Republik Indonesia (GEMA-RI) ini.

Untuk saat ini, PR Jokowi adalah menyusun kabinet 2019-2024 dengan tetap menjaga keseimbangan partai politik tanpa harus mengenyampingkan aspirasi masyarakat.

Baginya, tidak ada kawan dan lawan abadi dalam politik. Yang ada hanya kepentingan abadi, apalagi musuh bebuyutan. Ini juga sebagai pelajaran penting bagi rakyat di akar rumput dalam menyikapi perbedaan pandangan politik yang dipertontonkan oleh elite politik.

"Rakyat jelata jangan sampai karena beda pilihan politik jadi musuh, apalagi sampai baku bunuh," kata aktivis organisasi kepemudaan ini.

Ia menambahkan, Indonesia terlalu mahal jika untuk dijadikan kelinci percobaan dari kaum komparador pemburu rente hingga mengorbankan masa depan negeri ini hanya untuk memuaskan syahwat politik kaum 'borjuis' yang terkadang berjubahkan agama.

"Politik itu sesungguhnya sangat mulia, yakni memperjuangkan dan memperbaiki kesejahteraan rakyat yang lebih baik lagi, "tutup Silaen. [md]


TerPopuler

close
loading...