Rama Tak Boleh Masuk Kelas Gegara Uang Seragam Sekolah Belum Lunas, Hingga Akhirnya Pilih Jualan Es
Loading...

Rama Tak Boleh Masuk Kelas Gegara Uang Seragam Sekolah Belum Lunas, Hingga Akhirnya Pilih Jualan Es

30 August 2019,
loading...
Rama Hakim Surya Alam, siswa SMP Negeri 2 Mranggen yang tak diizinkan masuk kelas gara-gara belum lunasi uang seragam sekolah.

DEMAK-JATENG,  SriwijayaAktual.com - Rama Hakim Surya Alam siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Mranggen Demak harus rela membantu ayahnya berjualan es.

Hal itu ia lakukan, karena ayahnya belum bisa melunasi biaya seragam sekolah dan sumbangan pengembangan institusi (SPI), Rama merasa malu dan tak mau pergi sekolah.

Menurut sang ayah, Agung Kussetyo Hardono (46), Rama sempat masuk di hari pertama sekolah 16 Juli silam.

Namun, ia disuruh pulang lantaran belum melunasi biaya seragam dan SPI senilai Rp 1,5 juta.

“Saya sudah titip uang Rp 150 ribu dan minta tempo pembayaran.”
“Namun tidak diperbolehkan dan harus bayar sekaligus tanpa diangsur,” kata Agung, Rabu (28/8/2019).

Diceritakan Agung, dirinya minta tempo pembayaran pada Kepala SMP Negeri 2 Mranggen.
Kala menghadap, kepala sekolah ditemani seorang guru bernama Retno.
Kepala sekolah, ungkap dia, hanya diam saat ia minta tempo pembayaran uang seragam dan SPI.
Namun Retno mengatakan jika sebelum biaya seragam dan SPI lunas, Rama tak boleh sekolah.

“Kepala sekolah diam saja, guru yang berna Retno itu yang memutuskan anak saya tak boleh sekolah sebelum melunasi uang seragam dan SPI,” sambungnya.

Hal itu dibenarkan Rama.  "Bahkan menurutnya, ada guru yang mengatakan jika belum bayar uang seragam, ia tak boleh masuk kelas.
Sejak itulah, Rama tak mau sekolah dan pilih membantu orangtuanya berjualan es buah.

Sementara itu saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Mranggen, Ahmad Saleh berkilah jika yang menimpa Rama hanya kesalahpahaman semata.

Ia mengaku tidak melarang siswa belajar meskipun ada siswa yang belum melunasi biaya seragam dan SPI sebagai syarat diperolehkannya siswa ke sekolah.

“Itu kesalahpahaman antara orangtua murid dan guru di sini.”
“Waktu itu saya tidak berada di sekolah, sedang ada acara kondangan di Demak,” kata dia.

Ahmad mengatakan jika pihaknya masih membuka pintu untuk Rama.
Di sisi lain, lanjutnya, diperlukan ada komunikasi antara pihak sekolah dengan orangtua siswa.
“Masih ada tiga bangku kosong,” ucap dia. (tribunnews)

TerPopuler

Loading...