'PERAMPASAN TANAH ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN'
Loading...
loading...

'PERAMPASAN TANAH ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN'

08 December 2019,


PERAMPASAN TANAH ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN


Oleh, Eva Bande


KOLOM PEMBACA-OPINI,  SriwijayaAktual.com  - Tanah adalah bagian dari Bumi. Tanah dan segala sesuatunya berhubungan dengan manusia. Tanah ditakdirkan menjadi sumber meteriel dari segala  sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Apabila anda sedang menggenggam telepon selular (HP) berbasis android (atau sejenisnya) dengan fasilitas internet, maka anda sedang memegang sebuah benda yang dapat menghubungkan  anda dengan segala sesuatu yang ingin anda  ketahui tentang  manusia dan kehidupannya, yang seluruh bahan (meterial) penunjang  hidupnya berasal dari tanah. Komponen luar maupun dalam dari HP tersebut semuanya berasal dari  tanah. Meterial yang membuat perangkat lunaknya, sistem android maupun aplikasi-aplikasi yang sering anda akses, seluruhnya bersumber dari tanah, baik  dari bahan plastik maupun logam.

Tanah dan segala sesuatu yang berada di atas dan yang dikandung di bawahnya adalah milik Tuhan Maha  Pencipta.  Tidak seorangpun makhluk  bernyawa berhak mengklaim, bahwa Tanah adalah miliknya. Tuhan memberikan Hak kepada manusia untuk memanfaatkan  tanah dan segala yang dikandungnya untuk bertahan hidup.

Klaim Hak milik atas  tanah  lahir sebagai konsekuensi yang timbul dari interaksi sosial yang sangat panjang. Tulisan ini bukan tempat untuk menjelaskan rangkaian proses itu. Akan tetapi, bahwa Hak atas tanah itu sekarang menjadi persoalan manusia sepanjang masa, adalah karena hasrat memiliki manusia yang berlebih-lebihan terhadap tanah. Pengendalian terhadap hasrat manusia yang melampaui batas itu, kemudian  memunculkan berbagai hak yang kita kenal sekarang.

Pengendalian terhadap berbagai urusan manusia itu sendiri  merupakan hasil dari  pelepasan sebagian hak individual maupun  kolektif  kepada Negara, dengan  satu  alasan  mendasar, bahwa Negara berkewajiban menjamin HAK Individual maupun Kolektif daris eluruh manusia yang berada di dalamnya.

Pada Negara hanya melekat fungsi-fungsi kekuasaan untuk mengatur. Untuk menjalankan  fungsinya, rakyat menyerahkan kepercayaan  kepada  sejumlah orang yang diberi mandat untuk memerankan fungsi-fungsi kekuasaan itu. Mereka  inilah, para pelaksana fungsi Negara yang telah menghianati mandat rakyat.

"Munculnya berbagai hak yang diberikan oleh Negara kepada  korporasi-korporasi merupakan  biang  dari Ketimpangan dan Konflik Agraria yang ratusan tahun telah membuat sengsara rakyat di seluruh pelosok negeri bernama Indonesia ini.

Apakah rakyat membiarkan Saja...?
Rakyat tentutidak diam. Perjuangan  rakyat di mana-mana tumbuh, dan di mana-mana itu perjuangan  rakyat justru dihalau oleh tindakan aparatur represif Negara. Perjuangan-perjuangan rakyat di banyak tempat dipatahkan, tetapi mereka terus berjuang. Dampaknya cukup terasa, beberapa tahun belakangan para pengurus negara mulai mengubah cara-cara. Baik cara-cara memberi izin bagi perseorangan maupun korporasi, termasuk cara-cara menghalau perjuangan  rakyat. Repotnya, meski cara-cara berubah tetapi wataknya masih juga tidak berubah, eksploitatif dan menindas. Rakyat pun semakin pandai, juga mengubah cara-cara, dari perjuangan sendiri, berkelompok kemudian membentuk organisasi-organisasi yang makin lama menunjukkan kematangan.

Hal penting yang hendak saya sampaikan kepada kawan-kawan pejuang sekalian, bahwa sepanjang kekuasaan masih berputar-putar di sekitar organ-organ politik dan orang-orang yang sama pucuk pimpinannya, maka  perjuangan   tidak boleh padam sekarang atau kapanpun...! Selama industri elektronik, bangunan-bangunan pencakar langit, hasrat berhias orang-orang kaya, perusahaan transportasi, dan berbagai kepentingan memewahkan kehidupan dunia bagi penghuni bumi, maka ketimpangan dan konflik-konfllik agraria akan terus berlanjut...!!! Ini  artinya perampasan tanah akan terusa da di muka bumi dan di sini...!!! Perampasan tanah itu  adalah kejahatan kemanusiaan...!!!

Rakyat tidak boleh  lengah, saudara-saudara yang sudah  mengorganisir kepentingan bersama teruslah  berserikat, berkuat-kuatlah dan bersabar-sabarlah, karena perjuangan kita  masih sangat panjang. Ajarkan kaum  muda kita dengan moralitas dan nilai-nilai yang memuliakan  tanah, sebarluaskan semangat kolektif untuk merebut  kembali hak-hak yang terampas. Jalinlah  Persatuan seluruh elemen perjuangan rakyat, jangan bercerai-berai karena soal-soal sepele dalam organisasi.

Kaum yang tertindas harus saling menguatkan, Jangan Lupakan Sejarah, belajarlah darinya

Saling rebut penguasaan, pemilikan dan pengelolaan sumber-sumberdaya agraria antara individu dengani ndividu lainnya, antara  individu  terhadap sekelompok individu, kelompok dengan kelompok, antar komunitas, hingga antar bangsa, yang dilakukan secara halus hingga pemaksaan, adalah  catatan sejarah paling tebal perjalanan bangsa-bangsa dari masa ke masa. Bila ini  terus  menerus  berlangsung dan tidak dihentikan, maka  sejarah akan menyimpulkan, bahwa  seluruh  kehidupan bermasyarakat yang pernah ada di bumi sejak dulu, kini, hingga batas perhentian waktu, adalah penindasan sebagian kecilmanusia berkekuasaan dan berkekayaan terhadap bagian terbesar manusia. Ini tidak boleh terjadi. Perlawanan terhadap “para penindas” juga tumbuh di mana-mana, termasuk di Indonesia. 

Konon Raja Erlangga  Mataram berasal dari kasta Syudra (buruh/petani) yang mendapat dukungan kuat dari rakyat yang terlalu menderita akibat ketatnya sistem Kasta di kala itu. Ken Arok yang terkenal, pun berasal dari kasta Syudra, merebut kekuasaan Singosari dengan dukungan rakyat jelata yang muak atas ketertindasan mereka. Penderitaan menjadi berlipat kali rasanya, ketika penjajahan bangsa asing mendera hidup rakyat. Perlawanan demi perlawanan yang dilakukan di berbagai tempat  berbeda tidak membuahkan hasil. Lalu, kaum tertindas dari Sabang hingga Merauke bersatu, membebaskan diri dari penindasan bangsa Asing, dan merdeka. Eforia kemerdekaan itu membahana segenap  pelosok negeri, namun hanya sebentar, karena rakyat jelata harus melanjutkan penderitaan mereka. Ratusan, ribuan, bahkan jutaan  nyawa rakyat  dikorbankan untuk mempertahankan kemerdekaan yang hendak  dirampas kembali oleh bangsa  asing, hingga pada akhirnya negara ini benar-benar berdaulat dan mendapat mandatrakyat dari Sabang hingga Merauke.

Ingatlah.....!!! Sejarah lahirnya Negara Republik Indonesia ini melalui  perjuangan  panjang manusia yang mempertahankan hak atas tanah (airnya). Kesamaan nasib kelompok-kelompok, suku-suku, bangsa-bangsa, yang kemudian  menghimpun mereka seluruhnya kedalam suatu kesadaran senasib yang melintasi pulau-pulau (Nusantara). Rasa cinta tempat lahir dan bertumbuh yang semula kecil kemudian membesar dan membentuk kesadaran berbangsa satu, berbahasa yang satu, bertumpah darah yang satu, tanah Air Indonesia.

Setiap orang yang lahir, tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia harus menancapkan sekuat-kuatnya di dalam  kesadarannya, bahwa udara merdeka yang dihirup sekarang adalah buah dari penderitaan yang sangat panjang, perbudakaan yang sangat kejam, perjuangan berdarah-darah rakyat jelata di seluruh Nusantara. Kemerdekaan Indonesia bukan pemberian bangsa atau negara lain. Republik Indonesia adalah karya rakyat jelata. Harta, waktu, jiwa, dari jutaan rakyat terkorbankan untuk menghadiahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  kepada kita.

Sekarang kita  sedang berhadapan dengan musuh yang tidak tampak batang hidungnya, tetapi menguasai tidak saja secara materiel, lebih jauh lagi menguasai kesadaran bangsa Indonesia.  Sangat mudah  kita, antara individu dengan individu adu fisik hingga saling bunuh. Peristiwa antar individu bisa merembet hingga antar suku atau agama, dar ijumlah kecil hingga  jumlah yang sangat besar. Rasa sebangsa-negara semakin tipis, seiring peradaban yang makin tinggi. Ironisnya, para pengurus rakyat dari jenjang paling bawah hingga di pucuknya, mempertontonkan buruknya mental dan moralitas mereka. Korupsi yang semakin menguat diiringi dengan maraknya izin-izin pembabatan hutan, pengusahaan kayu, tambang minyak, gas, nikel, izin usaha perkebunan, kehutanan, dan lainnya, yang kesemuanya melanggar hak-hak rakyat atas tanah. Rakyat miskin tambah melarat. Di dalam kemiskinannya, rakyat sering menjadi sasaran tembak aparatur keamanan negara yang memilih mengawal para pengendali modal daripada menjadi pengawal rakyat yang melahirkan mereka.

Perjuangan rakyat di lapangan agraria, baik yang terorganisasi maupun yang tidak terorganisasi telah berlangsung hampir seusia negara ini. Akan tetapi, mengapa perjuangan itu tidak pernah mencapai puncaknya? yaitu, keadilan dalam penguasaan, pengelolaan, peruntukkan, dan pemanfaatan sumber-sumber agraria? Ketika sudah merdeka, pun persoalan Agraria justru menunjukkan peningkatan dari waktu-waktu dengan korban yang melulu adalah rakyat jelata. Lantas apa  , sementara sebagian terbesar rakyat di negara ini, sadar tidak sadar  sedang mengalami penindasan oleh sekaligus bangsa sendiri dan bangsa asing, langsung maupun tidak langsung.

Persoalannya adalah, rakyat pun telahter bentuk pola pikirnya, akibat penetrasi bertubi-tubi, bertahun-tahun, beraneka cara dan metode, sehingga sebagiannya tidak peduli dengan nasibnya sendiri, sebagiannya mengambil posisi mencari untung dari situasi, sebagian menunggu kesempatan, dan sebagian kecil sadar hendak berjuang tetapi tidak teorganisir atau menunggu orang-orang yang akan memimpin mereka mencapai kesejatian bernegara.

Segelintir orang dari  bagian terkecil itua dalah mereka yang berupaya memastikan bahwa keadilan harus tegak berdiri di manapun mereka berada, mereka mengorganisir diri untuk bersetia  dengan tujuan-tujuan hidup sejatis ebagai komunitas yang berkesadaran  berbangsa dan bertanah air satu. Kesadaran ini, sudah lama hadir menggeliat dan hendak bangkit perlahan-lahan, mengundang seorang demi seorang, sekelompok demi kelompok, mencoba menata hidupnya secara lebih arif dengan dasar yang lebih kuat. Kesadaran ini hendak dituangkan kedalam sebuah sistem berkehidupan dalam kelompok yang kecil, sedikit demi sedikit, memulai dari yang praktis dan dikombinasi sedemikian rupa untuk menuju kesadaran baru, lalu menjadi sebuah agenda perjuangan baru, tata kelola agraria berkelanjutan yang sungguh-sungguh berkeadilan sosial.

Kita semua adalah segelintir orang itu...!!!


*(TulisaninisayapersembahkanuntukKegiatanMusyawarahBesarKomiteReformaAgraria Sumatera Selatan, Palembang 8-10 Desember 2019)
SelamatBerkongres.

Loading...

TerPopuler

http://anti-adblock.adnow.com/aadbAdnow.php?ids=416798,417241,466794