Cegah Contempt of Court
Loading...

Cegah Contempt of Court

12 November 2019,
Loading...
loading...


CEGAH CONTEMPT OF COURT
(PERAN MASYARAKAT dan PENEGAK HUKUM)
Oleh : Jefri Sagata  (Aktivis Mahasiswa)


OPINI, SriwijayaAktual.comIstilah Contempt of Court di dalam masyarakat secara umum mungkin tidak populer bahkan tidak pernah terdengar dan diketahui oleh sebagian masyarakat kita. Akademisi, pelajar atau orang-orang yang berpendidikan tinggi yang biasanya tak asing lagi dengan istilah tersebut. Lalu muncul beberapa pertanyaan, apa sebenarnya contempt of court itu? Seberapa penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat? Dilihat dari istilah contempt of court berasal dari kata Contempt yang artinya penghinaan atau menghina dan kata Court artinya pengadilan. Jadi contempt of court diartikan sebagai suatu penghinaan terhadap lembaga peradilan. Penghinaan  yang dimaksud tidak terbatas pada perkataan namun juga termasuk sikap tindak perbuatan yang dapat melecehkan badan peradilan. 

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa peradilan merupakan tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan hak-hak mereka yang dianggap telah dilanggar maupun dirampas oleh orang-orang tertentu secara melawan hukum atau dengan kata lain mencari keadilan melalui proses persidangan. Tentu bagi peradilan sendiri yang menyelenggarakan kekuasaan kehakiman tugas yang diemban sangatlah berat untuk itulah badan peradilan bersifat independen, netral dan bebas dari intervensi pihak manapun demi menjaga integritas yang telah diamanatkan oleh UUD 1945 dan sekaligus kepercayaan masyarakat. Untuk itu tentulah seluruh elemen berperan dalam menjaga marwah dari badan peradilan dengan menunjukkan sikap hormat di dalam maupun diluar peradilan dan mentaati setiap peraturan maupun tata tertib di dalam persidangan.
            
Masyarakat Indonesia yang beragam baik dari segi karakter maupun psikologinya yang berbeda beda ketika kepentingannya dihadapkan di pengadilan  untuk mencari keadilan dalam rangka untuk penegakan hukum maka akan muncul beragam reaksi pada saat sebelum ,berlangsung, dan setelah persidangan. Reaksi ini kemudian berpotensi menimbulkan Contempt Of Court karena berbagai faktor yang paling banyak ialah dikarenakan ketidakpuasan terhadap vonis putusan yang dijatuhkan oleh Hakim, selain itu memang pada tingkat kepercayaan masyarakat juga terhadap pengadilan masih rendah, hal tersebut didorong juga karena ada beberapa aparat penegek hukum dalam hal ini Hakim yang masih mau menerima suap untuk mempengaruhi putusan yang akan dijatuhkan, akibatnya kerap kali masyarakat melakukan tindakan yang merendahkan kehormatan dan martabat pengadilan kemudian dari tindakan tersebut ada yang menimbulkan kegaduhan dan yang paling parah sampai melakukan perbuatan ekstrim berbuat tidak sopan dihadapan pengadilan maupun terhadap Hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Salah satu kasus yang pernah terjadi yaitu pengrusakan Pengadilan Negeri Bantul yang dilakukan oleh segerombol massa dari Ormas yang tidak terima pimpinannya dijatuhi hukuman dalam kasus persekusi, selain itu juga baru-baru ini di Pengadilan Negeri Jakarta pusat dimana seorang Advokat yang melakukan penganiayaan dengan cara menarin ikat pinggangnya untuk kemudian diarahkan kepada majelis Hakim yang sedang membaca putusan, karena yang bersangkutan sudah mengetahui bahwa putusan Hakim tersebut tidak mengabulkan atau memenangkan si Advokat, akibatnya sidang menjadi ricuh dan perbuatan Advokat ini telah merendahkan martabat lembaga peradilan, juga perbuatannya tersebut sudah melanggar kode etik Profesinya yang seharusnya pula dapat dimintai pertanggungjawaban pidana akibat perbuatan yang sudah dilakukannya tersebut.

             
Kasus-kasus tersebut merupakan beberapa contoh tindakan contempt of court yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat maupun seseorang yang mempunyai profesi pekerjaan yang bahkan mempunyai kode etik profesi. Hal ini berindikasi bahwa tindakan contempt of court bukam hanya dapat terjadi pada masyarakat pada umumnya tapi pada masyarakat yang mempunyai pendidikan tinggi sekalipun dapat melakukan tindakan contempt of court di pengadilan. Selain itu juga sebagai salah satu pemicu atau penyebab terjadinya contempt of court berita-berita media tentang suatu perkara yang sedang berjalan dipengadilan seringkali dibuat untuk menggiring opini masyarakat berprasangka yang tidak baik terhadap pengadilan pada saat proses persidangan maupun pada saat putusan. Dengan demikian seringkali masyarakat terpengaruh dan melakukan tindakan-tindakan yang dapat menghina pengadilan.

            
Ironis memang apabila kita lihat kembali kasus-kasus contempt of court yang pernah terjadi mulai dari membangkangnya terdakwa maupun saksi yang tidak mau datang ke pengadilan walau telah dipanggil berulangkali, adapula memperlakukan Hakim dengan sikap yang tercela bahakan sampai menganiaya Hakim, yang paling parah menggerakkan massa untuk merusak dan membakar Pengadilan. Melihat kejadian-kejadian tersebut dapat disimpulkan juga bahwa belum dewasanya sebagian besar masyarakat Indonesia menerima putusan pengadilan dan belum sepenuhnya mempercayakan peroses hukum yang ditangani oleh pengadilan, tentunya hal ini haruslah disikapi dengan bijak setidaknya dimulai dari diri sendiri untuk menumbuhkan kesadaran mencegah dan menghindari terjadinya tindakan contempt of court. Tentu kita sebagai warga negara yang baik demi tercapainya ketentraman, keadilan tentu sudah seharusnya kita bersama sama bersikap hormat dan sopan terhadap lembaga peradilan karena pada dasarnya marwah dari pengadilan betul-betul dihargai beserta aparatur yang bekerja didalamnya sebagai tempat bagi masyarakat untuk mencari keadilan.

            
Pengaturan khusus mengenai contempt of court dalam hukum positif Indonesia memang belum ada namun ada peraturan yang mengkualifikasikan tindakan contempt of court yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tantang Mahkamah Agung butir 4 alinia ke 4 yang pada intinya yang dikenal sebagai contempt of court ialah terhadap perbuatan, tingkah laku, sikap, atau ucapan yang dapat merendahkan wibawa, martabat, dan kehormatan badan peradilan. Peraturan inilah yang menyebutkan secara jelas kata contempt of court yang tentunya dapat menjadi landasan dalam membuat peraturan khusus mengenai contempt of court dan juga di beberapa peraturan perundang-undangan ada perbutan-perbuatan yang dapat dikategorikan masuk dalam contempt of court  antara lain pada pasal 207, pasal 217, pasal 224 KUHP dan sebagainya. Selain itu pula perbuatan yang termasuk dalam pengertian penghinaan terhadap pengadilan antara lain berperilaku tercela dan tidak pantas di pengadilan, tidak mentaati perintah-perintah pengadilan, menyerang integritas dan impartialitas pengadilan, menghalangi jalannya penyelenggara peradilan, perbuatan terhadap penghinaan dilakukan dengan  cara pemberitahuan atau publikasi.

             
Dalam mencegah terjadinya tindakan contempt of court semua elemen tingkatan sosial seperti Masyarakat, Aparat Penegak Hukum, dan Pers mempunyai peran masing-masing karena setiap elemen tersebut berkaitan dengan upaya untuk mencegah terjadinya tindakan contempt of court di dalam maupun diluar pengadilan oleh karena itu sangatla besaran peran dan pengaruh dari tiga elemen tersebut. Kemudian akan dijabarkan lebih lanjut mengenai peran Masayarakat, Aparat Penegak Hukum, dan Pers sebagai upaya pencegahan terjadinya Contempt of court demi terselenggaranya peradilan yang lebih baik, aman, dan menjunjung tinggi martabat dan kehormatan lembaga peradilan sebagai tempat bagi terpercaya masyarakat dalam mencari keadilan dan mendapat hak-hak yang semestinya mereka dapatkan.

            
Masyarakat sebagai suatu elemen terdiri dari individu maupun kelompok tertentu  yang langsung berkaitan dengan proses pengadilan ketika berperkara sangatla berpotensi melakukan tindakan yang terkategorikan contempt of court hal itu dapat dilihat dari kasus-kasus contempt of court yang pernah terjadi baik dilakukan secara indivu maupun menggerakkan massa. Dari hal tersebut kita sebagai individu ataupun kelompok masyarakat mulailah membangun kesadaran pentingnya menghormati pengadilan dan terpenting bersikaplah secara dewasa agar setiap perkara yang diajukan ke pengadilan percayakan sepenuhnya kepada pengadilan bukankah kita telah mengetahui bahwa Hakim merupakan wakil Tuhan di dunia, artinya hakim mempunyai hati nurani dalam menangani suatu perkara, masalahnya memang ketakutan dan prasangka masyarakat seringkali yang tidak percaya kepada Hakim yang menangani suatu perkara. Berprasangka boleh namun jangan terlalu berlebihan dengan cara-cara yang kurang etis. Selain itu juga penting bagi kita semua ketika berada di pengadilan untuk tertib dan mengikuti semua tata tertib yang sudah ada di pengadilan, karena pada dasarnya kita sebagai manusia mempunyai rasa malu secara etis apabila masih melanggar tata tertib yang sudah kita ketahui namun tetap kita langgar. Pentingnya tata tertib dipatuhi hal ini bertujuan agar jalannya proses persidangan berjalan dengan  baik lagi khidmat dan hal-hal yang buruk agar tidak terjadi selama proses persidangan tersebut. Apabila hal-hal tersebut kita lakukan maka perbuatan atau tindakan contempt of court  tidak akan terjadi.

            
Lalu untuk selanjutnya bagi  penegak hukum sendiri mempunyai peran yang sentral untuk mencegah terjadinya perbuatan contempt of court. Bagaimana caranya agar masyarakat percaya akan kinerja yang dilakukan untuk menegakkan hukum mulai dari proses penyidikan sampai dengan proses persidangan yang memang telah dijalankan sesuai dengan prosedur yang benar dan benar-benar menjaga integritas. Oleh karenanya Polisi, Jaksa, Hakim selalu mendapat perhatian dari publik dalam menjalankan setiap proses dan tahapan dalam menangani perkara. Apabila satu tahapan saja dijalankan secara tidak benar dan adanya indikasi perbuatan yang tidak etis atau tidak secara netralitas maka hal tersebut bukan hanya berdampak pada individu maupun lembaga yang citra nya dianggap buruk namun hal ini juga akan menimbulkan reaksi dari masyarakat terutama reaksi di pengadilan tentu contempt of court sangatla bisa terjadi. Untuk itu pentingnya bagi para penegak hukumbersikap netral dan menjaga integritas dan kehormatan lembaga yang dibawanya selain itu juga taat terhadap kode etik profesinya dengan cara itu pula akan dapat mencegah terjadinya tindakan contempt of court.
             

Sudah disebutkan diatas bahwa salah satu perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai contempt of court ialah perbuatan terhadap penghinaan peradilan dilakukan dengan cara pemberitahuan atau publikasi. Maka berkaitan dengan publikasi ini biasanya dilakukan oleh Media/Pers, karena terhadap isu-isu perkara yang mendapat perhatian publik sering kali untuk menaikkan ratting media seringkali melibih-lebihkan atau membuat tulisan-tulisan yang menyudutkan peradilan dan dapat menggiring publik sebagai pembaca akibatnya dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menghina peradilan. Tentu hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh pers sebagai profesi yang juga mempunyai kode etik. Untuk itulah dalam mencegah contempt of court perlunya pers membuat berita-berita yang sesuai dengan fakta yang terjadi dan tulisan-tulisannya diharapkan juga mendukung pencegahan terhadap perbuatan-perbuatan yang dapat menghina martabat dan kehormatan peradilan. Karena berita-berita yang demikian sangat berdampak luas karena memberikan pemahaman dan pencerdasan terhadap publik tentang pencegahan contempt of court yang dapat dibaca dan diketahui oleh publik apa lagi di zaman era digital sekarang.

             
Jadi yang dapat disimpulkan dari tulisan ini adalah bahwa Peradilan yang mempunyai martabat dan kehormatan sebagai penyelenggara proses penegakan hukum tingkat terakhir haruslah dihormati oleh setiap orang dan bersikap tertib saat dipersidangan. Untuk dapat mencegah terjadinya perbuatan contempt of court maka masyarakat dan penegak hukum dan elemen lainnya haruslah saling bersinergi dalam artian individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat menjaga sikap, ketika di pengadilan mentaati peraturan dan tata tertib yang telah dibuat begitupun dengan penegak hukumnya dalam hal ini Hakim haruslah menjalankan pekerjaanya sesuai dengan kode etik dan menjaga independensi serta integritasnya dalam menangani perkara baik didalam maupun diluar pengadilan, serta bagi media membuat berita-berita yang mengedukasi publik terkait dengan proses perkara yang sedang berjalan di pengadilan tentunya sesuai dengan  fakta-fakta tanpa manipulasi. Apabila hal-hal tersebut dapat dilakukan oleh setiap elemen sesuai peranannya tentu contempt of court tidak akan terjadi. [red]

TerPopuler