SURAT TERBUKA (PENTING) Yang Terhormat Bapak KASAD TNI JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA
Loading...

SURAT TERBUKA (PENTING) Yang Terhormat Bapak KASAD TNI JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA

18 October 2019,
Loading...
loading...

SriwijayaAktual.com - Viral greget beredar postingan facebook yang juga banyak di share oleh berbagai nama akun facebook, *SURAT TERBUKA (PENTING)* *Yang Terhormat Bapak* *JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA (KASAD TNI).* seperti dibawah ini;

*SURAT TERBUKA (PENTING)*
*Yang Terhormat Bapak*
*JENDERAL TNI ANDIKA PERKASA (KASAD TNI).*

*Pak Andika*, sebelumnya ijinkan saya untuk memperkenalkan diri, saya adalah *Kanjeng Senopati*. Saya bukan siapa-siapa. Kebetulan saya dari keluarga Kasunanan Surakarta Hadiningrat Mataram dari Trah Pakubuwono X. Darah saya telah mengalir pejuang dan nasionalisme dari para leluhur kami. Saya dari keluarga besar ABRI TNI Bapak dan ibu saya dua-duanya adalah Perwira TNI AD berpangkat Kolonel.

Saya mantan Komando Paskhas Laskar Jihad dan Kepala Diklat Paskhas Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Yang anggotanya menyebar diseluruh Indonesia. Adalah organisasi Sipil atau Milisi Sipil Bersenjata resmi (Para Militer) yang memiliki pengalaman dalam operasi tempur dan militer di wilayah Indonesia timur.

Dahulu diakui Paskhas Laskar Jihad Ahlus Sunnah seperti mitra TNI POLRI dalam membantu TNI POLRI untuk membantu operasi penumpasan Separatis RMS Ambon dan Poso. Sehingga TNI POLRI dalam operasinya tidak terkena sanksi HAM karena bersama dengan Laskar Jihad.

Itulah salah satu strategi agar TNI POLRI aman tidak terciduk HAM. Dan sekarang Laskar Jihad (LJ) sedang mencair (tidak eksis). Namun bila diperlukan suatu saat LJ bisa saja saya munculkan kembali ke permukaan.

Laskar Jihad dibawah pimpinan Panglima Laskar Jihad almarhum Ustadz Ja’far Umar Tholib adalah guru saya dan saya adalah ajudan beliau saat di medan operasi. Beliau adalah sahabat dekat dengan Bapak Hendropryono, pak Hendro dulu pernah menghibahkan tanahnya untuk pondok Ustdaz Ja’far di Jogja.

Dulu pemerintah dan TNI POLRI sangat berterimakasih dan terbantu oleh keberadaan Paskhas Laskar Jihad dalam membantu tugas TNI Polri menghancurkan kelompok separatis. Pasuan kami terbiasa bergerak dengan cepat, tidak lebih dari 3 tahun gerakan Separatisme Ambon Poso dapat kami padamkan.

Saya hanya Ingin menyampaikan pesan dan nasihat yang baik dan bijak.
Karena mungkin suara saya mewakili sebagian atau seluruh rakyat dan juga mewakili suara dari berbagai keraton dan kerajaan Nusantara di Indonesia. Karena kami sering mengadakan pertemuan silaturahmi trah raja-raja nusantara.

Karena yang saya tau hanya bapaklah diantara petinggi TNI yang diharapkan yang semoga masih bersikap bijaksana dapat mendengar suara hati nurani kami dan aspirasi suara rakyat.

Terimakasih pak Andika karena sampai hari-hari ini TNI masih dipercaya oleh rakyat. Rakyat semakin bertambah cinta dan simpati dengan TNI, mohon dipertahankan sikap yang ramah dan simpatik dari TNI. Tolong pertahankan jalinan yang indah ini antara TNI dan rakyat sampai saat ini, Bravo TNI..!

Karena rakyat kemana lagi akan meminta perlindungan dan keamanan kalau bukan kepada TNI. Karena itu tetap jagalah suara hati nurani rakyat dan aspirasi rakyat karena rakyat yakin TNI akan selalu bersama rakyat dan selalu membela kepentingan rakyatnya.

*Pak Kasad* yang saya tahu TNI adalah institusi asset milik rakyat, pengayom rakyat, membangun bersama rakyat dan bekerja untuk kepentingan rakyat.

Oleh karena TNI adalah termasuk asset termahal milik rakyat dan milik Negara dan TNI itu bukan asset segelintir penguasa. Tugas TNI hanya untuk melindungi kepentingan rakyat dan kepentingan bangsa dan negara itu lah yang nomer SATU.

Kasad, ketahuilah saat ini nama TNI sudah harum bagaikan bunga kusuma yang wangi karena TNI benar-benar komitmen independen netral dilapangan sebagai alat Negara untuk melindungi mengayomi rakyatnya dan ini telah terbukti di berbagai kasus aksi-aksi rakyat dan mahasiswa, maka dijagalah jangan sampai dihianati pak.

Saya mengharapkan dari sebelah coklat (Polri) juga bisa bersikap demikian seperti TNI saat ini. Tapi untuk saat ini masih jauh dari harapan.

*Pak Kasad*, kemuliaan dan kewibawaan TNI akan semakin jelas terlihat apabila TNI di jadikan sebagai Alat Negara dan bukan sebagai Alat Penguasa.
TNI memang ditakdirkan sebagai pembantu untuk menjadi Abdi Dalem Negara dan bukan untuk menjadi pembantu Abdi Dalem Penguasa (presiden)..

Masalah nanti apakah jadi pelantikan atau tidak itu adalah urusan politik bukan urusan TNI. Biarkan rakyat, mahasiswa dan DPR ribut soal presiden. Peran TNI kawal saja negara agar NKRI aman dari kelompok separatis yang ingin lepas dari NKRI itu tugas TNI yang *UTAMA*.

*Pak Kasad*, ketahuilah siapapun presidennya dan siapapun penguasanya anda tetap TNI yang memiliki peluru yang memiliki senjata dan memiliki pasukan angkatan perang bersenjata.

*Pak Kasad*, TNI harus bersama rakyat dan kawal rakyat itu hukumnya sudah Fardhu a’in..
*Pak Kasad*, TNI masih dapat hidup walaupun tanpa presiden..
Tapi TNI tak akan dapat hidup bila tanpa rakyat.
Dan keberadaan rakyat adalah sebagai balance penyeimbang dan pengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah. Apa jadinya jika suara HATI NURANI rakyat dibelenggu dan dikebiri maka siapa lagi yang bisa mengontrol pemerintah?

*Pak Kasad*, tolong dengar suara kami karena mungkin saya mewakili dari rakyat dan suara orang-orang yang tidak berani bersuara kepada bapak..

*Pak Andika*, rakyat berharap TNI masih bisa mengayomi rakyat, setelah Pak Polisi terbukti 'gagal' menjalankan fungsinya sebagai pengayom sipil.

Ini ada contoh kasus yang sangat miris seluruh rakyat mendengarnya mirisnya adalah hukuman yang dialami oleh dua orang perwira TNI AD beserta kedua istri-istrinya. Karena permasalahan istri mereka mem-posting dan mengkomen soal penusukan Menko Polhukam Wiranto di medsos.

Yang saya sayangkan sekali hukumannya pun double. Selain dicabut dari jabatan, dua anggota TNI berpangkat Kolonel dan Sersan ini juga disanksi sel 14 hari.

Bahkan, tidak puas lagi dengan sanksi internal itu saja, si istri IPDN yang merupakan istri Dandim Kendari Kolonel HS dan LZ istri Sersan Dua berinisial Z juga di seret ke ranah peradilan umum, sampai begitunya kah, hanya memberikan komen tulisan karena dari suara hati NURANINYA?

Saya sebagai orang Civil diluar yang tidak terikat dengan institusi TNI mau bertanya, Apakah seperti ini sikap komandan terhadap anak buahnya ?

Mendengar kasus yang sebenarnya bukan kasus berat langsung dibekuk tanpa pertimbangan kejiwaan, harga diri dan loyalitas seorang prajurit atau bawahan.

*Pak Kasad*, memang walaupun itu salah. Tapi yang saya tau dan saya pelajari seorang Komandan sedapat mungkin dapat melindungi marwah anggotanya.

Sebijak-bijaknya hukuman kalau hanya masalah komen kasus “komen” penusukan Wiranto sanksinya adalah dengan memberi tahapan sanksi (peringatan pertama) seperti arahan dan pembinaan, jika dilakukan lagi dengan diberi peringatan kedua dstnya.. Bukan langsung copot, di sel, istrinya di seret ke pengadilan umum.

Apa yang mau dipertontonkan dan diambil nilai positif dari peristiwa ini? Apakah supaya terkesan tegas begitukah?

Akhirnya institusi Komandan digambarkan hanya sebagai penebar teror kepada seluruh korps TNI dan istri-istrinya dan keluarganya. inilah keadaan psikologi keluarga TNI yang terjadi di lapangan saat ini dan kondisi ini memperihatinkan.

Dimana rasa empati dan simpati mereka kepada bapak berkurang drastis. Intinya agar keluarga TNI itu menutup mulut, menutup mata dan masa bodoh atas semua “keanehan” di negeri ini ? Lantas, jika urusan “beda suara dan pendapat” saja dikenai sanksi berat. Bagaimana ini, katanya ini negara demokrasi?

Lalu bagaimana dengan kondisi di kasus separatisme di Papua ? Para pembantai umat Islam dan pendatang tidak ditindak tegas dibiarkan saja sampai hari ini. Lalu apa tidak cukup alasan untuk dicopot petinggi AD disana, karena dipandang 'gagal' mengamankan wilayah?

*Pak Kasad,* harus mengetahui bahwa telah terjadi Stereotype buruk jenderal-jenderal pensiunan seputar istana di pandangan kalangan penghuni tangsi militer di seluruh Indonesia.

Kalau saya boleh jujur sesungguhnya mereka tidak ada rasa simpatik terhadap Jenderal Wiranto, Jenderal Luhut, Jenderal Hendropriyono, Jenderal Moeldoko dan jenderal-jenderal pensiunan lainnya, itu harus diakui pak. Tapi mereka lebih memuji dan simpatik kepada Jenderal Prabowo, Jenderal Joko Santoso, Jenderal Kivlan Zein dan Jenderal Sunarko.

Semakin tokoh-tokoh itu ditangkap maka semakin meledak dan kuat rasa peduli dan simpati mereka, bahkan telah membangkitkan jiwa Korsa mereka.

Ingat Pak Kasad, para penghuni tangsi militer diseluruh wilayah Indonesia semakin antipati dengan Jokowi manakala Sunarko, mantan Danjen Kopassus ditangkap atas tuduhan makar yang harusnya cuma sebagai Saksi malah dijadikan sebagai Tersangka. Ketika dia ditangkap, Danjen Kopassus ini bahkan sampai mengeluarkan peringatan agar seluruh anggota Kopassus yang siap bergerak itu tetap berada didalam asrama pasukan.

Untuk meredam gejolak di TNI, maka sejumlah pensiunan jenderal yang jadi menteri menjadi penjamin Sunarko dan Tito Karnivan akhirnya melepaskan dia dari tahanan.
ini sudah *“WARNING”* pertama bapak..

Pak Kasad harus mengakui bahwa antipati sebagian besar penghuni seluruh tangsi tentara TNI terhadap Jokowi berlangsung sampai sekarang. Namun tidak sampai ke permukaan.

Tapi perasaan itu seperti bara terpendam yang langsung bisa menjadi api berkobar-kobar ketika ada pemantiknya.

Dengan adanya kasus pencopotan Dandim dan istrinya diseret ke pengadilan umum inilah justeru yang menjadi pemantiknya kembali ke permukaan. Justeru memunculkan rasa simpatik, kepedulian seluruh rakyat Indonesia (tidak kalangan tangsi TNI saja) dan kedua pasang suami istri TNI itu malah kebanjiran tag dukungan simpatik dari jutaan para netizen..

*Pak Kasad*, mungkin Panglima TNI saja yang tak paham tupoksi TNI karena berdeklamasi hanya untuk melindungi kepentingan penguasa (Pak Jokowi). Berarti untuk TNI tingkat level keatas sudah tidak sesuai dengan SOP pasti ada yang keliru disini.

Saya sudah wanti-wanti dan ingatkan berkali-kali, TNI ITU MILIK RAKYAT bukan milik segelintir penguasa (Jokowi). Jika TNI menjadi Alat penguasa maka jadinya ya seperti ini pak.

Harus diakui kecurigaan mereka adanya keterpihakan petinggi TNI adanya “hubungan gelap” (perselingkuhan) antara para petinggi TNI dengan kepentingan Penguasa itu sudah menjadi rahasia umum.

Saya ingat pak pesan Panglima Sudirman, “TNI itu mudah menjadi Alat kekuasaan (bekerja untuk kepentingan penguasa) tapi tergantung bagaimana hati pemimpin TNI nya itu sendiri disaat itu..”

TNI itu alat negara bukan alat kekuasaan ini adalah ucapan Panglima besar TNI Jenderal Sudirman, jangan sampai ada petinggi TNI sendiri yang menghinati ini.

Kasus pemberian SANKSI yang berat dan bertubi-tubi kepada ke dua pasang suami istri ini sebenarnya justeru malah semakin membuka mempertontonkan jati diri sendiri pak.

Lantas, jika model penindakan sanksi semena-mena anggota seperti ini apa Pak Kasad akan semakin dicintai bawahan dan para perajuritnya semakin simpatik begitukah?

Ingat pak Kasad, perintah komando anda tak akan berjalan baik jika tidak didukung penuh oleh para petinggi di kesatuan pasukan dan Komando di Komando Daerah Militer (KODAM) seluruh wilayah Indonesia.

Prajurit TNI juga punya hati nurani loh pak.. Jangan diabaikan yang satu ini. Bagaimana mungkin kita bisa mengambil simpatik dan dicinta mereka kalau kita sendiri tidak melindungi marwah para bawahannya.

Karena Sebaik-baiknya komandan itu adalah yang dicintai oleh para perajuritnya, pasukannya dan bawahannya.

Sang Komandan yang terbaik itu yang peka, memperhatikan, melindungi dan sampai urusan keperluan para bawahannya.
Maka ambilah hati mereka dengan sikap simpatik, persuasive, melindungi dan mengayomi mereka.

*Pak Kasad,* harus mengakui pula bahwa suasana kebatinan hati TNI dan istri-istrinya itu saat ini sama dengan suasana hati rakyat dan itu normal dan sah-sah saja, tidak bisa disalah-salahkan itu HAK ASASI Manusia, harus DIAKUI itu.

Kalau terasa ada yang salah pasti mereka juga ikut merasakan. Kaum emak termasuk istri TNI itu juga manusia biasa, mereka juga termasuk masih satu korps satu keluarga dengan istri bapak juga yang memiliki pikiran dan perasaan. Wajar saja mereka wanita bersuara dengan hatinya pak atas adanya “anomaly” dan para “Trouble Maker” yang sudah berkeliaran bebas didalam pemerintahan untuk merusak negeri ini.

Langkah bapak sebagai petinggi TNI dalam menghukum para suaminya mungkin sudah tepat. Tapi melempar para istri-istrinya dituntut dan diseret ke pengeadilan umum berurusan dengan polisi rasanya berlebihan, coba untuk dipertimbangkan lagi. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru yang mungkin bapak sendiri akhirnya tidak dapat menghadapinya.

Kalaupun itu melanggar, berilah sanksi pertama cukup dipanggil secara khusus, ditegur, dibina dan diingatkan. Tidak langsung copot jabatan suami, penjarakan suami, dan tuntut emak-emak istri TNI ke peradilan umum, ini saya melihat tidak BIJAKSANA dalam menjatuhkan sanksi.

Juga saya mendengar ada yang seenaknya menuding para istri tentara terpapar radikalisme ini adalah tindakan berlebihan. Mempolisikan atau bahkan sampai memenjarakan mereka juga tidak bijak. Bagaimanapun, mereka sudah dihukum secara kedinasan yang berakibat permanen pada kehidupan internal mereka dan ototmatis sudah mempengaruhi kesejahteraan mereka selanjutnya.

Hukuman itu sudah teramat berat bagi mereka. Yang hanya bisa dirasakan oleh penghuni tangsi tentara manakala ada tetangganya yang disingkirkan dari jabatannya.

*Pak Kasad,* jika sebagai pemimpin banyak-banyak ambilah ibroh pelajaran yang terbaik dari para Salafuhum (pendahulunya) yang terbaik dari kakak senior bapak yang menahan diri dan sangat bijaksana dalam memberikan sanksi kesalahan-kesalahan anak buahnya. Dengan cara yang lebih persuasive bukan dengan cara terdzolimi seperti itu.

*Pak Kasad,* mereka juga walaupun TNI memiliki hati. Saya kuatir sikap dan tindakan pak Kasad yang menjalankan sanksi inginnya tegas tapi dengan penerapan “sakleg” kaku seperti itu tanpa disadari akan semakin berakumulasi kepada keburukan anggota dan itu membuat bola es buat bapak sendiri yang endingnya pasti tidak enak buat bapak sendiri.

Kalau orang disanksi salah karena keriminal, asusila dan kondite itu akan terima. Tapi kalau disanksi karena tendensi, disanksi karena politik, disanksi karena ingin menyuarakan nurani, itu bahaya Pak Kasad.

Saya melihat kedepan ada dua titian jalan dimana nantinya TNI akan semakin kuat, berwibawa dan disegani bila bersama Rakyat..
Dan sebaliknya TNI akan semakin lemah tidak memiliki kekuatan dan wibawa apa-apa bila bersama kekuasaan (penguasa)..

*Pak Andika,* ada pesan yang penuh hikmah mohon kiranya pesan Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman diingat dan diwujudkan bapak sebagai petinggi TNI :
*“Walaupun negara hiruk pikuk Politik maka satu-satunya milik Bangsa dan Rakyat yang tetap utuh adalah TNI..!”*

Tolong dijaga hak-hak aspirasi hati nurani rakyat, dijaga Harta dan Keluarganya jangan sampai terdzolimi..
Dan tolong dijaga Harta dan Darah mereka jangan sampai ditumpahkan..
Dan saya Kanjeng Senopati hanya berpesan,

*Pak Andika..*
BAJU, PANGKAT dan TANDA JASA yang anda pakai suatu saat akan lepas dan kembali
Bapak masih muda dan pergantian masih banyak waktu
Berpihaklah kepada kepentingan bangsa dan rakyatnya sendiri
sebelum Terlambat,
In Syaa Allaah Rakyat dan Bumi Pertiwi
akan mendukungmu..
Bukan berpihak kepada kepentingan Penguasa
Karena mau cepat atau lambat REZIM pun PASTI akan berganti..
Bapak masih bisa Hidup walaupun REZIM sudah mati
Tapi Bapak tidak akan bisa hidup kalau rakyat sudah MENINGGALKANMU..
Jauhilah Pintu-Pintu Penguasa Istana karena menjadikan anda Lupa dan jauh dari Hati NURANI..
Banyak sekali penawaran-penawaran HARTA dan KEKUASAAN padahal itu hakekatnya Kamuflase dan Fatamorgana karena itulah tipuan-tipuan Kaum MERAH (Liberal dan KBG Komunis Gaya Baru)
BERJANJILAH Demi Kepentingan Bangsa, Negara dan kepentingan Rakyat Indonesia.
Karena wujud dan Pembuktian dari *SUMPAH PRAJURIT* dan *SAPTA MARGA* adalah
*TNI adalah sebagai Alat Negara Mengabdi Untuk Kepentingan Rakyat.*
*TNI bukan Alat Kekuasaan untuk Kepentingan Penguasa..*

Semoga Pak Andika mengerti Pesan-Pesan Spritual saya, karena saya menulis ini dengan pandangan batin..

HATI-HATI dalam membawa-bawa negeri Indonesia ini.. Semoga Bapak selalu dalam perlindungan dan penjagaan Allah Subhanahu wa ta’ala
Barakallohu fiikum..

*Kanjeng Senopati (KRMH. Tommy Wibowo Windraningrat. SE)*

TerPopuler