Kok Bisa 'Like' di FB Bikin Para Perempuan ini Rela Bug!l di Depan Kamera?
Loading...
loading...

Kok Bisa 'Like' di FB Bikin Para Perempuan ini Rela Bug!l di Depan Kamera?

10 December 2019,
Ilustrasi

SriwijayaAktual.com - Pria di Kota Lubuk Linggau, Prov.Sumsel, Bustanul Ardi, menipu sejumlah perempuan dengan cara berpura-pura menjadi polisi. Modusnya adalah dengan me-like foto calon korbannya, lalu dia mengajak video call mesum.

"Foto itu aku pasang di Facebook (FB), aku lihat ada cewek buat status aku like (lambang jempol di Facebook). Pasti itu ada yang penasaran, baru ajak kenalan," kata Bustanul.

'Like' menjadi pintu masuk bagi Bustanul melancarkan aksi tipu-tipunya. Dari 'Like' tersebut, calon korbannya bersedia membuka komunikasi.

Modus kejahatan yang dilakukan Bustanul sebenarnya bukan merupakan yang pertama. Banyak kasus serupa terjadi, yang pintu masuknya adalah interaksi di media sosial. Yang jadi pertanyaan, mengapa masyarakat era digital begitu mudahnya membuka diri untuk orang yang baru dikenalnya lewat media sosial?
Pelaku penipuan, Bustanul Ardi. Foto: Polisi gadungan saat diamankan di Mapolda Sumatera Selatan. (Raja Adil Siregar/detikcom)

Pakar Komunikasi Digital UI Firman Kurniawan mengatakan semua yang ditampilkan pada media sosial, seperti foto, caption, lokasi, termasuk tanggapan berupa like, komentar, adalah simbol. Aktivitas menampilkan simbol dan menerima simbol sebagai tanggapan merupakan penerapan dari interaksi simbolik.

Menurut teorinya, kata Firman, interaksi simbolik manusia dilakukan untuk menciptakan makna. Terhadap makna yang disukai, interaksi akan dilanjutkan dengan simbol-simbol yang memberikan rasa suka. Pihak yang di-Like postingannya, kata Firman, akan berupaya mempertahankan interaksi yang disukainya.

"Era ini, informasi macam apapun telah tersedia. Jumlahnya pun berlimpah. Sehingga dengan modus menampilkan eksistensi diri, seseorang berupaya memproduksi informasi yang mampu 'memaksa' pihak lain memberikan perhatian pada dirinya. Like, terutama yang berasal dari pihak yang kredibel, dikagumi dan memiliki makna pada seseorang, menjadi hal yang diburu," ulas Firman saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/12/2019).
Firman Kurniawan. Foto: Dok. Istimewa
Bustanul berpura-pura menjadi polisi di media sosial. Muslihatnya itu membuat korbannya memiliki harapan interaksi lebih dengan Bustanul.

"Akan halnya pemberi like adalah orang yang dikagumi, disegani, makna simbolik dari suatu tindakan akan memiliki makna yang lebih besar. Maka untuk memperolehnya (mendapat perhatian ataupun mempertahankan interaksi, red) dilakukan tindakan-tindakan di luar kewajaran, demi memperoleh itu semua. Bahkan ketika harus bugil," pungkas Firman. (tor/dnu)


Loading...

TerPopuler

http://anti-adblock.adnow.com/aadbAdnow.php?ids=416798,417241,466794