Sosok Ir. Sutami 'MENTERI TERMISKIN Di BUMI', "Karya Hebat Segudang Dan Bersih Dari Korupsi"
Loading...

Sosok Ir. Sutami 'MENTERI TERMISKIN Di BUMI', "Karya Hebat Segudang Dan Bersih Dari Korupsi"

07 November 2019,
Loading...
loading...

Karya Hebat Segudang dan Bersih dari Korupsi, Ir Sutami Malah Jadi Menteri Termiskin


JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Meski KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sudah beroperasi sejak tahun 2002, namun hiruk-pikuk tindak korupsi dan penggarongan uang rakyat oleh anak bangsa sendiri hingga saat ini masih terjadi. Alih-alih mereda, eksistensi KPK yang diharapkan bisa memberantas korupsi dalam waktu cepat malah kian sibuk menangkapi pejabat yang menggarong uang rakyat.

Mulai dari mantan menteri, anggota DPR RI, gubernur, wali kota-bupati hingga hakim, KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) malah makin merebak dan meradang. Padahal, sudah sepatutnya para pejabat dan tokoh masyarakat tersebut bisa dijadikan tauladan. Namun sayang, malah banyak dari mereka yang menjadi penghuni penjara.

Melihat korupsi seakan tak pernah berhenti dan semakin menggurita, rasanya kita harus malu dan bertauladan pada tokoh satu ini. Ditukil dari laporan Banjarmasin Post (TribunNews.com), Senin (12/11/2018), sosok yang pernah menjabat sebagai menteri selama 14 tahun ini hidup bersahaja. Namun karya-karyanya yang monumental itu sangat berfungsi bagi generasi masa kini. Sosok tersebut tak lain adalah (Alm) Ir Sutami.

Ir Sutami menjabat Menteri Pekerjaan Umum di era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Hidupnya jauh dari kesan kaya. Bahkan, Ir Sutami layak dijuluki menteri termiskin lantaran saat tidak menjabat lagi sebagai menteri. Karena untuk berobat pun dia mengalami kesulitan biaya.

Hidup Sederhana
Kesederhanaan Ir Sutami bisa menjadi contoh para pejabat yang kini banyak tersangkut kasus korupsi. Saking sederhananya, atap rumah Ir Sutami bocor. Bocornya rumah Ir Sutami ditulis oleh Staf Ahli Menteri PU, Hendropranoto Suselo dalam Edisi Khusus 20 tahun Majalah Prisma yang diterbitkan LP3ES tahun 1991 di Jakarta.

Saat itu, Ir Sutami masih menjabat sebagai Menteri PU dan Tenaga Listrik. Saat Lebaran, rumah Ir Sutami ramai dikunjungi tamu. Tapi tamu yang datang malah terkaget-kaget. Mereka melihat ke atap dan banyak bekas bocor pada langit-langit rumahnya. Rupanya sudah lama rumah Sutami bocor. Padahal Sutami sudah enam kali menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum.

Mirisnya, proyek raksasa seperti Gedung DPR, Jembatan Semanggi, dan Waduk Jatiluhur telah dengan sukses dibangun di bawah pengawasannya. Sutami pulalah yang memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai.

Menteri ini sama sekali tak pernah bermewah-mewahan. Bahkan rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat dibeli dengan cara menyicil. Barulah saat akan pensiun, rumah itu lunas.

Sutami yang bersahaja itu pun tak pernah mau memanfaatkan fasilitas negara secara berlebihan. Saat lengser tahun 1978, dia mengembalikan semua fasilitas negara. Kemudian seorang pengusaha berniat memberinya mobil. Pengusaha itu tahu mobil dinas Sutami ikut dikembalikan. Tapi dengan halus Sutami menolak. Dia hanya minta diberi sedikit diskon saja dari pengusaha itu.

Sutami tak pernah tergoda untuk korupsi. Penampilan dan tindakannya tetap bersahaja. Bahkan, suatu ketika PLN pernah mencabut listrik di rumah pribadinya di Solo. Mirisnya lagi, Menteri Sutami ternyata pernah kekurangan uang hingga telat bayar listrik.

Yang tak kalah bikin sedih, Sutami juga sempat takut dirawat di rumah sakit. Ternyata ia tak punya uang untuk bayar rumah sakit. Barulah setelah pemerintah turun tangan, Sutami mau juga diopname.

Catatan sejarah menyebutkan, Presiden Soeharto kerap menjenguk Sutami saat sakit. Soeharto pula yang meminta Sutami mau berobat ke luar negeri. Ir Sutami menutup usia pada 13 November 1980, di umur yang masih relatif muda—52 tahun, karena menderita sakit liver.

Tanggal 16 Desember 1981, Presiden Soeharto saat meresmikan Bendungan Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang, kemudian membacakan pidato penghormatannya untuk Sutami. Dia pun memberi nama Bendungan Karangkates sebagai nama Bendungan Sutami.

Monumental Yang Fenomenal
Menteri yang lahir 19 Oktober 1928 ini ialah menteri termuda yang dipercaya Presiden Soekarno saat berusia 36 tahun. Tepatnya pada tahun 1964, Ir Sutami bergabung pada Kabinet Dwikora I sebagai Menteri Negara diperbantukan pada Menteri Koordinator Pekerjaan Umum dan Tenaga untuk urusan penilaian konstruksi.

Saat kekuasaaan Soekarno beralih ke Soeharto tahun 1966, Ir Sutami tetap dipercaya menjadi menteri Pekerjaan Umum hingga tahun 1978. Ia merupakan Menteri Pekerjaan Umum terlama di era Soeharto dengan masa jabatan selama 12 tahun dan dua tahun di era Soekarno.

Di tangan Ir Sutami, terbangun jembatan Semanggi Jakarta yang hingga kini menjadi salah satu ikon Ibukota. Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal Samad bahkan menyebut Jembatan Semanggi sebagai karya konstruksi sipil yang fenomenal.

“Suatu struktur konstruksi jembatan panjang (60 meter tanpa penyangga) di Indonesia untuk pertama kali menerapkan teknologi prestressed concrete,” tulis Yusmada seperti dikutip Kompas Properti.

Penerapan teknologi prestressed concrete saat itu memang sempat menuai pendapat pro dan kontra, serta diskursus di tataran akademik. Pasalnya, kekuatan dan keandalan struktur jembatan tersebut masih dipertanyakan. Namun keraguan pun terjawab saat Presiden Soekarno meresmikan jembatan itu pada tahun 1962.

Waktu itu, Ir Sutami sebagai penanggungjawab pembangunan Jembatan Semanggi melakukan aksi ‘heroik’. Mengendarai sebuah jeep, Ir Sutami menuju ke tengah bentang untuk membuktikan struktur jembatan itu kuat. Soekarno pun dikabarkan sangat puas dan bangga dengan kehabatan Ir Sutami muda saat itu.

Sejak itulah karya monumental Ir Sutami tak hanya Jembatan Semanggi. Kubah Gedung MPR/DPR berwarna hijau seperti kura-kura juga menjadi bukti kehebatan Ir Sutami. Kompleks MPR/DPR itu merupakan hasil rancangan arsitek lulusan Berlin, Soejoedi Wirjoatmodjo, dan salah satu stafnya yang bernama Ir Nurpontjo.

Kompleks itu dibangun untuk menggelar Conference of the New Emerging Force (Conefo), dan bangunannya harus bisa menandingi gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Konferensi itu guna menggalang kekuatan di kalangan negara-negara baru untuk membentuk tatanan dunia baru.

Pemancangan tiang pertama pembangunan kompleks Conefo itu dilakukan pada 19 April 1965. Padahal konferensi internasional sudah harus digelar setahun kemudian. Sebagai pelaksana lapangan, Ir Sutami menyanggupi pembangunan kompleks itu dalam tempo setahun.

Atap gedung ini mirip dengan prinsip struktur sayap. Awalnya, atap akan berbentuk kubah murni. Namun Sutami selaku ahli struktur bangunan mengingatkan hal itu akan memunculkan masalah serius. Sebab, hal ini menyangkut pemerataan penyaluran beban gaya vertikal ke tiang-tiang penopang kubah.

Sutami kemudian membuat sketsa dan perhitungan teknisnya. Dia menjamin kubah semacam itu bisa dikerjakan. Sebab, desain itu tak berbeda dengan prinsip struktur kantilever pada pesawat terbang.

Keberhasilan Sutami sebagai pelaksana proyek dan juga turut andil dalam merealisasi atap berbentuk kubah mengundang pujian dari gurunya semasa di ITB, Ir Roosseno. Ahli beton itu mengakui gedung Conefo sebagai karya besar Sutami.

Ir Sutami juga menjadi pimpinan pusat proyek pembangunan Jembatan Ampera di Sungai Musi, yang kini menjadi kebanggan masyarakat Sumatera Selatan. Ketika Proyek Listrik Tenaga Air di Maninjau, Sumatra Barat yang diperkirakan tak akan bisa dibuat akhirnya berhasil, hal itu juga diketahui sukses diwujudkan berkat tangan dingin Ir Sutami.

‘Tukang insinyur’ ini juga tercatat ikut serta dalam membidani lahirnya Fakultas Teknik Universitas Indonesia, serta munculnya dan beroperasinya jalan tol yang sekarang dikenal sebagai tol Jagorawi. Sutami juga sukses membangun Waduk Jatiluhur dan memimpin proyek pembangunan Bandara Ngurah Rai Bali yang berdiri megah sampai saat ini. [suratkabar.id]

TerPopuler