Pemuda ini Masih Percaya Primbon Jawa, dan Kami 'Hajar' 8 Pertanyaan Penting #Reportase
Loading...

Pemuda ini Masih Percaya Primbon Jawa, dan Kami 'Hajar' 8 Pertanyaan Penting #Reportase

Friday, August 2, 2019, Friday, August 02, 2019
loading...
Loading...
Ilustrasi

Pemuda ini Masih Percaya Primbon Jawa, dan Kami Beri Dia 8 Pertanyaan Penting #Reportase

SriwijayaAktual.com  -  Siang itu mentari bersinar terik. Di bawah keteduhan atap teras kantornya, seorang lelaki duduk dengan santai. Badannya yang tinggi besar dibalut kaus putih. Sesekali dia mengisap rokok dan mengembuskan asapnya. Lelaki berusia 26 tahun itu bernama Panggah.

Raut wajahnya ceria saat diajak ngobrol panjang lebar oleh Hipwee. Dengan logat yang cukup kental, dia bercerita tentang primbon atau kepercayaan warisan leluhur Jawa. Zaman sekarang sudah sedikit orang yang percaya, apalagi anak muda. Namun, rupanya Panggah adalah perkecualian.

Panggah sudah mengenal primbon seumur hidupnya. Dari generasi ke generasi, keluarganya menurunkan ajaran tersebut. Dia adalah generasi kelima di keluarganya yang meyakini primbon. Karena itulah hidupnya berbeda dengan orang kebanyakan.

Setiap tahun Panggah merayakan ulang tahunnya di tanggal yang berbeda. Sebab dia nggak mengikuti sistem penanggalan umum, tetapi mengikuti penanggalan Jawa. Apa bedanya? Kalau memakai sistem umum, Panggah yang lahir pada 17 Februari akan selalu merayakan ulang tahun di tanggal tersebut, hanya harinya yang berubah-ubah. Lain halnya dengan penanggalan Jawa. Panggah yang lahir pada Rabu Pahing akan selalu merayakan ulang tahunnya pada Rabu Pahing pula. Tentunya hanya setahun sekali, tanggalnya saja yang berubah-ubah.

Jika hari lahir atau weton-nya tiba, ibu Panggah akan membuat syukuran kecil-kecilan. Biasanya beliau membuat nasi glubang atau gudangan. Lantas masakan itu dibagikan ke orang-orang. Kalau kata orang Jawa, pembagian itu berdasarkan konsep megaring payung atau membuka payung. Saat seseorang membuka payung, tentunya yang terlindung oleh payung itu hanya sekitarnya saja. Begitu juga dengan syukuran weton, yang diberi nasi glubang hanya tetangga depan, belakang, dan samping kanan kiri.

Ajaran primbon juga memengaruhi Panggah saat pernikahannya setahun lalu. Dia melamar seorang perempuan dari keluarga yang sama-sama percaya primbon. Untuk menentukan tanggal pernikahan yang baik, seorang tetua dari keluarga menghitung weton mereka berdua. Sebetulnya Panggah ingin menikah pada Januari 2018. Namun karena tanggal yang tepat jatuh pada bulan Juli, dia mengundur pernikahannya. Dia enggan melanggar perintah orang tua karena takut terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

Salah satu ajaran primbon yang katanya fatal kalau dilanggar adalah menikah pada bulan Sura. Sebetulnya Sura adalah bulan yang baik, bahkan diyakini sebagai Tahun Baru Islam. Namun ternyata primbon punya sudut pandang yang berbeda. Orang-orang Jawa menggunakan bulan Sura untuk prosesi mencuci barang pusaka seperti keris, contohnya di Kraton Yogyakarta. Prosesi itu dianggap suci dan sakral. Jadi nggak sopan kalau orang-orang biasa menggelar prosesi juga di bulan yang sama.

Bagaimana kalau larangan itu dilanggar? Katanya pernikahan nggak bakal langgeng. Panggah pun menceritakan hal buruk yang pernah didengarnya. Dia mempunyai seorang pakdhe yang bekerja sebagai pembawa acara dan saksi dalam pernikahan. Beliau pernah dua kali menghadiri pernikahan di bulan Sura. Pada akhirnya, kedua pasangan yang menikah saat itu nggak berakhir bahagia. Semuanya bercerai. Ada yang bercerai setelah lima tahun menikah, ada juga yang setelah dua puluh tahun. Apakah itu kebetulan atau hukuman karena melanggar primbon? Silakan balik ke kepercayaan masing-masing.

Untuk mengetahui primbon lebih banyak, berikut ini Sriwijaya Aktual melalui Hipwee menyajikan obrolan dengan Panggah dalam bentuk pertanyaan dan jawaban.

1. Siapa sih yang bikin ramalan primbon di koran atau majalah?
Kayaknya yang bikin bukan orang ahli primbon beneran. Setahuku yang bikin justru random, ganti-ganti yang mengelola. Bisa dipercaya nggak ramalannya? Tergantung diri sendiri. Kalau anak milenial zaman sekarang, percayanya cuma sama ramalan yang bagus. Kalau ramalannya jelek, tinggal berdoa semoga nggak terjadi apa-apa.

2. Benarkah primbon bisa membantu atau justru menghalangi percintaan?
Ilustrasi/Percintaan sepasang kekasih Jawa

Itu terjadi nggak jauh dari keluargaku, tepatnya sepupuku. Suatu hari dia punya pacar, udah sama-sama seneng, terus bapaknya tanya, “Rumah pacarmu hadap mana?” Ternyata hadap selatan. Padahal katanya rumah yang hadap selatan itu rezekinya kurang baik, nggak cocok buat sepupuku. Gagal deh hubungannya. Tapi itu contoh yang ekstrem sih. Kalau buat perjodohan, biasanya orang-orang menghitung weton atau kecocokan tanggal lahir.

3. Kalau ada yang bilang, “Berdasarkan primbon, kamu cocoknya kerja di air.” Apa kita perlu percaya?
Sekarang aku lebih ke realitasnya aja. Soal memilih karier, aku nggak percaya primbon atau kejawen. Kalau aku cari kerja ya pilih kerjaan yang aku suka dan pingin. Bukan berdasarkan “bagusnya kerja di air”. Generasi-generasi sebelumnya di keluargaku juga nggak percaya. Soalnya itu bikin kita seakan dikotak-kotakkan. Ikuti aja hati kata hati. Kalau kerja, aku lebih mikir diri sendiri pinginnya ke mana. Ya, pencipta kita pasti udah ngasih jalan.

4. Apa benar primbon bisa dipakai buat berjudi dan dapat nomor togel?
Jarang ada orang judi pakai primbon. Paling pakai cara ngawur-ngawuran. Misalnya cari kodok di kuburan, terus kerok bagian perutnya pakai duit. Katanya sih bisa keluar angka. Atau kalau ketemu pocong, gesek-gesek aja dahinya, nanti keluar angka juga. Cara lain ya kalau kecelakaan, perhatiin plat nomor kendaraannya, terus pakai angka itu. Tapi itu semua cuma dibuat-buat sama orang sih.

5. Contoh lain ajaran primbon yang unik?
Ilustrasi

Katanya kalau lagi ngulek sesuatu pakai muthu (cobek) dan muthu-nya patah, berarti bakal ada hal buruk yang terjadi. Orang yang nggak sengaja ngelakuin itu bakal dibikinin ruwatan. Itu semacam buang sial. Prosesinya kayak orang siraman pas mau menikah. Tapi ada dukun khususnya yang baca-bacain doa. Terus ada cemeti dipecutin ke sebelah kanan dan kirinya orang yang diruwat. Terakhir dia disiram pakai air. Setelah dia mandi, semua baju yang dipakai selama ruwatan tadi, termasuk perhiasan sekalipun, harus dilarung atau dihanyutkan ke sungai.

6. Apa ajaran primbon berubah dari masa ke masa?
Kalau ajaran tetep sama. Nikahan ibuku sama nikahanku sama aja, tetep ngitung tanggal berdasarkan weton. Yang beda mungkin prosesinya. Dulu bener-bener semua prosesi nikah Jawa dijalanin, kayak siraman sama midodareni. Kalau sekarang kan mikir budget juga to. Nggak semua orang punya duit, padahal kalau acara lengkap butuh budget yang lebih. Tapi kalau cara ngitung hari pakai weton, itu tetap sama sampai sekarang.

7. Bisakah ajaran primbon diterapkan di luar Jawa?
Ya bisa digunakan, bisa juga enggak. Soalnya tiap tempat punya ajaran dan mitos sendiri. Tapi sebetulnya primbon udah nyebar ke luar Jawa sih. Lihat aja kalender. Biasanya di kalender nggak cuma ada nama hari kayak Senin, Selasa, atau Rabu. Tapi juga ada Pahing, Pon, Wage, Kliwon, sama Legi. Itu tanggalan berdasarkan kepercayaan Jawa. Tapi penyebarannya udah ke mana-mana di Indonesia.

8. Kalau ada orang yang nggak percaya atau meremehkan primbon, bagaimana reaksimu?
Biasa aja. ‘Kan mereka yang menjalani, jadi terserah mereka. Selama mereka nggak menganggu dan mencampuri hidupku terlalu dalam, nggak masalah. Boleh kok punya kepercayaan masing-masing. Tapi sebenernya primbon dan kejawen bukan kepercayaanku yang utama. Kepercayaanku yang paling penting ya Islam. Aku tetep percaya adanya Gusti Allah. Kalau primbon itu adat, yang namanya adat ya harus dihormati. [*]

TerPopuler

close
loading...