ya Ampun! 8 Perempuan Diperkosa di Indonesia Tiap Hari
Loading...

ya Ampun! 8 Perempuan Diperkosa di Indonesia Tiap Hari

27 November 2019,
Loading...
loading...
Ilustrasi


JAKARTA, SriwijayaAktual.com - Kasus kekerasan seksual terhadap kaum perempuan di Indonesia kian marak. Menurut catatan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, setiap hari diperkirakan delapan perempuan yang diperkosa di Indonesia.

Bahkan sesuai data yang dihimpun Komnas Perempuan dari sejumlah lembaga, sepanjang 2016-2018 ada 17.088 kasus kekerasan seksual. Di mana, terdapat 8.797 kasus perkosaan atau 52 persen dari total kasus kekerasan seksual. Artinya dalam tiga tahun, terdapat delapan perempuan mengalami perkosaan per harinya.

Menurut Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus, mayoritas kasus pemerkosaan ini terjadi di ranah publik dan kekerasan dalam rumah tangga.   

“Pada 2018, tercatat perkosaan dalam perkawinan mencapai 195 kasus, meningkat dari 172 kasus pada tahun sebelumnya,”Katanya   Senin, 25 November 2019.
Kata Magdalena, data ini menunjukkan kekerasan seksual dalam kondisi darurat dan perlu mendapat perhatian dari seluruh pihak. Kasus kekerasan seksual ini dinilai semakin kompleks dan meluas. Di sisi lain, kasus ini tidak tertangani dan korban tidak dilindungi dengan baik.
Selain jumlah yang terus meningkat, Komnas Perempuan juga menyoroti masalah yang seringkali dihadapi oleh korban.
"Perempuan korban kekerasan sulit mendapatkan keadilan. Infrastruktur tidak mendukung, BPJS Kesehatan juga tidak menanggung biaya visum, aborsi seringkali dikriminalisasi. Pemerkosaan juga sulit diusut karena dianggap kekurangan alat bukti dan sering disebut suka sama suka," kata perwakilan dari Forum Pengada Layanan Veni Siregar.
Untuk meningkatkan kesadaran dan perlindungan wanita korban perkosaan, Komnas Perempuan menggelar kampanye 16 hari. Pada kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan 2019 yang diperingati setiap 25 November hingga 10 Desember, tema yang diangkat adalah Pentingnya Pemahaman Kekerasan Seksual serta Penguatan Korban. (Binsasi/reqnews)
 

TerPopuler