Rektor Musni Umar: Penusuk Wiranto Bukan Anggota JAD, Tapi Orang Sakit Hati Korban Penggusuran
Loading...

Rektor Musni Umar: Penusuk Wiranto Bukan Anggota JAD, Tapi Orang Sakit Hati Korban Penggusuran

14 October 2019,
Loading...
loading...
Sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar menyangkal kesimpulan kepolisian
Ibnu Chaldun

JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Sosiolog yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar menyangkal kesimpulan kepolisian bahwa Syahril Alamsyah, pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto, sebagai anggota Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Menurutnya, Syahril merupakan korban penggusuran yang merasa sakit hati dan kehidupannya jauh dari ajaran Islam.

Hal itu disampaikan Musni Umar dalam video yang diunggah di channel Youtubenya, Sabtu (12/10/2019), yang berjudul Penusuk Jend. Wiranto Bukan Jamaah Ansharut Tauhid?. Musni menyoroti kesimpulan kepolisian tersebut dengan beberapa fakta yang muncul dalam berbagai pemberitaan tentang Syahril Alamsyah di Medan.

"Saat itu para analis intelijen dan tentu kepolisian menyatakan bahwa itu bagian dari JAD, kaum radikal yang ingin melakukan perlawanan terhadap negara. Tapi belakangan ini kita menyaksikan bahwa Syahril Alamsyah yang lahir dan besar di Medan adalah korban penggusuran dan juga pernah terlibat dalam membuka praktik judi, kemudian suka minum dan tidak salat," kata Musni.

Karena itu, dia menganggap kesimpulan bahwa Syahril bagian dari JAD atau kelompok radikal telah terbantahkan. Menurutnya, ciri-ciri anggota JAD adalah taat beragama namun merasa negara tidak adil terhadap mereka sehingga melakukan perlawanan.

"Sementara yang kita saksikan kehidupan keseharian Syahril Alamsyah yang menusuk Jenderal Wiranto jauh dari itu. Karena itu memang kita harus hati-hati memberikan label kepada mereka yang taat beragama dengan menyebut mereka kaum radikal," ujarnya.

Dia meminta agar negara bisa menerima orang-orang yang tidak setuju dengan pemerintah. Yang lebih penting lagi, kata Musni, jangan ada penghakiman terhadap pihak manapun karena bertentangan dengan hukum negara maupun agama.

"Tapi pihak pemerintah harus menyadari bahwa rakyat yang mengalami kesulitan bisa saja melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan untuk menyampaikan atau melampiaskan ketidakpuasan mereka."

Diberitakan sebelumnya oleh Solopos.com, berdasarkan keterangan salah seorang tetangga pelaku bernama Mira, pria yang akrab disapa Alam ini merupakan mahasiswa lulusan di salah satu universitas di Kota Medan. "Orangnya udah baik, pintar lagi. Jago kali dia komputer-komputer itu, jago IT," katanya kepada Antara, Kamis (10/10/2019).

Dia menyebutkan sudah sejak lama tidak melihat Syahrial di rumahnya, Jl Alfakah VI, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan. "Kalau dulu dia tinggal sama orang tuanya. Cuma semenjak rumahnya digusur karena pembangunan jalan tol, enggak pernah nampak lagi," ujar Mira. [*]


TerPopuler