Cerita SBY 70 Tahun Hidup dalam 3 Penggal Sejarah
Loading...

Cerita SBY 70 Tahun Hidup dalam 3 Penggal Sejarah

Tuesday, September 10, 2019, Tuesday, September 10, 2019
Loading...
loading...
Susilo Bambang Yudhoyono (Dok/Istimewa)

BOGOR-JABAR, SriwijayaAktual.com - Presiden keenam RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menceritakan pengalamannya 70 tahun hidup dalam tiga era pemerintahan Indonesia; Orde Lama, Orde Baru dan reformasi. Ia memetik hikmah dari lika-liku perjalanan hidupnya. 

Cerita itu disampaikan SBY dalam pidato kontemplasi di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin 9 September malam tadi. Ini orasi politik pertama SBY setelah sempat “vakum” delapan bulan dari panggung politik, karena memilih merawat istrinya Ani Yudhoyono lalu ibu kandungnya Siti Habibah. Keduanya kini sudah meninggal dunia.

“Kontemplasi yang hendak saya sampaikan ini berangkat dari apa yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup saya selama ini dalam bentangan waktu 70 tahun usia saya, saya hidup dalam tiga penggal sejarah yang berbeda, era Presiden Soekarno, era Presiden Soeharto dan era Reformasi,” kata SBY.

Menurutnya, masing-masing era memiliki semangat zaman, kehidupan, dan corak sejarah yang berbeda-beda dari sisi profesi dan pengabdian.

“20 tahun saya menjadi warga sipil dan seorang pemuda yang menempuh pendidikan awal, 30 tahun menjadi prajurit dan perwira militer yang bertugas menjaga kedaulatan dan keutuhan negara, 15 tahun mengabdi di jajaran pemerintahan, baik sebagai menteri maupun presiden, dan kemudian lima tahun terakhir ini saya kembali ke pangkuan masyarakat sipil.”

SBY mengaku mengarungi berbagai ragam kehidupan yang dinamis, sarat dengan pasang dan surut, suka-duka, serta sukses dan gagal. Ia bersyukur karena dapat memetik berbagai hikmah dan pelajaran, dan menjadikan perjalanan hidup saya sebagai universitas yang abadi.

Apa hikmah dan pelajaran yang dipetik SBY?

“Pilihan saya adalah hikmah dan pelajaran apa yang saya dapatkan dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini, baik dalam kapasitas saya sebagai rakyat, maupun sebagai pemimpin. Pemimpin dalam berbagai tingkatan, Mulai dari tingkat bawah hingga puncak. Juga pemimpin dalam berbagai cabang kehidupan, militer, politik dan pemerintahan,” katanya.

“Saya ingin mendekatinya dengan pikiran dan pertanyaan yang sederhana. Mari kita renungkan bersama, dan apa jawaban kita terhadap pertanyaan seperti ini, ingin menjadi manusia seperti apa diri kita?”. 

Hampir pasti setiap orang punya jawabannya sendiri-sendiri. Yang jelas, lanjut SBY, apapun narasinya, setiap orang pasti ingin menjadi manusia yang baik, hidupnya baik, dan membawa pula kebaikan bagi yang lain.

“Kalau kita lebarkan dan tingkatkan cakupannya, misalnya Lantas masyarakat seperti apa yang kita inginkan? Jawabannya, pastilah kita ingin memiliki dan menjadi masyarakat yang baik, a good society. Demikian juga kalau kita lanjutkan, bangsa dan negara seperti apa yang kita tuju dan kita bangun, jawabannya akan serupa a good nation, a good country.”

Menurut dia, kalau kita membaca literatur dan mempelajarai definisi dan kriteria apa itu masyarakat yang baik (good society) dan negara yang baik (good country), akan kita dapati bahwa rumusannya ada yang sifatnya universal, namun ada juga yang khas negara tertentu.

“Tentu, kontemplasi saya ini tidak hendak menguraikan apa rumusan yang sering dirujuk oleh banyak negara itu, Bukan. Justru di sinilah, saya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dan dapatkan sendiri, dari berbagai pengalaman dan pelajaran kehidupan dan pengabdian di negeri ini.” (sal/okezone)

TerPopuler

Loading...