Pemindahan Ibu Kota RI Dari Masa ke Masa
Loading...

Pemindahan Ibu Kota RI Dari Masa ke Masa

28 August 2019,
loading...

SriwijayaAktual.com - Wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan sesungguhnya telah bergulir sejak puluhan tahun silam. Jauh sebelum Presiden Joko Widodo mengintruksikan pindah, Ketua Umum PKI Semaun dan Soekarno pernah mewacanakannya.

Kalimantan secara historis memiliki irisan sejarah penting bagi Nusantara. Di tempat itu, dulu pernah berdiri negara republik pertama di Indonesia. Berikut sejarah pemindahan ibu kota Indonesia dari masa ke masa.

Ibu Kota Lan Fang di Kalimantan
Tahun 1777 seorang pendatang dari Cina Daratan (Hakka) bernama Lo Fang Pak mendirikan sebuah negara republik pertama bernama Lan Fang di Singkawang, Kalimantan Barat. Ini menyusul tahun 1764 terjadi gelombang besar-besaran imigran dari Cina Daratan ke Singkawang dan sekitarnya untuk menambang emas dan mencari kehidupan.

Seiring perkembangan waktu, populasi mereka meningkat tajam. Untuk mengorganisir puluhan ribu imigran Cina Daratan ini, dibentuklah negara Lan Fang. Kao Chung Xi dalam bukunya tentang orang Hakka, berjudul Jews of the Orient menjelaskan bahwa Lan Fang yang berawal dari sebuah kongsi tambang orang Tionghoa dari etnis Hakka tumbuh menjadi semacam “negara di dalam negara.”

“Lan Fang yang berdiri pada 1777 itu memang masih membayar upeti tanda tunduk kepada Kesultanan Sambas dan Mempawah di Kalimantan Barat, tapi sehari-hari mereka sangat otonom,” ujar  Kao Chung Xi.

Karena tata pemerintahannya sangat demokratis dibanding kongsi-kongsi lain yang umumnya bergaya feodal, secara tak langsung negara Lan Fang pun mendaulatkan diri sebagai negara republik. Dengan kata lain, bumi Kalimantan sesungguhnya pernah menjadi ‘ibu kota’ negara Lan Fang, sebuah negara republik pertama yang ada di Indonesia.

Ibu Kota Batavia (Jakarta)
Setelah negara Lan Fang di Kalimantan Barat dibubarkan Belanda tahun 1884, ibu kota Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda ‘diboyong’ ke Sunda Kelapa atau Batavia atau Jakarta.

Belanda menciptakan pusat kekuatan baru di sebuah kawasan rawa-rawa yang jauh dari kata ideal. Muhidin M Dahlan (2017) mengatakan bahwa kemenangan Belanda atas semua imperium yang singgah di Nusantara adalah berkah bagi eksistensi Jakarta yang dihubungkan oleh rel kereta api.

Ia juga menyebut, sejak Hindia dalam genggaman Belanda nyaris seluruhnya, Jakarta menjadi tanah harapan; menjadi kekuatan baru. Sementara itu, pasca agresi Belanda, sebagian penduduk negara Lan Fang ada yang bermigrasi ke daratan Singapura, sekalipun masih banyak yang menetap di Singkawang. Para etnis Hakka asal Kalimantan ini yang disebut-sebut sebagai salah satu cikal bakal berdirinya negara Kota Singa tersebut.

Ibu Kota Yogyakarta
Sementara itu tercatat sejak Indonesia dinyatakan merdeka melalui deklarasi yang dibacakan Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta tanggal 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Pakualam VIII mengirimkan surat ucapan selamat atas kemerdekaan RI. Tanggal 5 September 1945 Sultan dan Pakualam menyatakan bergabung dalam NKRI.

Namun saat Belanda kembali datang ke Indonesia ketika membonceng Sekutu, keamanan Jakarta sebagai ibukota Indonesia terancam. Belanda bahkan bisa menduduki Jakarta 29 September 1945. Tanggal 2 Januari 1946 Sultan HB IX mengirimkan kurir ke Jakarta dan menyarankan agar ibu kota NKRI dipindah ke Yogyakarta. Tawaran Sultan diterima oleh Soekarno, sehingga tanggal 4 Januari ibukota NKRI resmi pindah ke Yogyakarta.

Ide Semaun Pindahkan Ibu Kota ke Kalimantan
Pasca kemerdekaan, orang pertama yang menginisiasi pemindahan ibu kota ke Kalimantan, setelah perpindahannya dari Jakarta ke Yogyakarta pada medio 1940-an adalah Semaun. Semaun menginginkan agar ibukota Indonesia dipindah ke Kalimantan Tengah.

Sebagai lulusan dari Uni Soviet (Rusia), Ketum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) itu paham betul dengan potensi Kalimantan. Sosok Semaun memang terkenal visioner di masanya. Ia juga termasuk konseptor yang terlibat dalam pembangunan tata ruang kota-kota satelit Uni Soviet di wilayah Asia Tengah.

Soekarno Ingin Kalimantan Jadi Ibu Kota
Medio tahun 50-an, kembali wacana pemindahan ibu kota kembali bergulir. Sekalipun bukan murni ide pribadi, Soekarno mewacanakan pemindahan ibu kota Indonesia ke jantung pulau Kalimantan. Sejarawan Baskara T. Wardaya dalam bukunya berjudul Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah menyinggung sosok Semaun sebagai inisiator di balik wacana Soekarno untuk memindahkan ibu kota Indonesia.

“Otak dari gagasan pemindahan Ibukota ini adalah Semaun. Semaun kala itu menjadi penasihat pribadi Sukarno,” tulis Baskara T. Wardaya dalam buku Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah.

Begitupun, Pramoedya Ananta Toer dalam essainya yang ditulis tahun 1991 juga menjelaskan Semaun yang kala itu menjadi penasihat pribadi Presiden Soekarno pernah membisiki agar ibukota dipindah keluar dari pulau Jawa ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Sementara itu, penulis buku Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya, Wijanarka, menyatakan bahwa alasan Soekarno mencuatkan ide pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Palangka Raya pada periode tahun 1957-1958 diantaranya, Soekarno ingin memiliki ibukota sendiri bukan ibukota peninggalan Belanda.

Ambisi Soekarno ini bukan sekedar wacana. Ia benar-benar membuat seluruh jalan Palangkaraya menjadi lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar di pusat kota. Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo dalam sebuah artikelnya yang di muat di harian Sindo menjelaskan jalan-jalan tersebut diperlebar sampai empat belas jalur untuk pendaratan pesawat MIG buatan Uni Soviet. Namun proyek jalan baru dibangun 40 km dari rencana awal 174 km berhenti akibat pergolakan politik 1965.

Soekarno Putuskan Jakarta Sebagai Ibu Kota
Setelah situasi Indonesia normal, kembali Ibu Kota Indonesia dipindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Secara konstitusional, Jakarta ditetapkan sebagai ibu kota Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1964. Dilansir dari Historia, Pada 28 Agustus 1961 terbit Penetapan Presiden (Penpres) No. 2/1961. Penpres ini menjadi dasar terbentuknya Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya. Tapi Penpres tak mengakhiri wacana pindah ibukota.

Ia tak bicara mengenai fungsi dan kedudukan Jakarta sebagai ibukota negara tapi lebih pada pembagian tugas antara pemerintah pusat dan pemerintah Jakarta dalam membangun kota itu agar “memenuhi syarat-syarat minimum dari kota internasional dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”

Soekarno lalu mengambil sikap. Dalam pidato peringatan ulang tahun ke-435 Jakarta pada 22 Juni 1962, dia mengatakan, sejak bertahun-tahun, kalangan pucuk pemerintahan mempersoalkan di mana kedudukan ibu kota negara.

“Kami pertimbang-timbangkan ini, dan saya sendiri persoonlijk mengambil pendirian: barangkali Jakarta yang paling tepat untuk jadi ibukota Republik Indonesia. Dan ini nanti akan saya usulkan kepada rakyat Indonesia, ‘resmi’,” ujar Sukarno


Jokowi Putuskan Ibu Kota Pindah ke Kalimantan
Wacana pemindahan ibu kota Indonesia kembali mencuat pada Juli 2017 silam. Wacana itu mencuat pertama kalai melalui pembantu presiden, yakni Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro. Sebelum akhirnya diperjelas oleh Presiden Jokowi melalui akun twitter resminya pada 13 Juli 2017. Dua tahun kemudian tepatnya 26 Agustus 2019, Presiden Jokowi secara terang-terangan sudah memutuskan Kalimantan Timur sebagai ibu kota Indonesia yang akan datang.

Pemindahan ibu kota ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Pada 26 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ibu kota baru akan dibangun di wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. [Romandhon ]

TerPopuler

Loading...